MEMBACA PESAN ETIK KYAI GONTOR DI HADAPAN PENGUASA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar momentum mengenang perjalanan sebuah lembaga pendidikan Islam, tetapi juga menjadi ruang penyampaian pesan-pesan moral kepada bangsa. Dalam resepsi kesyukuran 100 tahun Gontor yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto beserta para pejabat negara dan daerah, KH. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan sejumlah pesan etik yang melampaui konteks seremonial.

 

Pesan tersebut menyentuh persoalan mendasar tentang kepemimpinan, integritas, kesederhanaan, orientasi sejarah, pendidikan akidah, serta misi membangun peradaban. Berbagai laporan media menunjukkan bahwa pidato tersebut memang berisi nasihat-nasihat moral yang disampaikan secara terbuka di hadapan para pemimpin negara.

 

Dalam tradisi Islam, nasihat kepada penguasa merupakan bagian dari amanah keilmuan para ulama. Rasulullah SAW bersabda:"Agama adalah nasihat." (HR. Muslim)

 

Nasihat tidak dimaksudkan untuk mempermalukan, melainkan mengingatkan agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor amanah, keadilan, dan kemaslahatan. Tradisi inilah yang sejak lama dipelihara oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan yang membentuk karakter sekaligus menjaga moralitas publik.

 

Pesan pertama yang disampaikan KH. Hasan Abdullah Sahal berkaitan dengan fondasi kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kecerdasan administratif atau kemampuan teknokratis, tetapi harus dibangun di atas empat nilai utama: sabar, tawakal, ikhlas, dan ridha.

 

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan bukan sekadar kemampuan mengatur organisasi, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

 

Kesabaran melahirkan keteguhan menghadapi ujian, tawakal menumbuhkan keyakinan setelah ikhtiar maksimal, ikhlas menjaga kemurnian niat, sedangkan ridha membentuk ketenangan menerima ketetapan Allah. Nilai-nilai ini menjadikan kekuasaan tidak berubah menjadi kesombongan, melainkan menjadi jalan pengabdian kepada masyarakat.

 

Pesan kedua yang sangat kuat adalah mengenai budaya hidup sederhana di pesantren. KH. Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa kyai tidak boleh melebihi santrinya dalam urusan makan, pakaian, rumah, maupun kendaraan. Ungkapan tersebut bukan sekadar simbol asketisme, tetapi merupakan pendidikan moral bahwa pemimpin harus menjadi teladan dalam pengendalian diri.

 

Nilai ini memiliki akar yang kuat dalam keteladanan Rasulullah SAW. Meskipun menjadi pemimpin negara Madinah, beliau tetap hidup sederhana. Aisyah ra. meriwayatkan bahwa sering kali dapur Rasulullah tidak mengepul selama beberapa hari karena hanya tersedia kurma dan air (HR. al-Bukhari dan Muslim). Umar bin Khattab juga dikenal mengenakan pakaian bertambal meskipun memimpin wilayah Islam yang sangat luas.

 

Kesederhanaan memiliki makna strategis. Ia membangun empati terhadap rakyat, menghindarkan pemimpin dari gaya hidup konsumtif, serta menjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi alat memperkaya diri. Dalam konteks tata kelola modern, kesederhanaan juga memperkuat integritas dan kepercayaan publik.

 

Pesan ketiga menyentuh penyakit moral yang sering muncul dalam kehidupan organisasi maupun politik, yaitu mencari muka, mencari nama, dan mencari jabatan. Dalam perspektif Islam, orientasi tersebut identik dengan penyakit hati seperti riya', sum'ah, dan hubb al-jah (cinta kedudukan) yang telah banyak dikritik oleh Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn.

 

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini mengingatkan bahwa nilai suatu pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh hasilnya, tetapi juga oleh orientasi batinnya. Jabatan dalam Islam bukanlah tujuan, melainkan amanah. Ketika jabatan dijadikan sarana memperoleh kekayaan, popularitas, atau kekuasaan semata, maka pelayanan publik berubah menjadi kepentingan pribadi.

 

Pesan keempat mengajak masyarakat untuk cerdas menyikapi sejarah. Sejarah tidak cukup dipahami sebagai kumpulan peristiwa masa lalu, tetapi harus dibaca sebagai sumber pelajaran untuk membangun masa depan. Gontor sendiri berdiri dengan kesadaran historis yang kuat : mengambil inspirasi dari tradisi pesantren Nusantara sekaligus belajar dari lembaga-lembaga pendidikan Islam dunia tanpa kehilangan identitasnya.

 

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa sejarah merupakan laboratorium peradaban. Bangsa yang gagal belajar dari sejarah akan mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, bangsa yang mampu mengambil hikmah dari perjalanan sejarah akan memiliki arah pembangunan yang lebih matang.

 

Al-Qur'an pun berulang kali memerintahkan manusia untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu: "Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan." (QS. Al-Hasyr [59]: 2)

 

Karena itu, pendidikan tidak cukup menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga harus melahirkan generasi yang memiliki kesadaran sejarah dan visi peradaban.

 

Pesan kelima menegaskan bahwa pendidikan Gontor dibangun di atas tiga pilar utama: iman, Islam, dan ihsan. Ketiga konsep tersebut merupakan inti ajaran Islam sebagaimana dijelaskan dalam Hadis Jibril. Iman membentuk keyakinan, Islam membimbing amal lahiriah, sedangkan ihsan menyempurnakan kualitas moral dan spiritual.

 

Dalam dunia pendidikan, ketiga dimensi ini melahirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Pendidikan tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga membentuk manusia yang amanah, berakhlak, dan memiliki orientasi pengabdian kepada Allah serta masyarakat.

 

Konsep ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, yaitu membentuk insan yang beradab (the good man), bukan sekadar tenaga kerja yang terampil.

 

Pesan terakhir mengingatkan bahwa misi utama Gontor adalah mendidik akidah dan membebaskan manusia dari penjajahan. Penjajahan yang dimaksud tidak hanya berbentuk kolonialisme fisik, tetapi juga penjajahan cara berpikir, mentalitas, dan nilai-nilai yang melemahkan identitas umat.

 

Al-Qur'an menegaskan bahwa kemuliaan manusia lahir dari penghambaan kepada Allah semata: "Menetapkan hukum hanyalah hak Allah." (QS. Yusuf [12]: 40)

 

Dalam perspektif pendidikan Islam, pembebasan berarti membentuk manusia yang merdeka dari kebodohan, kemusyrikan, hawa nafsu, ketergantungan intelektual, dan berbagai bentuk penindasan. Pendidikan akidah bukan sekadar transfer doktrin, melainkan pembentukan worldview Islam yang menjadi dasar berpikir, bersikap, dan bertindak.

 

Pesan-pesan KH. Hasan Abdullah Sahal menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya mendidik santri, tetapi juga memberikan arah moral bagi kehidupan berbangsa. Di tengah tantangan politik, ekonomi, dan budaya yang semakin kompleks, bangsa ini membutuhkan kepemimpinan yang sabar, tawakal, ikhlas, sederhana, bebas dari ambisi pribadi.

 

Pemimpina juga harus memiliki kesadaran sejarah, serta berpijak pada iman, Islam, dan ihsan. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar etika individual, tetapi fondasi lahirnya tata kelola pemerintahan yang berintegritas dan peradaban yang bermartabat.

 

Seratus tahun Gontor membuktikan bahwa kekuatan sebuah lembaga pendidikan tidak diukur dari megahnya bangunan atau besarnya anggaran, melainkan dari kemampuan menanamkan nilai yang terus hidup lintas generasi.

 

Pesan etik yang disampaikan di hadapan penguasa menjadi pengingat bahwa kekuasaan tanpa moral akan kehilangan arah, sedangkan pendidikan yang berlandaskan akidah, adab, dan pengabdian akan terus melahirkan pemimpin yang melayani umat. Di sinilah relevansi pesan Gontor: membangun manusia sebelum membangun negara, karena peradaban yang kokoh selalu berawal dari karakter yang kokoh.

 

Refleksi

 

Terlepas dari pesan etik kyai Gontor, kaum muslimin juga harus bisa mengambil pelajaran dari kemuliaan kepemimpinan para khalifah dalam sejrah peradaban Islam, diantaranya adalah Umar Bin Khatab dan Abu Bakar Asy Shidiq. Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab merupakan teladan agung dalam sejarah pemerintahan Islam.

 

Abu Bakar memulai masa kekhalifahannya dengan pidato yang sangat terkenal: "Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku menyimpang dari keduanya, maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mentaatiku." Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan dalam Islam tidak bertumpu pada kekuasaan atau popularitas, melainkan pada komitmen menegakkan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah.

 

Abu Bakar juga memperlihatkan keteguhan prinsip ketika memerangi kelompok yang menolak membayar zakat meskipun menghadapi penolakan sebagian sahabat. Sementara itu, Umar bin Al-Khattab dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil, tegas, sederhana, dan memiliki keberanian mengoreksi dirinya sendiri.

 

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisā' [4]: 58).

 

Rasulullah SAW juga bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim). Kedua dalil ini menjadi landasan normatif bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah.

 

Kemuliaan kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bukanlah hasil retorika politik, melainkan buah dari kekokohan iman, keluasan ilmu, ketakwaan, kezuhudan terhadap dunia, serta keberpihakan kepada keadilan. Keduanya hidup sederhana meskipun memimpin wilayah yang sangat luas; mereka lebih mengutamakan pelayanan kepada rakyat daripada menikmati fasilitas kekuasaan.

 

Umar bahkan sering berpatroli pada malam hari untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan, sementara Abu Bakar tetap melayani kebutuhan masyarakat sebagaimana sebelum menjadi khalifah. Keteladanan mereka membuktikan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada kemegahan istana, tingginya pencitraan, ataupun lamanya berkuasa, melainkan pada kemampuannya menegakkan keadilan, menjaga amanah, melayani rakyat, dan mempertanggungjawabkan seluruh kebijakannya di hadapan Allah SWT.

 

Sejarah kepemimpinan Khulafā' al-Rāsyidīn tetap menjadi rujukan ideal dalam literatur politik Islam sebagaimana dijelaskan oleh Al-Mawardi dalam Al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah, Ibnu Taimiyah dalam As-Siyāsah Asy-Syar'iyyah, dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, bahwa kekuatan suatu pemerintahan sangat ditentukan oleh integritas moral pemimpinnya, bukan semata-mata oleh kekuatan politik atau ekonomi.

 

 

REFERENSI

 

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.

Al-Ghazali. (2005). Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn. Dār al-Ma'rifah.

Al-Mawardi (1996), Al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah;

Al-Mawardi. (1996). Al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah. Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Ibn Kathir (1988), Al-Bidāyah wa an-Nihāyah.

Ibn Khaldun. (1967). The Muqaddimah (F. Rosenthal, Trans.). Princeton University Press.

Ibn Taymiyyah (1998), As-Siyāsah Asy-Syar'iyyah;

Lukens-Bull, R. (2001). Two Sides of the Same Coin: Modernity and Tradition in Islamic Education in Indonesia. Anthropology & Education Quarterly, 32(3), 350–372.

Zarkasyi, A. S. (2005). Manajemen Pesantren: Pengalaman Pondok Modern Gontor. Trimurti Press.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1441/21/09/26 : 13.04 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad