KAJIAN LINGUISTIK DAN ANALISIS WACANA ATAS FRASA "ISLAM ALA PRABOWO"



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Di tengah perkembangan komunikasi politik, penggunaan bahasa tidak lagi sekadar menjadi alat penyampaian informasi, melainkan instrumen untuk membangun persepsi publik. Salah satu frasa yang memunculkan diskusi luas adalah "Islam ala Prabowo", yang digunakan sebagai judul sebuah buku yang membahas bagaimana nilai-nilai Islam dipandang tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

 

Menurut penjelasan berbagai pemberitaan mengenai buku tersebut, maksud penggunaan frasa itu bukan untuk memperkenalkan ajaran atau mazhab Islam baru, melainkan untuk menggambarkan cara seorang tokoh mengamalkan nilai-nilai Islam.

 

Dalam catatan M. Ridwan, dijelaskan bahwa dalam kata pengantarnya penyusun menyebutkan bahwa memang Prabowo Subianto bukanlah orang alim untuk berdalil juga bukan orang yang memaksa diri untuk tampak bisa berdalil. Beliau apa adanya, beliau tidak gengsi tampil jujur sebagai orang yang beragama, khusus pada masalah ritualnya, hanya bertaklid saja kepada yang dianggap ulama dan diakui kapasitasnya.

 

Penyusun juga mengakui bahwa buku ini bukan bermaksud untuk memoles citra Islam pada diri Prabowo Subianto. Buku ini dimaksudkan sebagai pengingat bahkan dibilang sebagai nasihat kepada presiden kita tentang niat memperoleh kekuasaan dan menjalankan kepemimpinan semata ditujukan hanya untuk meraih ridha Allah SWT. 

 

Prolog buku ini disampaikan oleh Ketua MPR, Ahmad Muzani. Kalau kita baca secara cermat prolog oleh Ketua MPR ini tidak membahas sama sekali spiritualitas presiden.  Prolognya hanya membicarakan peran Prabowo Subianto dalam kancah dunia Islam internasional dan visi, misi Prabowo Subianto dalam memimpin bangsa ini. 

 

Kontributor buku ini memang tokoh publik yang semua terkenal mulai dari Yusril Ihza Mahendra (menkum), AM Hendropriyono, As'ad Said Ali, Muhajir Efendi, Muhammad Irfan Yusuf dan lain sebagainya. Mayoritas kontributor buku ini adalah pendukung Prabowo Subianto. 

 

Epilog buku ini yang ditulis oleh KH. Asep Saifuddin Chalim -pengasuh pondok pesantren Amanatul Ummah Mojokerto-. Dalam epilog, penulis membandingkan antara kepemimpinan Prabowo Subianto dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis yang terkenal adil itu.

 

Walaupun demikian, dari perspektif epistemologi Islam, penggunaan diksi tersebut tetap menarik untuk dikaji. Persoalannya bukan terutama mengenai sosok yang disebut, melainkan mengenai bagaimana bahasa membentuk cara berpikir (framing) masyarakat terhadap agama.

 

Dalam kajian linguistik dan analisis wacana, pilihan kata dapat memengaruhi konstruksi makna di ruang publik. Karena itu, kritik epistemologis tidak diarahkan kepada individu, tetapi kepada kemungkinan implikasi konseptual dari penggunaan istilah tersebut.

 

Dalam epistemologi Islam, sumber pengetahuan agama bersandar pada wahyu, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah, disertai metodologi ijtihad yang diakui dalam tradisi keilmuan Islam. Islam dipahami sebagai agama yang berasal dari Allah SWT, bukan hasil konstruksi pemikiran seorang tokoh politik, ilmuwan, ataupun ulama.

 

Allah SWT berfirman: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Ma'idah [5]: 3).

 

Ayat ini menjadi dasar bahwa kesempurnaan Islam bersumber dari wahyu. Karena itu, secara normatif, identitas Islam tidak bergantung pada figur tertentu. Dalam tradisi keilmuan Islam, yang dikenal adalah istilah seperti manhaj, mazhab fikih, atau pendekatan keilmuan, bukan "Islam versi" seseorang dalam pengertian adanya substansi agama yang berbeda.

 

Kritik terhadap Personifikasi Agama

 

Dari perspektif filsafat bahasa, frasa "Islam ala Prabowo" merupakan bentuk personifikasi melalui penyandingan nama agama dengan nama seorang tokoh. Bagi sebagian pembaca, frasa tersebut dapat dipahami hanya sebagai gaya bahasa untuk menjelaskan praktik keberagamaan seseorang.

 

Namun, bagi pembaca lain, frasa tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa terdapat bentuk atau varian Islam yang dikaitkan dengan identitas personal tertentu. Perbedaan tafsir inilah yang menjadi sumber perdebatan publik.

 

Secara epistemologis, agama memiliki kedudukan yang berbeda dengan pengalaman individual. Islam adalah sistem ajaran yang bersifat normatif, sedangkan pengalaman seorang Muslim, termasuk seorang pemimpin, adalah ekspresi atau praktik keberagamaan yang selalu terbuka untuk dievaluasi.

 

Jika maksudnya adalah mendeskripsikan praktik keberagamaan seorang tokoh, diksi yang lebih presisi secara konseptual adalah, misalnya, "Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam" atau "Berislam menurut Praktik Prabowo", karena subjeknya adalah praktik seseorang, bukan substansi Islam itu sendiri.

 

Istilah, “Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam’ memang tertulis juga dalam anak judul buku itu dan ini yang sebenarnya lebih tepat sebagai judul buku agar tak meninggalkan polemik baru. Labelisasi Islam untuk person apalagi presiden akan meninggalkan dampak buruk yang panjang.

 

Presiden, siapapun, selama negeri ini menerapkan sistem sekulerisme, maka para pemimpin di negeri ini juga takpernah menjadikan al qur’an dan As Sunnah sebagai sumber aturan dan perundang-undangan. Dari sini, masalah epistemologi dan aksiologi akan terus menggelombang terkait diksi dalam judul buku ini.

 

Worldview Islam dan Ketunggalan Sumber Otoritas

 

Dalam pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas, worldview Islam dibangun di atas konsep tauhid yang mempersatukan pandangan tentang Tuhan, manusia, ilmu, alam, dan tujuan hidup. Al-Attas mengingatkan bahwa kekeliruan memahami konsep-konsep dasar dapat melahirkan confusion of worldview, yaitu kekaburan dalam membedakan antara wahyu sebagai sumber kebenaran dan konstruksi budaya atau politik sebagai produk manusia.

 

Dari sudut pandang ini, penyandingan nama agama dengan figur politik perlu dipahami secara hati-hati agar tidak mengaburkan batas antara sumber ajaran dan representasi sosialnya. Kritik ini tidak berarti bahwa seorang tokoh tidak boleh menjadi teladan dalam pengamalan nilai Islam, tetapi menegaskan bahwa keteladanan tetap berada pada tingkat implementasi, sedangkan otoritas ajaran tetap bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah.

 

Kajian linguistik menunjukkan bahwa bahasa politik tidak pernah sepenuhnya netral. Analisis terhadap wacana politik Indonesia menunjukkan bahwa pilihan kata, metafora, dan eufemisme dapat membentuk citra kepemimpinan serta memengaruhi persepsi publik.

 

Dalam konteks ini, frasa "Islam ala Prabowo" dapat dipahami sebagai strategi penamaan yang mengaitkan identitas keagamaan dengan sosok tertentu. Secara komunikatif, strategi semacam ini mungkin dimaksudkan untuk menarik perhatian pembaca atau merangkum tema buku.

 

Namun secara epistemologis, sebagian kalangan memandang bahwa penggunaan diksi tersebut berpotensi mencampurkan ranah normatif agama dengan ranah representasi politik, sehingga perlu dijelaskan konteksnya agar tidak menimbulkan salah pengertian.

 

Islam memberikan penghormatan kepada para pemimpin yang adil dan berintegritas, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa ukuran kebenaran tidak bergantung pada tokoh, melainkan pada kesesuaiannya dengan wahyu.

 

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

 

Ayat ini menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam pengamalan Islam. Sementara itu, tokoh-tokoh setelah beliau dapat menjadi inspirasi sepanjang tindakan mereka sejalan dengan prinsip-prinsip syariat, tetapi mereka tidak menjadi sumber ajaran baru.

 

Rasulullah SAW juga bersabda: "Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya." (HR. al-Muwatta'; maknanya juga diriwayatkan dalam beberapa jalur hadis). Hadis ini menegaskan bahwa rujukan normatif umat Islam tetap Al-Qur'an dan Sunnah.

 

Refleksi Epistemologis

 

Diskursus mengenai istilah "Islam ala Prabowo" memperlihatkan pentingnya ketelitian dalam penggunaan bahasa yang berkaitan dengan agama. Dalam masyarakat demokratis, penggunaan diksi tentu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi. Namun, ketika bahasa menyentuh konsep-konsep teologis, ketepatan istilah menjadi penting agar tidak menimbulkan ambiguitas konseptual.

 

Dengan demikian, kritik epistemologi Islam terhadap frasa tersebut bukanlah penolakan terhadap pembahasan mengenai praktik keberagamaan seorang pemimpin, melainkan ajakan untuk menjaga pembedaan yang jelas antara Islam sebagai wahyu dan cara seorang Muslim mengamalkan Islam. Pembedaan ini membantu menjaga kemurnian konsep agama sekaligus memungkinkan diskusi tentang keteladanan tokoh dilakukan secara proporsional.

 

Dalam perspektif epistemologi Islam, agama adalah sistem nilai yang bersumber dari wahyu dan memiliki rujukan normatif yang tetap. Karena itu, penyandingan nama agama dengan figur politik memerlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesan bahwa substansi agama bergantung pada individu tertentu.

 

Apabila yang dimaksud adalah menggambarkan praktik keberagamaan seorang tokoh, maka formulasi yang menekankan pengamalan atau praktik keberislaman akan lebih selaras dengan pembedaan antara sumber ajaran dan ekspresi personalnya. Dengan cara itu, ruang apresiasi terhadap keteladanan individu tetap terbuka, sementara kemurnian konsep Islam sebagai agama wahyu tetap terjaga.

 

Referensi

 

Afdhila, F. R., et al. (2023). Van Dijk's Critical Discourse Analysis of Prabowo Subianto's Victory Declaration Speech. Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan

Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam and Secularism. ABIM.

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.

Fairclough, N. (1995). Critical Discourse Analysis. Longman.

Firdousi, M. A., et al. (2024). Prabowo Subianto's Euphemism Used in the 2024 Presidential Election Debate. Ulul Albab: Jurnal Studi Islam.

Van Dijk, T. A. (1998). Ideology: A Multidisciplinary Approach. Sage.

Sastra, Ahmad. (2025) Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Penerbit Luhur

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1433/06/09/26 : 10.27 WIB)

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad