DARI LAPANGAN HIJAU PIALA DUNIA MENUJU MEMORI ANDALUSIA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Piala Dunia FIFA 2026 bukan hanya menyajikan drama, rivalitas, dan pesta olahraga terbesar di dunia. Lebih dari itu, turnamen ini kembali menunjukkan bahwa sepak bola tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia menjadi panggung tempat identitas, sejarah, politik, dan solidaritas kemanusiaan saling berkelindan.

 

Salah satu momen yang menarik perhatian dunia terjadi ketika warga Palestina di Jalur Gaza bersorak merayakan kemenangan Spanyol atas Argentina pada final Piala Dunia 2026.

 

Di berbagai kafe sederhana di kamp pengungsi Nuseirat, mereka berkumpul untuk menyaksikan pertandingan, bukan semata-mata karena kecintaan terhadap sepak bola, tetapi sebagai ungkapan penghormatan kepada Spanyol yang selama beberapa tahun terakhir dinilai konsisten menyuarakan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina.

 

Seorang warga Gaza, Numan Abdullah, sebagaimana dikutip Anadolu Agency dan diberitakan Kompas.com, menyatakan bahwa mereka mendukung Spanyol karena negara tersebut telah membela perjuangan Palestina selama bertahun-tahun.

 

Pemandangan tersebut mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar euforia kemenangan sebuah tim nasional. Di tengah blokade, perang, dan penderitaan yang berkepanjangan, pertandingan sepak bola menjadi ruang singkat bagi rakyat Palestina untuk merasakan kegembiraan.

 

Namun, dukungan terhadap Spanyol juga menyimpan dimensi historis yang menarik. Bagi sebagian umat Islam, nama Spanyol bukan hanya mengingatkan pada negara Eropa modern, melainkan juga menghidupkan kembali memori tentang Al-Andalus, salah satu puncak kejayaan peradaban Islam yang berlangsung selama hampir delapan abad.

 

Fenomena ini memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi media diplomasi publik (public diplomacy) sekaligus membangun solidaritas lintas bangsa. Joseph Nye (2004) menjelaskan bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh militer atau ekonomi (hard power), tetapi juga oleh kemampuan membangun simpati melalui budaya, nilai, dan kebijakan luar negeri (soft power).

 

Dalam konteks ini, dukungan sebagian masyarakat Palestina terhadap Spanyol mencerminkan bagaimana kebijakan politik luar negeri dapat membentuk citra positif suatu negara bahkan dalam arena olahraga.

 

Palestina: Luka Kemanusiaan yang Belum Sembuh

 

Palestina hingga kini masih menjadi salah satu wilayah dengan krisis kemanusiaan paling panjang di dunia. Berbagai laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA), UNRWA, dan Amnesty International menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan telah menyebabkan ribuan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, pengungsian massal, serta krisis pangan dan kesehatan. Di tengah situasi tersebut, kehidupan normal hampir menjadi kemewahan yang sulit dirasakan.

 

Karena itu, ketika warga Gaza berkumpul menyaksikan final Piala Dunia, sesungguhnya mereka sedang mencari jeda dari trauma perang. Sepak bola menjadi ruang psikologis untuk mengingat bahwa mereka masih memiliki harapan dan identitas sebagai bagian dari masyarakat dunia.

 

Islam mengajarkan pentingnya solidaritas terhadap kaum yang tertindas. Allah Swt. berfirman: "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim'." (QS. An-Nisā' [4]: 75).

 

Ayat tersebut menunjukkan bahwa membela kaum tertindas merupakan bagian dari tanggung jawab moral umat Islam. Solidaritas terhadap Palestina bukan didasarkan pada sentimen etnis semata, melainkan pada nilai keadilan dan kemanusiaan yang diajarkan Islam.

 

Rasulullah juga bersabda: "Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. al-Bukhari No. 6011; Muslim No. 2586).

 

Hadis ini menggambarkan bahwa penderitaan Palestina bukanlah persoalan lokal, melainkan bagian dari kepedulian kolektif umat Islam.

 

Spanyol dan Memori Al-Andalus

 

Dukungan warga Palestina kepada Spanyol juga membangkitkan memori sejarah yang sangat penting dalam peradaban Islam, yaitu Al-Andalus. Wilayah yang kini menjadi bagian dari Spanyol dan Portugal pernah berada di bawah pemerintahan Islam sejak tahun 711 M hingga jatuhnya Granada pada tahun 1492 M. Selama hampir delapan abad, Al-Andalus berkembang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan, ekonomi, seni, arsitektur, dan toleransi yang paling maju di dunia.

 

Masuknya Islam ke Semenanjung Iberia dipimpin oleh Tariq bin Ziyad, seorang panglima Muslim yang menyeberangi Selat Gibraltar pada tahun 711 M atas perintah Musa bin Nushair. Dalam waktu relatif singkat, pemerintahan Islam berhasil membangun masyarakat yang maju melalui pengembangan ilmu pengetahuan, perdagangan, pertanian, teknologi irigasi, kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat.

 

Kota-kota seperti Cordoba (Qurthubah), Seville (Isybiliyah), Granada (Gharnathah), dan Toledo (Thulaithulah) menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Sejarawan Philip K. Hitti (1970) menyebut Cordoba sebagai kota paling maju di Eropa pada abad ke-10 dengan perpustakaan yang menyimpan ratusan ribu manuskrip, jalan-jalan yang telah diterangi lampu, sistem sanitasi yang baik, serta universitas yang menjadi tujuan para pelajar dari berbagai negeri.

 

Marshall G. S. Hodgson (1974) juga menegaskan bahwa peradaban Islam memainkan peran penting dalam mentransmisikan ilmu pengetahuan Yunani, Persia, dan India ke Eropa. Banyak karya ilmiah yang kemudian menjadi fondasi kebangkitan Renaissance diterjemahkan melalui pusat-pusat ilmu di Al-Andalus.

 

Islam Membangun Peradaban Berbasis Ilmu

 

Kejayaan Al-Andalus tidak lahir secara kebetulan. Fondasinya adalah penghormatan Islam terhadap ilmu pengetahuan. Allah Swt. berfirman: "Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar [39]: 9).

 

Allah juga berfirman: "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujādilah [58]: 11).

 

Ayat-ayat tersebut menjadi dasar epistemologi Islam bahwa ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan. Karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa kejayaan Islam lahir tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Rusyd (Averroes), Az-Zahrawi, Ibnu Hazm, Al-Zarqali, hingga Abbas Ibn Firnas, yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan kedokteran, filsafat, astronomi, teknik, dan ilmu pengetahuan dunia.

 

Rasulullah bersabda: "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim No. 2699). Hadis ini menunjukkan bahwa pencarian ilmu merupakan aktivitas yang memiliki dimensi spiritual sekaligus peradaban.

 

Al-Andalus: Bukti Islam dan Toleransi

 

Salah satu keistimewaan Al-Andalus adalah kemampuannya membangun masyarakat multikultural. Sejarawan María Rosa Menocal (2002) menjelaskan bahwa masyarakat Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dalam banyak aspek kehidupan sosial dan intelektual. Walaupun tidak selalu bebas dari konflik, Al-Andalus menunjukkan bahwa peradaban Islam mampu menciptakan ruang dialog, pertukaran ilmu, dan kehidupan bersama yang relatif maju dibandingkan banyak wilayah Eropa pada masa itu.

 

Hal ini sejalan dengan prinsip Al-Qur'an: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." (QS. Al-Hujurāt [49]: 13).

 

Ayat tersebut menegaskan bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling membenci, melainkan menjadi sarana membangun kerja sama dalam kebaikan.

 

Islam juga memberikan ruang bagi aktivitas olahraga selama tidak melalaikan kewajiban kepada Allah dan tidak disertai kemaksiatan. Rasulullah mendorong umatnya memiliki fisik yang kuat.

 

Beliau bersabda: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim No. 2664).

 

Karena itu, olahraga pada dasarnya merupakan aktivitas yang mubah, bahkan dapat bernilai ibadah apabila menjadi sarana menjaga kesehatan, mempererat ukhuwah, dan membangun karakter.

 

Namun demikian, Islam juga mengingatkan agar olahraga tidak berubah menjadi sarana fanatisme, perjudian, permusuhan, atau eksploitasi ekonomi. Nilai sportivitas harus tetap menjadi ruh setiap pertandingan.

 

Pelajaran bagi Dunia Islam

 

Peristiwa dukungan warga Palestina kepada Spanyol sesungguhnya mengandung pelajaran yang sangat penting bagi dunia Islam. Pertama, simpati internasional lahir melalui keberanian membela nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Kedua, kejayaan suatu bangsa tidak hanya diukur dari prestasi olahraga, tetapi dari kontribusinya terhadap peradaban manusia. Ketiga, sejarah Al-Andalus mengajarkan bahwa ketika Islam menjadikan tauhid, ilmu pengetahuan, keadilan, dan akhlak sebagai fondasi kehidupan, lahirlah peradaban yang dihormati dunia.

 

Sayangnya, banyak negeri Muslim saat ini justru menghadapi tantangan berupa konflik internal, ketertinggalan ilmu pengetahuan, ketergantungan teknologi, dan lemahnya tata kelola pemerintahan. Padahal Al-Qur'an telah mengingatkan: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd [13]: 11).

 

Ayat ini menegaskan bahwa kebangkitan umat tidak akan terjadi tanpa perubahan mendasar dalam kualitas iman, ilmu, kepemimpinan, dan sistem kehidupan.

 

Kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 menjadi lebih dari sekadar catatan olahraga. Di mata rakyat Palestina, kemenangan itu menghadirkan secercah kegembiraan di tengah luka peperangan sekaligus simbol penghargaan terhadap negara yang dianggap menunjukkan solidaritas kemanusiaan.

 

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut juga membangkitkan memori tentang Al-Andalus, sebuah babak gemilang ketika Islam memimpin dunia melalui ilmu pengetahuan, keadilan, toleransi, dan peradaban.

 

Sejarah menunjukkan bahwa kejayaan Islam tidak dibangun di atas fanatisme sempit, tetapi di atas fondasi tauhid, ilmu, akhlak, dan kepemimpinan yang amanah. Oleh karena itu, pelajaran terbesar dari Piala Dunia kali ini bukanlah siapa yang mengangkat trofi, melainkan bagaimana olahraga mengingatkan kita bahwa sebuah bangsa akan dikenang bukan hanya karena kemenangan di lapangan hijau, tetapi karena kontribusinya terhadap kemanusiaan dan peradaban.

 

Referensi

 

Al-Bukhari, M. ibn Isma'il. (2002). Sahih al-Bukhari. Dar Tuq al-Najah.

Al-Qur'an al-Karim.

Hitti, P. K. (1970). History of the Arabs (10th ed.). Macmillan.

Hodgson, M. G. S. (1974). The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization (Vol. 2). University of Chicago Press.

Kompas.com. (2026, Juli 20). Warga Palestina Rayakan Kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026.

Menocal, M. R. (2002). The Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain. Little, Brown and Company.

Muslim ibn al-Hajjaj. (2006). Sahih Muslim. Dar Taybah.

Nye, J. S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. PublicAffairs.

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs. (2025). Occupied Palestinian Territory Humanitarian Situation Report. UNOCHA.

United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East. (2025). Annual Operational Report. UNRWA.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan,No.1400/20/07/26 : 15.32 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

1 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
  1. Memori akan indahnya Islam akan senantiasa melambai-lambai dan tidak akan hilang dibelahan dunia yang dahulu kala pernah menjadi bagian setiap langkah jiwa-jiwa penduduk disana

    BalasHapus

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad