SOLUSI IDEOLOGIS UNTUK EKONOMI INDONESIA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar persoalan angka di pasar valuta asing, melainkan memiliki dampak nyata terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa depresiasi rupiah berpotensi memicu inflasi impor, meningkatkan biaya produksi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, serta mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan konsumsi.

 

Akibatnya, daya beli masyarakat tergerus karena pendapatan riil tidak bertambah secepat kenaikan harga barang dan jasa. Bahkan Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga acuannya pada Mei 2026 sebagai langkah mempertahankan stabilitas rupiah dan mengendalikan risiko inflasi. (Reuters, May 20, 20262:31 PM GMT+7Updated May 20, 2026)

 

Pernyataan bahwa pelemahan rupiah tidak memengaruhi rakyat perlu diuji dengan realitas di lapangan. Berbagai laporan menunjukkan bahwa sektor manufaktur mulai menghadapi kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor, sehingga ruang untuk menahan kenaikan harga semakin sempit. Kondisi ini berpotensi menekan penjualan, mengurangi aktivitas usaha, dan mendorong efisiensi tenaga kerja yang dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).

 

Di sisi lain, data Bank Dunia juga menunjukkan bahwa tantangan pasar kerja Indonesia masih cukup serius, ditandai dengan banyaknya pekerjaan berupah rendah dan penurunan upah riil dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, ketika rupiah melemah tajam, kelompok masyarakat berpendapatan tetap dan kelas menengah menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya melalui menurunnya daya beli, meningkatnya biaya hidup, dan semakin terbatasnya kesempatan kerja. (https://www.worldbank.org/ : Indonesia’s Economy Maintains Resilience Amid Global Uncertainty)

 

Penyebab Rupiah Melemah

 

Pertama, melemahnya rupiah tidak dapat dilepaskan dari persoalan fundamental ekonomi Indonesia yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor dan aliran modal asing. Meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, berbagai sektor strategis masih bergantung pada barang impor, mulai dari bahan baku industri, mesin produksi, teknologi, energi, hingga sebagian kebutuhan pangan tertentu seperti gandum dan kedelai.

Data dari Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa impor bahan baku dan barang modal masih mendominasi struktur impor nasional, menandakan bahwa sektor produksi dalam negeri belum sepenuhnya mandiri.

 

Kedua, ketergantungan terhadap investasi asing juga membuat nilai tukar rupiah rentan terhadap gejolak global. Dalam sistem ekonomi yang liberal kapitalistik, arus modal asing dapat masuk dengan cepat ketika prospek keuntungan tinggi, tetapi juga dapat keluar secara besar-besaran ketika terjadi ketidakpastian ekonomi atau kenaikan suku bunga di negara maju.

 

Ketika investor asing menarik dananya dari pasar saham maupun obligasi Indonesia, permintaan terhadap dolar meningkat karena modal yang keluar dikonversi ke mata uang asalnya.

 

Ketiga, persoalan utang negara yang terus meningkat turut menjadi faktor yang membebani stabilitas rupiah. Berdasarkan data resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, pemerintah menghadapi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang dalam jumlah yang sangat besar dalam beberapa tahun mendatang.

 

Sejumlah ekonom menyebut tahun 2026 sebagai periode yang berat karena jatuh tempo utang ribawi pemerintah mencapai sekitar Rp. 833,96 triliun. Kondisi ini sering disebut sebagai debt wall atau “tembok utang”, yaitu situasi ketika kewajiban pembayaran menumpuk dalam satu periode tertentu sehingga membutuhkan pembiayaan yang sangat besar.

 

Keempat, besarnya kebutuhan dana untuk membayar utang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap risiko ekonomi Indonesia. Meskipun pemerintah memiliki berbagai instrumen untuk mengelola utang, pasar keuangan tetap memperhatikan kemampuan fiskal negara dalam memenuhi kewajiban tersebut.

 

Jika investor menilai risiko meningkat, mereka cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dalam teori ekonomi internasional, kondisi ini dikenal sebagai meningkatnya country risk premium, yaitu tambahan risiko yang harus ditanggung negara berkembang dibandingkan negara maju.

 

Kelima, dominasi dolar Amerika Serikat dalam sistem keuangan global juga menjadi penyebab struktural melemahnya rupiah. Dolar masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional, cadangan devisa, transaksi komoditas, dan pembayaran utang luar negeri. Ketika Federal Reserve System menaikkan suku bunga acuannya, aset-aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.

 

Keenam, pelemahan rupiah pada akhirnya mencerminkan kombinasi antara faktor domestik dan global. Ketergantungan pada impor, tingginya kebutuhan pembiayaan utang, serta dominasi dolar dalam sistem ekonomi dunia menciptakan tekanan berlapis terhadap mata uang nasional. Penguatan sistem ekonomi agar berdaulat tidak cukup dilakukan melalui intervensi jangka pendek di pasar valuta asing, tetapi memerlukan perbaikan sistemik, struktural dan ideologis.

 

Berdaulat Dengan Syariat

 

Dalam perspektif Islam, berbagai krisis ekonomi dan hilangnya keberkahan yang menimpa negeri ini, pada hakikatnya tidak semata-mata disebabkan oleh faktor teknis ekonomis, melainkan faktor ideologis, yakni diterapkannya sistem ekononi kapitalisme sekuler yang menjauhi petunjuk dan hukum Allah SWT. Al-Qur'an menjelaskan bahwa keberkahan hidup sangat terkait dengan keimanan dan ketakwaan.

 

Hal ini sebagaimana firman Allah :  Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96)

 

Dengan penerapan sistem ekonomi kapitalisme sekuler dan meninggalkan syariat Allah, negeri ini telah melakukan kemaksiatan dan kekufuran sistemik, khususnya bidang ekonomi. Ketika negeri meninggalkan syariat Allah dan menggantinya dengan sistem yang bertentangan dengan hukum-Nya, berbagai bentuk kerusakan dan ketimpangan akan muncul.

 

Hal ini sebagaimana peringatan Allah SWT : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar Rum : 41)

 

Diantara sumber persoalan ekonomi modern adalah dominasi sistem ribawi yang menjadi fondasi kapitalisme global pimpinan AS. Sayangnya, Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia telah menjerumuskan diri dalam ekonomi kapitalisme yang sarat dengan transaksi ribawi ini dengan menjadikan AS sebagai rujukan. Padahal Islam secara tegas mengharamkan riba karena menimbulkan ketidakadilan dan eksploitasi.

 

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS Al Baqarah : 275).  

 

Karena itu, salah satu langkah praktis yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah melepaskan diri dari ketergantungan pada sistem utang berbasis bunga serta membangun sistem keuangan yang berlandaskan syariah. Dengan syariah, bukan hanya akan melahirkan keberkahan, tapi juga akan mewujudkan kedaulatan ekonomi negeri ini.

 

Tingginya tekanan rupiah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS adalah karena kesalahan mengelola sistem ekonomi negeri ini, tidak berhubungan dengan keyakinan atas rejeki Allah. Umat Islam mesti memisahkan antara kesalahan sistem dengan keyakinan rejeki Allah. Kesalahan sistem adalah masalah kemaksiatan, sementara rejeki Allah adalah masalah keimanan.

 

Selain meninggalkan ekonomi ribawi, Islam mewujudkan kedaulatan ekonomi dengan menyembalikan pengelolaan sumber daya alam oleh negara dan diperuntukkan untuk kepentingan Kesejahteraan rakyat. Dalam Islam haram hukumnya privatisasi SDA, apalagi menyerahkan pengelolaan SDA kepada pihak asing atau aseng.

 

Dalam hadis riwayat Sunan Abu Dawud dan Sunan Ibn Majah, Rasulullah SAW bersabda: Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.

 

Sistem ekonomi kapitalisme sekuler liberal telah merampok sumber daya alam milik rakyat di negeri ini dan menjadikan ekonomi hanya dikuasai oleh segelintir koorporasi dan oligarki rakus dan menyebabkan kemiskinan strukutral yang tidak pernah ada ujung pangkalnya.

 

Padahal Allah telah melarang dalam firmanNya :  …supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS Al Hasyr : 7)

 

Untuk mewujudkan keberkahan dan kedaulatan ekonomi di negeri ini, baiknya beralih pada mata uang dinar dan dirham sebagai alternatif terhadap dominasi mata uang fiat internasional yang berpusat pada dolar AS. Secara historis, dinar emas dan dirham perak pernah menjadi alat tukar yang digunakan selama berabad-abad dalam negeri-negeri Islam dibawah daulah khilafah Islam dibawah kepemimpinan seorang khalifah yang menerapkan Islam secara kaffah.

 

Rasulullah SAW bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Karena itu , kedaulatan ekonomi tak mungkin tercapai dengan kapitalisme sekuler liberal, tapi hanya dengan syariat Islam dalam naungan khilafah Islamiyyah.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1377/13/06/26 : 16.02 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad