Oleh : Ahmad Sastra
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi persaingan,
media sosial, konsumerisme, dan tuntutan prestasi, manusia justru mengalami
paradoks yang menarik. Kemajuan teknologi berhasil meningkatkan kenyamanan
hidup, tetapi tidak selalu meningkatkan kebahagiaan.
Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa
gangguan kecemasan, depresi, kesepian, dan stres terus meningkat di banyak
negara. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak identik dengan
kekayaan, jabatan, maupun popularitas.
Pertanyaan klasik pun kembali mengemuka: apa
sesungguhnya hakikat kebahagiaan? Pertanyaan tersebut telah lama menjadi
perhatian para filsuf Yunani, filosof Muslim, maupun para sufi. Di antara tokoh
yang memberikan kontribusi besar adalah Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan para
filsuf Stoik seperti Epictetus, Seneca, serta Marcus Aurelius.
Meskipun lahir dari tradisi intelektual yang berbeda,
ketiga pendekatan tersebut memiliki satu titik temu penting, yaitu bahwa
kebahagiaan sejati berasal dari keadaan batin, bukan semata-mata dari kondisi
eksternal. Namun, mereka berbeda dalam menjelaskan sumber, tujuan, dan jalan
menuju kebahagiaan.
Al-Ghazali menempatkan kebahagiaan pada kedekatan
dengan Allah (ma'rifatullah), Ibnu Sina menekankan kesempurnaan akal dan
jiwa, sedangkan Stoikisme menegaskan pentingnya pengendalian diri dan
penerimaan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali manusia.
Kebahagiaan Adalah Mengenal Allah
Bagi Imam Al-Ghazali (w. 1111 M), kebahagiaan (sa'adah)
merupakan tujuan akhir kehidupan manusia. Dalam karya monumentalnya Kimiyā'
al-Sa'ādah (The Alchemy of Happiness), ia menjelaskan bahwa seluruh
aktivitas manusia sejatinya merupakan pencarian kebahagiaan, tetapi banyak orang
salah memilih jalannya. Mereka mengira kebahagiaan terletak pada kekayaan,
kekuasaan, atau kenikmatan jasmani, padahal semua itu bersifat sementara.
Menurut Al-Ghazali, manusia terdiri atas jasad dan
ruh. Unsur terpenting bukanlah tubuh, melainkan hati (qalb) sebagai pusat
kesadaran spiritual. Kebahagiaan lahir ketika hati mengenal Allah,
mencintai-Nya, dan tunduk kepada-Nya.
Karena itu, Al-Ghazali menegaskan bahwa jalan menuju
kebahagiaan dimulai dengan empat pengetahuan: mengenal diri sendiri, mengenal
Allah, mengenal dunia, dan mengenal akhirat. Orang yang mengenal hakikat
dirinya akan menyadari bahwa ia diciptakan bukan hanya untuk mengejar dunia,
melainkan untuk mengabdi kepada Allah.
Pandangan tersebut berakar kuat pada Al-Qur'an. Allah
SWT berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa
ketenangan hati merupakan fondasi kebahagiaan yang tidak bergantung pada
situasi eksternal.
Kesempurnaan Akal Menuju Kesempurnaan Jiwa
Berbeda dengan Al-Ghazali yang lebih menonjolkan
dimensi tasawuf, Ibnu Sina (980–1037 M) membangun konsep kebahagiaan melalui
filsafat jiwa dan metafisika. Baginya, manusia memperoleh kebahagiaan ketika
seluruh potensi intelektualnya berkembang secara sempurna. Pengetahuan bukan
sekadar sarana mencari pekerjaan atau status sosial, melainkan jalan menuju
penyempurnaan jiwa.
Ibnu Sina menjelaskan bahwa manusia memiliki berbagai
tingkatan akal, mulai dari akal potensial hingga akal mustafad, yaitu keadaan
ketika intelek manusia mampu menerima pengetahuan universal secara optimal.
Semakin tinggi kualitas ilmu dan kebijaksanaan seseorang, semakin dekat ia
kepada kebahagiaan sejati. Kebahagiaan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan
persiapan menuju kebahagiaan abadi setelah kematian.
Pandangan tersebut menjadikan ilmu memiliki dimensi
spiritual. Pengetahuan tidak berhenti pada penguasaan fakta, tetapi
mengantarkan manusia memahami hakikat realitas, mengenal Penciptanya, serta
menjalani kehidupan secara bijaksana.
Mengendalikan Diri, Bukan Mengendalikan Dunia
Stoikisme berkembang di Yunani dan Romawi melalui
tokoh-tokoh seperti Zeno, Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius. Bagi kaum
Stoik, manusia tidak akan pernah mampu mengendalikan seluruh peristiwa di
dunia. Yang dapat dikendalikan hanyalah pikiran, sikap, keputusan, dan respons
terhadap peristiwa.
Konsep paling terkenal adalah dichotomy of control,
yaitu membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang
berada di luar kendali. Seseorang akan hidup tenang apabila memusatkan
perhatian pada karakter, kebajikan, dan pengendalian diri, bukan pada kekayaan,
pujian, jabatan, atau nasib.
Marcus Aurelius menulis dalam Meditations bahwa
kebahagiaan berasal dari kemampuan menjaga kualitas pikiran, sedangkan
Epictetus menegaskan bahwa manusia menderita bukan karena peristiwa, melainkan
karena penilaiannya terhadap peristiwa tersebut. Stoikisme memandang kebajikan
(virtue) sebagai satu-satunya kebaikan sejati.
Walaupun berbeda dalam landasan metafisis, ketiganya
memiliki beberapa titik temu yang menarik. Pertama, kebahagiaan tidak ditentukan
oleh harta benda. Kekayaan dapat memberikan kenyamanan, tetapi tidak menjamin
ketenteraman batin.
Kedua, pengendalian diri merupakan syarat utama
kebahagiaan. Al-Ghazali menyebutnya sebagai tazkiyat al-nafs (penyucian
jiwa), Ibnu Sina berbicara tentang penyempurnaan jiwa melalui akal, sedangkan
Stoikisme menekankan penguasaan emosi dan hawa nafsu.
Ketiga, kebajikan menjadi inti kehidupan yang bahagia.
Orang yang jujur, adil, sabar, dan bijaksana akan lebih mudah mencapai
ketenangan dibandingkan mereka yang diperbudak ambisi tanpa batas.
Perbedaan terbesar terletak pada orientasi akhir
kebahagiaan. Bagi Stoikisme, tujuan tertinggi adalah ketenangan batin (ataraxia
atau apatheia) melalui hidup selaras dengan akal dan hukum alam.
Ibnu Sina memandang kebahagiaan sebagai kesempurnaan
intelektual dan spiritual, yang berpuncak pada penyempurnaan jiwa sehingga siap
memperoleh kebahagiaan setelah kematian.
Sementara itu, Al-Ghazali meletakkan tujuan akhir
kebahagiaan pada ma'rifatullah, cinta kepada Allah, dan kebahagiaan ukhrawi.
Kebahagiaan dunia hanyalah tahap awal menuju kehidupan abadi di akhirat.
Di era digital, banyak orang mengukur kebahagiaan
melalui jumlah pengikut media sosial, kekayaan, atau pencapaian karier.
Padahal, berbagai penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa makna hidup,
hubungan sosial yang sehat, karakter moral, dan spiritualitas memiliki
kontribusi besar terhadap kesejahteraan psikologis.
Konsep Al-Ghazali mengingatkan pentingnya dimensi
spiritual dalam kehidupan modern. Ibnu Sina mengajarkan bahwa ilmu harus
membentuk kebijaksanaan, bukan sekadar kompetensi teknis. Stoikisme mengajarkan
ketangguhan mental dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan.
Ketiga tradisi tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan
sejati tidak dapat dibeli, diwariskan, ataupun dipaksakan dari luar. Ia
dibangun melalui pembentukan karakter, penguasaan diri, pencarian ilmu, dan
kehidupan yang bermakna.
Konsep kebahagiaan menurut Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan
filsafat Stoikisme memperlihatkan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari
akumulasi materi, melainkan buah dari transformasi batin. Al-Ghazali menegaskan
bahwa kebahagiaan tertinggi adalah mengenal Allah dan menyucikan hati.
Ibnu Sina menghubungkannya dengan kesempurnaan
intelektual dan jiwa yang dibimbing oleh ilmu. Stoikisme menekankan
pengendalian diri, penerimaan terhadap realitas, dan kehidupan yang dijalani
dengan kebajikan.
Di tengah dunia modern yang sarat distraksi dan
kompetisi, ketiga pandangan tersebut tetap relevan karena mengajak manusia
kembali kepada pertanyaan paling mendasar: bukan "berapa banyak yang kita
miliki", tetapi "menjadi manusia seperti apa kita ingin hidup".
Kebahagiaan sejati lahir ketika ilmu, akhlak, akal, dan spiritualitas bertemu
dalam kehidupan yang bermakna.
Tentang Hati Yang Lelah
Salah satu penyebab utama hati menjadi lelah adalah ketika
manusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan, bukan sekadar sarana
menuju tujuan yang lebih tinggi. Al-Ghazali dalam Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn
menjelaskan bahwa hati diciptakan untuk mengenal (ma'rifah) dan
mencintai Allah.
Ketika orientasi hidup bergeser kepada harta,
popularitas, jabatan, atau pengakuan manusia, hati akan terus berada dalam
keadaan lapar dan tidak pernah merasa cukup (ṭama'). Dalam perspektif
psikologi modern, kondisi ini dikenal sebagai hedonic treadmill, yaitu
kecenderungan manusia untuk terus mengejar kepuasan baru tanpa pernah mencapai
kebahagiaan yang menetap.
Al-Qur'an menggambarkan keadaan tersebut dengan sangat
jelas: "Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tenteram" (QS. Ar-Ra'd [13]: 28). Sebaliknya, hati yang jauh dari Allah
akan mudah dipenuhi kecemasan, iri hati, rasa takut kehilangan, dan kegelisahan
yang berkepanjangan. Karena itu, kelelahan hati bukan semata-mata disebabkan
oleh banyaknya pekerjaan, melainkan oleh hilangnya orientasi spiritual dalam
menjalani kehidupan.
Penyebab lain dari kelelahan hati adalah beban pikiran
yang terus diarahkan kepada hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Dalam
filsafat Stoikisme, Epictetus mengajarkan bahwa penderitaan sering kali bukan
berasal dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari cara manusia menilai dan
mengkhawatirkannya.
Ibnu Sina pun menjelaskan bahwa jiwa akan kehilangan
keseimbangannya apabila dikuasai oleh hawa nafsu, emosi yang tidak terkendali,
dan imajinasi yang berlebihan sehingga akal tidak lagi mampu memimpin kehidupan
secara bijaksana. Islam menawarkan terapi yang lebih komprehensif melalui
perpaduan antara tawakal, sabar, syukur, zikir, dan ikhtiar.
Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan
urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya; jika memperoleh
nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya, dan jika ditimpa musibah ia
bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim, No. 2999). Hadis ini
menunjukkan bahwa hati yang sehat bukanlah hati yang bebas dari ujian,
melainkan hati yang mampu memaknai setiap peristiwa dalam bingkai keimanan.
Ketika akal dibimbing oleh ilmu, jiwa disucikan dengan
ibadah, dan hati senantiasa terhubung kepada Allah, maka kelelahan batin akan
berubah menjadi ketenangan (ṭuma'nīnah) yang menjadi fondasi kebahagiaan
sejati menurut Al-Ghazali maupun tradisi intelektual Islam. Hati yang tenang
adalah hati yang senantiasa terpaut dengan Allah, sedangkan hati yang lelah
adalah hati yang tak lagi lillah.
Referensi
Al-Ghazali. (2005). Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn. Dār
al-Ma'rifah.
Al-Ghazali. (2005). Kimiyā' al-Sa'ādah (The Alchemy
of Happiness). Islamic Texts Society.
Aurelius, M. (2002). Meditations (G. Hays,
Trans.). Modern Library.
Chania, S. A., Hudaeri, M., & Dzawafi, A. A.
(2025). Psychosomatic Therapy and the Pursuit of Happiness: Insights from Ibn
Sina's Philosophy of the Soul and Stoicism. Jaqfi: Jurnal Aqidah dan
Filsafat Islam.
Epictetus. (2014). The Enchiridion. Oxford
University Press.
Gutas, D. (2014). Ibn Sina (Avicenna). Stanford
Encyclopedia of Philosophy.
Kusuma, A. R., & Hidayatullah, R. A. (2023).
Konsep Kebahagiaan Menurut Ibnu Sina. Jurnal Penelitian Medan Agama.
Long, A. A. (2002). Epictetus: A Stoic and Socratic
Guide to Life. Oxford University Press.
Soleh, A. K. (2022). Al-Ghazali's Concept of Happiness
in The Alchemy of Happiness. Journal of Islamic Thought and
Civilization, 12(2).
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1440/16/09/26 : 21.17
WIB)

