MENEMUKAN RELASI ANTARA FISIKA KUANTUM DAN EKSISTENSI TUHAN



 

Oleh : Ahmad Sastra  

 

Fisika kuantum pasca fisika klasik Newton adalah salah satu topik paling ramai diperdebatkan sejak 100 tahun terakhir. Termasuk yang menjadi perdebatan fundamental adalah apakah fisika kuantum secara saintifik berkorelasi dengan eksistensi Tuhan.  Singkatnya, fisika kuantum tidak membuktikan dan tidak membantah Tuhan.

 

Fisika kuantum merupakan studi tentang perilaku materi dan energi pada tingkat molekuler, atom, nuklir, dan juga tingkat mikroskopis, dan bahkan lebih kecil lagi. Kuantum adalah terjemahan langsung dari “quantum” dari bahasa latin yang berarti “berapa banyak”.

 

Sementara mekanika kuantum adalah cabang ilmu fisika yang bisa memprediksi dengan sangat akurat fenomena yang melibatkan benda-benda berukuran sangat kecil, misalnya perilaku atom dan unsur pembentuknya.

 

Cara kerja alam di level kuantum membuat banyak orang, ilmuwan dan filsuf, kembali bertanya tentang "siapa yang menjalankan semua ini". Albert Einstein mengatakan bahwa “Tuhan tidak sedang bermain dadu”. Tulisan ini sebenarnya sedang mengkaji sains dengan pendekatan filsafat, khususnya pemikiran tentang rasionalitas, sesuai bidang keilmuwan penulis.  

 

Biar jernih kita bedah 3 hal : Fakta kuantumnya, lalu 3 tafsir besarnya, lalu batasannya. Ada 3 penemuan kuantum yang sering dihubungkan ke teologi:

 

Pertama, Prinsip Ketidakpastian Heisenberg.   Di level atom, kita tidak bisa tahu posisi dan kecepatan partikel secara pasti bersamaan. Alam bersifat probabilistik, bukan deterministik.  Dulu Laplace bilang: "Kalau Tuhan tahu semua kondisi awal, Dia bisa hitung semua masa depan". Kuantum bilang: "Tidak bisa. Masa depan memang terbuka secara peluang".

 

Kedua, Efek Pengamat / Observer Effect. Eksperimen celah ganda: elektron "memutuskan" jadi gelombang atau partikel tergantung apakah kita mengukurnya. Seolah realitas "menjadi nyata" saat diamati. Ini memunculkan pertanyaan: Apakah kesadaran ikut menciptakan realitas?

 

Ketiga, Keterikatan Kuantum / Entanglement. Dua partikel bisa "terkait" walau terpisah miliaran km. Ubah 1, satunya langsung berubah. Einstein menyebutnya "aksi menyeramkan dari jarak jauh". Ini menantang ide ruang, waktu, dan sebab-akibat klasik.

 

Bagaimana Orang Menghubungkannya ke Tuhan ?. Interpretasi pertama, celah untuk Tuhan yang didasari oleh argumen theistik.  Digunakan sebagian teolog dan ilmuwan percaya.  Logikanya adalah (1) alam klasik deterministik itu tidak butuh "penjaga". Jalan sendiri seperti jam. (2) Alam kuantum probabilistic plus butuh pengamat, maka ada ruang bagi Tuhan untuk "menyelenggarakan" tanpa melanggar hukum alam.

 

(3) Fine-tuning konstanta alam yang artinya nilai konstanta fisika pas banget untuk kehidupan. Di level kuantum, perubahan kecil saja alam runtuh. Bagi mereka ini tanda desain. Gagasan ini dimotori oleh John Polkinghorne, fisikawan sekaligus pendeta Anglikan. Dia bilang kuantum menunjukkan alam "terbuka" dan butuh Tuhan sebagai fondasi.

 

Interpretasi kedua, tidak perlu Tuhan yang didasarkan oleh argumen naturalistik.  Digunakan sebagian ilmuwan ateis.  Logika adalah : (1) Probabilistik bukan berarti acak tanpa hukum. Ada persamaan Schrodinger yang sangat presisi. (2) "Pengamat" tidak harus manusia/sadar. Alat ukur saja sudah cukup. Jadi tidak perlu "Kesadaran Kosmik".

 

(3) Multiverse, dimana semua kemungkinan terjadi di alam semesta lain. Jadi kita hanya ada di 1 alam semesta yang kebetulan cocok. Tidak perlu desainer. Gagasan ini dipelopori oleh Stephen Hawking, Lawrence Krauss. Krauss nulis buku A Universe from Nothing dan bilang fluktuasi kuantum bisa menciptakan alam dari "tidak ada".

 

Interpretasi ketiga, Tuhan bukan di dalam sistem yang didasari oleh argumen filosofis.  Ini posisi mayoritas filsuf agama.  Logikanya adalah bahwa sains menjawab "bagaimana" alam bekerja. Agama menjawab "mengapa" ada alam dan "dari mana" hukum itu berasal.   Fisika kuantum menjelaskan aturan catur.

 

Tapi tidak menjelaskan siapa yang menciptakan papan catur dan aturannya. Jadi kuantum dan Tuhan berada di level pertanyaan berbeda. Tidak saling tabrakan. Gagasan ini dipelopori oleh Thomas Aquinas versi modern, Al-Ghazali dalam konteks Islam. Dalam Islam, konsep sunnatullah sama dengan hukum alam, dan iradah yang artinya kehendak Tuhan. Keduanya jalan bareng.

 

Para ilmuwan barat menegaskan beberapa hal. Kuantum bukan bukti Tuhan. Sains tidak bisa membuktikan entitas metafisik. Kuantum juga bukan bukti tidak ada Tuhan. Ketidak-tahuan kita bukan bukti ketiadaan. Hati-hati "Quantum Mysticism". Banyak buku self-help pakai istilah "energi kuantum", "manifestasi kuantum" tanpa dasar ilmiah. Itu penyalahgunaan istilah. Fisikawan Niels Bohr pernah bilang: "Barangsiapa tidak terkejut dengan teori kuantum, berarti dia tidak memahaminya". Tapi terkejut tidak sama dengan langsung loncat ke kesimpulan teologis.

 

Rasionalitasnya Kuantum tentang Eksistensi Tuhan

 

Premis dasarnya adalah dari keteraturan ke pengatur. Logikanya sederhana dan sudah dipakai sejak Aristoteles, Al-Ghazali dan Leibniz.

 

Premis 1: Di alam kita menemukan keteraturan yang sangat presisi. Contoh kuantum: Persamaan Schrodinger, konstanta Planck $h = 6.626 \times 10^{-34} Js$, spin elektron, hukum kekekalan energi. Semua jalan dengan presisi 10 desimal. Premis 2 : Keteraturan yang kompleks + presisi + bertujuan, secara pengalaman kita, selalu berasal dari kecerdasan. Contoh: Kode komputer, DNA, jam tangan. Kita tidak pernah melihat kode sekompleks DNA "kebetulan" muncul.

 

Kesimpulan : Maka keteraturan alam, termasuk hukum-hukum kuantum, paling rasional disimpulkan berasal dari "Pengatur" yang cerdas. Fisikawan Paul Dirac pernah bilang: "Tuhan adalah matematikawan yang sangat hebat". Dia kaget karena persamaan fisika bisa sedeskriptif itu.

 

Bukti "keteraturan" di level kuantum yang sering dijadikan pijakan. Fenomena kuantum kenapa disebut "Teratur". Pertanyaan Filosofisnya. (1) Konstanta Fundamental, 26 konstanta seperti $h$, $c$, $G$ kalau meleset 1% saja atom tidak bisa terbentuk. Ini "fine-tuning" kenapa angkanya "pas" untuk kehidupan? Kebetulan?.

 

(2) Hukum dan Simetri Alam taat pada hukum kekekalan, simetri gauge, persamaan. Rusak 1, semua runtuh. Dari mana "hukum" ini berasal? Hukum butuh pembuat hukum. (3) Struktur Probabilistik, walau acak, peluangnya tetap mengikuti distribusi yang teratur.

 

Tidak pernah kacau total. Siapa yang menetapkan "aturan main" untuk yang acak ini?

Inilah yang bikin Einstein tidak nyaman: "Tuhan tidak bermain dadu". Maksudnya: di balik probabilitas pasti ada keteraturan yang lebih dalam. Dalam pemikiran Taquiddin An Nabhani, setiap benda memiliki khosiah yang Allah ciptakan.

 

Jawaban Filosofis Terhadap Premis Ini. Pertama, jawaban teistik : "Ya, ada Pengatur". Digunakan dalam teologi Islam, Kristen, Yahudi.  Nama Tuhan dalam Islam: Al-Mudabbir artinya Yang Maha Mengatur, Al-Hakim artinya Yang Maha Bijaksana.   Kuantum dilihat sebagai "cara" Tuhan mengatur, bukan "pengganti" Tuhan.   Ibarat: Kita lihat aplikasi berjalan rapi di HP. Kita tahu ada Programmer. Kode kuantum adalah bahasa pemrograman alam.

 

Jawaban Naturalis : "Keteraturan muncul sendiri". (1) Multiverse: Ada triliunan alam semesta dengan hukum berbeda. Kita kebetulan ada di alam yang "pas". (2) Emergence : Keteraturan muncul dari kekacauan lewat seleksi alam dan waktu miliaran tahun. (3) Platonisme Matematika : Matematika/hukum memang sudah "ada" secara abadi. Tidak perlu pencipta.

 

Jawaban Agnostik/Filosofis : "Keteraturan itu real, tapi penyebabnya di luar jangkauan sains". Sains bisa deskripsikan "bagaimana" hukum bekerja. Tapi tidak bisa jawab "mengapa ada hukum" atau "mengapa hukumnya matematika". Itu wilayah metafisika.

 

Ada kritik terhadap argumen "ada pengatur". Pertama, Fallasi Analogi. Jam tangan punya pembuat karena kita tahu jam dibuat manusia. Tapi kita belum pernah lihat "alam semesta lain dibuat" untuk disimpulkan polanya sama. Kedua, Siapa Pengatur Pengaturnya?. Kalau semua yang teratur butuh pengatur, lalu siapa yang mengatur Pengatur? Jawaban teistik: Pengatur itu "Wajibul Wujud" - tidak butuh sebab.

 

Dalam logika, argumen "keteraturan, maka ada pengatur" itu induktif, bukan deduktif. Artinya: paling masuk akal, bukan kepastian matematika. Fisika kuantum tidak membuktikan Tuhan. Tapi ia memperkuat 1 hal: Alam bukan kacau.  Bahkan di level paling acak sekalipun, ada persamaan, ada peluang, ada hukum. Dan keteraturan itu yang membuat sains itu sendiri mungkin.

 

Jadi bagi banyak filsuf dan ilmuwan, kuantum tidak menjawab "Ada Tuhan atau tidak". Tapi kuantum membuat pertanyaan "Kalau tidak ada Pengatur, dari mana semua keteraturan se-presisi ini?" jadi semakin sulit diabaikan.

 

Perspektif Al Qur’an

 

Ada beberapa ayat yang secara langsung menyebut Allah Maha Mengetahui yang ghaib, sampai hal sekecil "basah, kering, dan daun yang jatuh". Ayat-ayat ini tentu saja sangat relevan dengan fenomena kuantum dan semua keteraturannya. Sebagaimana firmanNya :

 

Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Dan tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Al An’am : 59)

 

Ayat ini puncak dari sifat Al-'Alim dan Al-Khabir. Bahkan hal yang manusia anggap "acak" seperti daun jatuh, biji di tanah, tetesan air, sudah Allah catat dan ketahui.

 

Allah juga berfirman : Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (QS Luqman : 34)

 

Di lain ayat, Allah berfirman : Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS. At-Taghabun: 4)

 

Korelasi dengan "Keteraturan ada karena ada yang Mengatur" Berdasarkan ayat-ayat di atas jadi dasar rasionalitas Islam. Pertama, uasnya kemahatahuan Allah. Tidak ada "zona abu-abu" bagi Allah. Dari galaksi sampai daun jatuh. Kedua, detailnya catatan Allah. Tertulis dalam Kitab yang nyata menunjukkan bahwa semua ada sistem, ada hukum, ada catatan. Itulah bentuk keteraturan.

 

Ketiga, penolakan acak. Kalau daun jatuh saja diketahui, berarti alam ini tidak berjalan acak. Ada yang mencatat, mengatur, dan menjaga. Ibnu Katsir menafsirkan QS Al-An'am 59: "Ini dalil bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik yang kecil maupun besar, yang tampak maupun tersembunyi".

 

Referensi

 

Carroll, S. (2019). Something deeply hidden: Quantum worlds and the emergence of spacetime. Dutton.

Dance of the photons: From Einstein to quantum teleportation. Farrar, Straus and Giroux.

Feynman, R. P., Leighton, R. B., & Sands, M. (2011). The Feynman lectures on physics, Vol. 3: Quantum mechanics. Basic Books.

Greene, B. (2004). The fabric of the cosmos: Space, time, and the texture of reality. Knopf.

Griffiths, D. J. (2018). Introduction to quantum mechanics (3rd ed.). Cambridge University Press.

Krauss, L. M. (2012). A universe from nothing: Why there is something rather than nothing. Free Press.

Sakurai, J. J., & Napolitano, J. (2020). Modern quantum mechanics (3rd ed.). Cambridge University Press.

Tipler, P. A., & Llewellyn, R. A. (2019). Modern physics (6th ed.). W.H. Freeman.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1403/26/07/26 : 14.38 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad