KETIKA NEGARA TAK PEDULI LITERASI



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

"Iqra'...""Bacalah!" Itulah wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad (QS. Al-'Alaq: 1–5). Menariknya, Islam tidak memulai peradabannya dengan perintah berperang, berdagang, atau membangun kekuatan ekonomi, melainkan dengan perintah membaca.

 

Hal ini menunjukkan bahwa literasi merupakan fondasi utama lahirnya peradaban. Bangsa yang membaca akan melahirkan ilmu; ilmu melahirkan inovasi; inovasi melahirkan kemajuan. Sebaliknya, melemahnya budaya literasi akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia, daya saing bangsa, bahkan kualitas demokrasi.

 

Dalam konteks tersebut, informasi mengenai penurunan anggaran Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada tahun 2026 menjadi perhatian yang layak dikaji. Kepala Perpusnas, Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa pemotongan anggaran yang cukup besar berdampak pada sejumlah program literasi, termasuk distribusi bantuan buku ke berbagai daerah.

 

Anggaran Perpusnas tahun 2026 tercatat sekitar Rp377,9 miliar, lebih rendah dibandingkan pagu tahun sebelumnya yang sebesar Rp721 miliar sebelum dilakukan efisiensi anggaran. Menurut penjelasan tersebut, keterbatasan anggaran berpotensi memengaruhi pelaksanaan berbagai program penguatan literasi nasional.

 

Persoalan ini tidak semata-mata menyangkut besar kecilnya angka dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lebih dari itu, ia mengundang pertanyaan mendasar : sejauh mana literasi ditempatkan sebagai prioritas pembangunan bangsa? Sebab, sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil melakukan lompatan kemajuan hampir selalu diawali dengan investasi besar pada pendidikan, perpustakaan, riset, dan budaya membaca.

 

Literasi Adalah Fondasi Peradaban

 

Dalam kajian pembangunan manusia, literasi tidak lagi dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, mencipta, berkomunikasi, dan menggunakan informasi untuk berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan masyarakat. Literasi menjadi prasyarat bagi pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) dan pembangunan berkelanjutan.

 

Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai hasil penelitian internasional. Organisation for Economic Co-operation and Development melalui berbagai publikasi Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa kemampuan literasi memiliki hubungan yang kuat dengan kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang (OECD, 2023). Dengan kata lain, investasi pada literasi merupakan investasi terhadap masa depan bangsa.

 

Karena itu, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia merupakan infrastruktur intelektual sebuah negara. Ketika perpustakaan berkembang, akses masyarakat terhadap ilmu semakin luas. Sebaliknya, ketika ekosistem perpustakaan melemah, kesempatan masyarakat memperoleh pengetahuan juga berpotensi ikut berkurang.

 

Islam Memulai Peradaban dengan "Iqra'"

 

Islam memiliki hubungan yang sangat erat dengan literasi. Wahyu pertama yang diterima Rasulullah berbunyi: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq [96]: 1–5)

 

Ayat tersebut mengandung tiga pilar utama peradaban Islam, yaitu membaca (iqra'), menulis (al-qalam), dan mengembangkan ilmu pengetahuan ('allama al-insān). Ketiganya menjadi fondasi lahirnya tradisi ilmiah Islam yang kemudian melahirkan pusat-pusat ilmu seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad, perpustakaan-perpustakaan besar di Andalusia, dan ribuan karya ilmiah yang memengaruhi perkembangan sains dunia.

 

Allah SWT juga berfirman: "Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9). Demikian pula firman-Nya: "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan ilmu merupakan bagian integral dari pembangunan masyarakat beriman.

 

Dalam perspektif kebijakan publik, pengembangan literasi bukan hanya tugas keluarga atau sekolah. Negara memiliki tanggung jawab konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Amanat tersebut kemudian dijabarkan melalui berbagai kebijakan di bidang pendidikan, perpustakaan, dan pengembangan budaya baca.

 

Dalam perspektif Islam, tanggung jawab negara terhadap ilmu pengetahuan juga memiliki dasar normatif. Rasulullah bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

 

Hadis tersebut menegaskan bahwa pemegang amanah kekuasaan memiliki tanggung jawab memastikan kemaslahatan masyarakat, termasuk menyediakan akses terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan.

 

Namun demikian, perlu diingat bahwa kebijakan anggaran negara selalu melibatkan proses penentuan prioritas di tengah keterbatasan fiskal. Karena itu, pembahasan mengenai besaran anggaran literasi seyogianya dipahami sebagai bagian dari diskusi kebijakan publik yang terbuka dan berbasis data.

 

Tantangan utamanya bukan hanya besaran anggaran, tetapi juga efektivitas pengelolaannya agar benar-benar memperluas akses masyarakat terhadap bacaan berkualitas.

 

Bangsa Besar Dibangun oleh Budaya Membaca

 

Sejarah memperlihatkan bahwa negara-negara dengan tingkat inovasi tinggi umumnya memiliki budaya membaca yang kuat, jaringan perpustakaan yang luas, dan investasi berkelanjutan pada riset. Perpustakaan modern tidak lagi sekadar ruang penyimpanan koleksi, tetapi menjadi pusat pembelajaran masyarakat, ruang kolaborasi, inkubator kreativitas, dan simpul transformasi digital.

 

Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), kemampuan membaca justru menjadi semakin penting. Informasi memang tersedia dalam jumlah yang melimpah, tetapi tanpa kemampuan literasi yang baik, masyarakat akan kesulitan membedakan informasi yang valid dari hoaks, propaganda, maupun disinformasi. Dengan demikian, literasi bukan hanya persoalan akademik, melainkan juga persoalan ketahanan sosial dan demokrasi.

 

Literasi Adalah Investasi Peradaban

 

Sejarah Islam memberikan pelajaran yang sangat berharga. Pada masa keemasan peradaban Islam, para khalifah, ulama, ilmuwan, dan dermawan berlomba-lomba membangun perpustakaan, menerjemahkan buku, mendanai penelitian, dan memuliakan para pencari ilmu. Investasi terbesar mereka bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi pada pembangunan manusia.

 

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kemajuan suatu peradaban sangat dipengaruhi oleh kualitas ilmu pengetahuan, pendidikan, dan tata kelola negara. Ketika tradisi ilmu melemah, daya saing masyarakat pun ikut menurun. Pandangan tersebut masih relevan hingga kini, ketika ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy) menjadi penentu utama daya saing bangsa.

 

Pada akhirnya, penguatan literasi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Keluarga, sekolah, perguruan tinggi, pesantren, organisasi masyarakat, dunia usaha, media massa, dan komunitas literasi memiliki peran yang saling melengkapi.

 

Namun demikian, negara tetap memegang posisi strategis sebagai penyedia kebijakan, infrastruktur, dan dukungan pembiayaan agar seluruh ekosistem tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.

 

Literasi adalah investasi yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam satu atau dua tahun. Akan tetapi, dalam jangka panjang, ia menentukan kualitas sumber daya manusia, produktivitas ekonomi, kekuatan inovasi, serta ketahanan moral suatu bangsa.

 

Karena itu, setiap kebijakan yang menyangkut pendidikan, perpustakaan, dan budaya membaca layak dipertimbangkan secara cermat dengan menimbang dampak jangka panjangnya terhadap pembangunan nasional.

 

Perintah pertama Al-Qur'an adalah "Iqra'". Pesan ini mengingatkan bahwa kebangkitan sebuah bangsa selalu dimulai dari budaya membaca, belajar, dan menghargai ilmu. Apabila seluruh elemen bangsa, termasuk negara terus memperkuat ekosistem literasi, maka fondasi menuju Indonesia yang maju akan semakin kokoh.

 

Sebaliknya, apabila literasi kehilangan perhatian sebagai prioritas pembangunan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar jumlah buku yang didistribusikan, melainkan kualitas generasi yang akan memimpin masa depan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur'an al-Karim.

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education. OECD Publishing.

Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Sahih al-Bukhari.

Sahih Muslim.

UNESCO. (2005). Education for All Global Monitoring Report 2006: Literacy for Life. UNESCO Publishing.

UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education. UNESCO Publishing.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1401/20/07/26 : 18.42 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad