Oleh : Ahmad Sastra
Abad ke-21
ditandai oleh revolusi digital, kecerdasan buatan, media sosial, dan ledakan
informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Manusia modern dapat mengakses
jutaan buku, jurnal, video, dan pengetahuan hanya melalui telepon genggam.
Namun di balik kemajuan tersebut, dunia juga menghadapi paradoks yang menarik,
yakni kebingungan intelektual.
Kemudahan
memperoleh informasi tidak selalu diikuti oleh meningkatnya kepastian makna
hidup. Sebaliknya, berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya jumlah
masyarakat yang memilih tidak berafiliasi dengan agama (religiously
unaffiliated), termasuk mereka yang mengidentifikasi diri sebagai agnostik,
ateis, atau "tidak beragama".
Fenomena ini
banyak dikaji sebagai bagian dari dinamika masyarakat postmodern, yaitu
masyarakat yang cenderung mempertanyakan narasi besar, lebih menerima
pluralitas perspektif, dan sering kali bersikap skeptis terhadap klaim
kebenaran yang bersifat universal.
Jean-François
Lyotard menyebut kondisi ini sebagai incredulity toward metanarratives,
yakni berkurangnya kepercayaan terhadap narasi besar yang selama berabad-abad
menjadi fondasi kehidupan manusia.
Dalam
konteks ini, agama di sebagian masyarakat mengalami perubahan posisi: bagi
sebagian orang tetap menjadi sumber makna, sedangkan bagi yang lain menjadi
salah satu pilihan identitas di antara banyak alternatif.
Postmodernisme dan Pergeseran Identitas Keagamaan
Postmodernisme
tidak identik dengan penolakan terhadap agama, tetapi ia mendorong masyarakat
menjadi lebih kritis terhadap otoritas, tradisi, dan institusi. Relativisme
nilai berkembang seiring dengan keyakinan bahwa kebenaran dapat dipahami dari
berbagai sudut pandang.
Sebagian
individu memilih tidak lagi mengidentifikasi diri dengan agama tertentu. Di
banyak negara Eropa Barat dan Amerika Utara, survei menunjukkan adanya
peningkatan kelompok yang menyebut dirinya "atheist",
"agnostic", atau "nothing in particular".
Pew Research
Center melaporkan bahwa antara tahun 2010 hingga 2020 jumlah penduduk dunia
yang tidak memiliki afiliasi agama meningkat dari sekitar 1,6 miliar menjadi
1,9 miliar jiwa, menjadikan kelompok ini kategori terbesar ketiga secara global
setelah Kristen dan Islam. Pertumbuhan tersebut terutama dipengaruhi oleh
perpindahan afiliasi agama (religious switching) di berbagai negara
Barat, Australia, dan sebagian Asia Timur.
Data
tersebut juga memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks. Tidak semua orang
yang tidak berafiliasi dengan agama menolak dimensi spiritual. Banyak di antara
mereka tetap percaya adanya kekuatan yang lebih tinggi, kehidupan setelah
kematian, atau realitas spiritual tertentu, meskipun tidak mengidentifikasi
diri dengan agama formal.
Migrasi
menuju agnostisisme atau kelompok "nones" tidak selalu berarti
hilangnya pencarian makna, tetapi dapat mencerminkan perubahan cara individu
memaknai spiritualitas.
Disrupsi Digital, Dataisme, dan Krisis Makna
Revolusi
digital melahirkan apa yang oleh sebagian pemikir disebut sebagai dataisme,
yaitu kecenderungan menempatkan data dan algoritma sebagai sumber utama
pengambilan keputusan. Dalam budaya digital, perilaku manusia semakin banyak
diukur melalui angka, statistik, dan analitik.
Data memberikan
manfaat besar bagi ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pelayanan publik. Namun,
sejumlah filsuf mengingatkan bahwa data tidak secara otomatis memberikan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial: siapa manusia, untuk apa ia
hidup, dan apa tujuan akhir kehidupannya.
Viktor
Frankl, melalui teori logotherapy, menjelaskan bahwa kebutuhan paling
mendasar manusia bukan hanya kesenangan atau kekuasaan, melainkan pencarian
makna (meaning). Ketika makna hidup tidak ditemukan, manusia dapat
mengalami apa yang ia sebut sebagai existential vacuum, yaitu kehampaan
eksistensial yang ditandai oleh kehilangan arah, kebingungan identitas, dan
perasaan hidup tanpa tujuan.
Dalam
konteks masyarakat digital, limpahan informasi belum tentu menghilangkan
kehampaan tersebut apabila informasi tidak diiringi dengan kerangka nilai yang
memberi orientasi hidup.
Agnostisisme sebagai Fenomena Sosial
Dalam
filsafat, agnostisisme pada dasarnya adalah posisi epistemologis yang
menyatakan bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat dipastikan atau diketahui secara
meyakinkan. Posisi ini berbeda dari ateisme, yang umumnya dipahami sebagai
tidak adanya keyakinan terhadap Tuhan.
Secara
sosiologis, meningkatnya jumlah orang yang mengidentifikasi diri sebagai
agnostik dipengaruhi oleh beragam faktor, seperti sekularisasi, perubahan
budaya, pengalaman pribadi, pendidikan, serta dinamika hubungan dengan
institusi keagamaan.
Karena itu,
fenomena ini tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Ia merupakan
hasil interaksi antara perubahan sosial, perkembangan ilmu pengetahuan,
globalisasi budaya, dan pengalaman individual. Pendekatan ilmiah mengharuskan
kita memahami kompleksitas tersebut tanpa menyederhanakan penyebabnya.
Perspektif Islam : Manusia Memiliki Asal dan Tujuan
Islam
menawarkan kerangka pandang (worldview) yang berbeda mengenai identitas
manusia. Menurut Al-Qur'an, manusia bukan makhluk yang hadir secara kebetulan,
tetapi ciptaan Allah SWT yang memiliki asal-usul, tujuan hidup, dan tujuan
akhir yang jelas. Allah SWT berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat
[51]: 56).
Ayat ini
menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mengejar kenikmatan
material atau pencapaian duniawi, melainkan beribadah dalam arti yang luas,
yaitu menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah. Al-Qur'an juga mengingatkan: "Sesungguhnya
kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali." (QS. Al-Baqarah
[2]: 156).
Dalam
perspektif Islam, perjalanan hidup manusia memiliki tiga dimensi yang saling
terhubung: berasal dari Allah, hidup di dunia sebagai amanah dan untuk beribdah,
kemudian kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal
perbuatannya.
Kerangka ini
memberikan orientasi eksistensial yang menyeluruh, mulai dari asal-usul manusia
hingga tujuan akhirnya. Rasulullah SAW juga bersabda: "Jadilah engkau di
dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir." (HR. al-Bukhari).
Hadis
tersebut mengajarkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Kesadaran ini
mendorong manusia untuk menempatkan keberhasilan dunia dalam perspektif yang
lebih luas, yaitu sebagai bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat. Ketiga
dimensi di atas tidaklah berubah bagi seorang muslim, apapun kondisi dunia ini.
Bahkan semakin kacau dunia yang membawa migrasi agnostik masyarakat Barat,
seorang muslim justru harus semakin kuat berpegang teguh dengan identitas
kemusliman ini.
Islamic Worldview dan Pencarian Makna
Dalam
pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, krisis utama peradaban modern bukan
hanya persoalan teknologi atau ekonomi, melainkan kehilangan adab (loss of
adab) dan kekaburan pandangan hidup (confusion of worldview). Ketika
manusia kehilangan orientasi terhadap hakikat dirinya dan tujuan penciptaannya,
ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang sangat pesat tetapi tidak
selalu diiringi dengan kebijaksanaan moral.
Confusion of
worldview (kekacauan pandangan hidup) adalah istilah yang dipopulerkan
oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas untuk menjelaskan kondisi ketika seseorang
atau suatu peradaban kehilangan kerangka dasar dalam memahami hakikat Tuhan,
manusia, alam semesta, ilmu pengetahuan, kebenaran, dan tujuan hidup.
Menurut
Al-Attas, krisis terbesar peradaban modern bukan semata-mata krisis ekonomi,
politik, atau teknologi, melainkan krisis epistemologis yang menyebabkan
manusia tidak lagi memiliki pandangan hidup yang utuh dan benar. Akibatnya,
manusia mengalami kebingungan dalam menentukan nilai, orientasi hidup, dan
standar benar-salah sehingga mudah terombang-ambing oleh berbagai ideologi,
tren, atau kepentingan sesaat.
Dalam karya Prolegomena
to the Metaphysics of Islam (1995), Al-Attas menjelaskan bahwa confusion
of worldview terjadi ketika konsep-konsep dasar Islam digantikan oleh
paradigma sekuler yang memisahkan agama dari ilmu pengetahuan, moralitas, dan
kehidupan publik. Menurutnya, sekularisasi tidak hanya mengubah sistem sosial,
tetapi juga mengubah cara manusia memahami realitas.
Kebenaran
kemudian dipandang semata-mata sebagai hasil konsensus sosial atau observasi
empiris, sementara dimensi wahyu, metafisika, dan tujuan akhir kehidupan
disingkirkan. Akibatnya, manusia memiliki pengetahuan yang semakin luas, tetapi
kehilangan hikmah (wisdom) dalam menggunakan pengetahuan tersebut.
Dalam
perspektif Islamic Worldview, pandangan hidup seorang Muslim dibangun atas enam
fondasi utama: (1) Allah sebagai Pencipta dan pusat seluruh realitas; (2) wahyu
sebagai sumber kebenaran tertinggi; (3) manusia sebagai hamba sekaligus
khalifah di bumi; (4) alam semesta sebagai ayat-ayat Allah yang dapat
dipelajari; (5) kehidupan dunia sebagai ujian menuju kehidupan akhirat; dan (6)
tujuan akhir manusia adalah memperoleh rida Allah SWT.
Ketika
fondasi-fondasi ini tergeser oleh relativisme, materialisme, hedonisme, atau
nihilisme, maka terjadilah confusion of worldview. Dalam kondisi
tersebut, seseorang mungkin tetap cerdas secara intelektual, tetapi kehilangan
orientasi moral dan spiritual.
Fenomena ini
tampak pada masyarakat postmodern yang memiliki akses hampir tanpa batas
terhadap informasi, namun sering mengalami krisis identitas, kecemasan
eksistensial, dan kehilangan makna hidup. Teknologi, data, dan kecerdasan
buatan mampu menjawab pertanyaan tentang bagaimana sesuatu bekerja, tetapi
tidak mampu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu mengapa manusia
hidup, untuk apa ia diciptakan, dan ke mana ia akan kembali.
Dalam
pandangan Al-Attas, ilmu tanpa worldview yang benar hanya menghasilkan kemajuan
teknis, sedangkan worldview Islam mengarahkan ilmu menjadi sarana mencapai
hikmah, keadilan, dan kemaslahatan.
Dari sudut
pandang ini, Islam memandang wahyu bukan sebagai penghalang rasionalitas,
melainkan sebagai petunjuk yang melengkapi kemampuan akal. Akal berperan
memahami alam dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sedangkan wahyu memberikan
arah mengenai tujuan hidup, nilai moral, dan makna keberadaan manusia.
Penutup
Fenomena
meningkatnya kelompok yang tidak berafiliasi dengan agama di sejumlah negara
merupakan realitas sosial yang perlu dipahami secara ilmiah, bukan sekadar
disederhanakan. Data menunjukkan bahwa perpindahan afiliasi keagamaan memang
meningkat di berbagai kawasan, tetapi motivasi dan bentuk spiritualitas di
dalam kelompok tersebut sangat beragam.
Di tengah
era postmodern yang ditandai oleh pluralitas, disrupsi teknologi, dan banjir
informasi, pencarian makna tetap menjadi kebutuhan mendasar manusia. Perspektif
Islam menawarkan kerangka hidup yang utuh: manusia berasal dari Allah,
menjalani kehidupan sebagai amanah dan ibadah, serta akan kembali kepada-Nya
untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
Bagi umat
Islam, kerangka tersebut menjadi sumber orientasi yang menyatukan ilmu,
moralitas, dan tujuan hidup sehingga kemajuan teknologi dan pengetahuan tidak
kehilangan arah etik dan spiritual. Karena itu tugas seorang muslim untuk
masyarakat Barat yang sedang kehilangan arah dan makna hidup adalah membacakan
dan menunjukkan.
Membacakan artinya
memberikan pemahaman atas seluruh kondisi kekacauan yang ada adalah akibat
isme-isme barat yang sesat. Menunjukkan artinya menumbuhkan kesadaran ideologis
bahwa ada satu jalan kebenaran yang akan menyelamatkan manusia di dunia maupun di
akhirat, itulah Islam. Ini tugas dakwah yang tidak ringan, sebab di waktu yang
sama ada orang yang menunjukkan ke jalan yang salah, juga ada orang yang justru
menghalangi muslim yang sedang menunjukkan ke jalan yang benar.
Referensi
Al-Attas, S.
M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.
Frankl, V.
E. (2006). Man's Search for Meaning. Beacon Press.
Harari, Y.
N. (2017). Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. Harper.
Lyotard,
J.-F. (1984). The Postmodern Condition: A Report on Knowledge.
University of Minnesota Press.
Pew Research
Center. (2018). Being Christian in Western Europe.
Pew Research
Center. (2025). How the Global Religious Landscape Changed From 2010 to 2020.
Pew Research
Center. (2025). Many Religious 'Nones' Around the World Hold Spiritual
Beliefs.
Pew Research
Center. (2025). The Religiously Unaffiliated: Switching Into and Out of the
Group in 22 Countries.
(Ahmad
Sastra, Kota Hujan, No.1432/31/08/26 : 09.12 WIB)

