Oleh : Ahmad Sastra
Di era media digital, manusia hidup di tengah banjir
informasi (information overload) yang datang tanpa henti. Setiap hari
masyarakat disuguhi berita mengenai gempa bumi, kebakaran hutan, perang, krisis
ekonomi, pemutusan hubungan kerja, korupsi, konflik politik, hingga berbagai
kebijakan publik yang menuai kritik.
Fenomena ini melahirkan apa yang oleh para psikolog
disebut sebagai doomscrolling, yakni kecenderungan terus-menerus mengonsumsi
berita negatif melalui media digital yang pada akhirnya meningkatkan kecemasan,
stres, bahkan kelelahan mental (mental fatigue).
Laporan Reuters Institute Digital News Report
menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat dunia yang mulai menghindari berita
karena merasa lelah menghadapi dominasi informasi negatif. Ironisnya, menjauh
dari berita juga berpotensi menurunkan kepedulian sosial dan partisipasi warga
dalam kehidupan publik (Reuters Institute, 2024).
Perdebatan mengenai fenomena ini kembali mengemuka
ketika publik menanggapi pernyataan musisi dan figur publik Maudy Ayunda yang
menceritakan praktik mindfulness, yaitu membatasi paparan berita buruk demi
menjaga kesehatan mental. Sebagian masyarakat memandang sikap tersebut sebagai
langkah yang wajar dan sehat.
Namun, sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk tone
deaf, yakni kurang peka terhadap penderitaan masyarakat yang tidak memiliki
privilese untuk "mengambil jarak" dari kenyataan pahit yang mereka
alami setiap hari. Perdebatan ini sesungguhnya membuka ruang refleksi yang
lebih luas: bagaimana seharusnya manusia menjaga kesehatan mental tanpa
kehilangan empati sosial? Bagaimana Islam memandang keseimbangan antara menjaga
diri (hifz al-nafs) dan kepedulian terhadap sesama?
Fenomena Information Overload dan Kelelahan
Psikologis
Ilmu psikologi menjelaskan bahwa otak manusia memiliki
kapasitas terbatas dalam memproses informasi. Herbert Simon, peraih Nobel
Ekonomi, pernah menyatakan bahwa "kelimpahan informasi justru menciptakan
kelangkaan perhatian" (a wealth of information creates a poverty of
attention). Ketika setiap hari seseorang dibombardir berita bencana,
konflik, dan krisis, sistem saraf bekerja terus-menerus dalam kondisi waspada
sehingga memicu peningkatan hormon stres.
Penelitian American Psychological Association (APA)
menunjukkan bahwa paparan berita negatif yang berlebihan berkorelasi dengan
meningkatnya kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga rasa putus asa terhadap
masa depan. Dalam kondisi tertentu, masyarakat mengalami compassion fatigue,
yaitu kelelahan emosional sehingga kehilangan kemampuan untuk merasakan empati
terhadap penderitaan orang lain.
Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa sebagian
orang mulai memilih menjauh dari media sosial atau membatasi konsumsi berita.
Dari sisi psikologi, langkah tersebut dapat dipahami sebagai mekanisme
perlindungan diri.
Ketika Mindfulness Berubah Menjadi Tone Deaf
Persoalannya bukan terletak pada praktik mindfulness,
melainkan pada konteks sosial di mana praktik tersebut disampaikan. Tidak semua
orang memiliki kesempatan yang sama untuk "beristirahat" dari berita
buruk. Korban bencana tidak dapat berhenti memikirkan rumahnya yang hanyut.
Buruh yang terkena PHK tidak bisa mematikan realitas ekonomi hanya dengan
menonaktifkan notifikasi telepon genggam.
Dalam ilmu komunikasi sosial, kondisi ini disebut tone
deaf, yaitu ketidakmampuan membaca sensitivitas sosial ketika menyampaikan
suatu pesan. Sebuah pernyataan mungkin benar secara psikologis, tetapi terasa
tidak empatik ketika disampaikan kepada masyarakat yang sedang mengalami
penderitaan.
Di sinilah pentingnya memahami konsep privilege.
Pilihan untuk melakukan digital detox, berlibur dari media sosial, atau
menikmati sarapan sandwich sambil berbicara tentang mindfulness merupakan
hak setiap individu. Namun, hak tersebut tidak dimiliki semua orang. Sebagian
masyarakat bahkan harus memulai hari tanpa sarapan karena tekanan ekonomi, atau
justru sedang berjuang menyelamatkan keluarganya dari bencana.
Islam Mengajarkan Keseimbangan antara Menjaga Jiwa dan
Menjaga Empati
Islam tidak mengajarkan manusia tenggelam dalam
kecemasan, tetapi juga tidak membenarkan sikap acuh terhadap penderitaan
sesama. Al-Qur'an mengajarkan keseimbangan antara menjaga diri dan membangun
solidaritas sosial.
Allah SWT berfirman: "Dan tolong-menolonglah
kalian dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Mā'idah [5]: 2). Ayat
ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya menjaga kesehatan
dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap
masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan
orang-orang beriman dalam kasih sayang dan kepedulian mereka seperti satu
tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan
sakit." (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa
empati bukan sekadar emosi, melainkan karakter dasar masyarakat Islam.
Mindfulness dalam Perspektif Islam
Konsep mindfulness dalam psikologi modern pada
dasarnya mengajarkan kesadaran penuh terhadap kondisi diri saat ini. Islam
memiliki konsep yang lebih komprehensif melalui muraqabah, muhasabah, dzikrullah,
dan tawakal. Allah SWT berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28).
Berbeda dengan pendekatan psikologi sekuler yang
sering berhenti pada relaksasi mental, Islam menghubungkan ketenangan batin
dengan hubungan spiritual kepada Allah SWT. Ketenangan bukan diperoleh dengan
menghindari realitas, tetapi dengan memperkuat keimanan sehingga mampu
menghadapi realitas secara lebih matang.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menghindari
seluruh berita negatif bukanlah solusi jangka panjang. Yang lebih penting
adalah membangun literasi informasi dan ketahanan psikologis.
Islam sendiri mendorong umatnya untuk melakukan tabayyun,
yakni memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Allah
SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada
kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya."
(QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Ayat ini sangat relevan di era media sosial yang
dipenuhi hoaks, disinformasi, dan narasi provokatif. Masyarakat tidak cukup
hanya mengonsumsi berita, tetapi harus mengolahnya secara kritis, objektif, dan
bertanggung jawab.
Empati sejati bukan berhenti pada rasa iba, melainkan
melahirkan tindakan nyata. Ketika membaca berita tentang korban banjir, seorang
Muslim terdorong membantu melalui doa, sedekah, relawan, atau
sekurang-kurangnya menyebarkan informasi yang benar. Ketika membaca berita
ketidakadilan, ia terdorong memperjuangkan keadilan sesuai kapasitasnya.
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa tidak
menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." (HR. al-Bukhari). Karena
itu, ukuran kesehatan mental dalam Islam bukan sekadar kemampuan menjaga
ketenangan diri, tetapi juga kemampuan mempertahankan kasih sayang kepada
sesama di tengah derasnya arus informasi.
Perdebatan tentang mindfulness, tone deaf,
dan "sandwich" sebenarnya bukan persoalan menu sarapan atau siapa
yang benar dan siapa yang salah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita
membangun keseimbangan antara menjaga kesehatan mental dan menjaga kepedulian
sosial.
Menutup mata
terhadap semua berita buruk dapat melahirkan apatisme, sementara tenggelam
dalam seluruh berita negatif dapat menghancurkan kesehatan jiwa. Islam
menawarkan jalan tengah: memperkuat hubungan dengan Allah, memverifikasi
informasi, menjaga hati dari kecemasan yang berlebihan, namun tetap hadir
membantu masyarakat sesuai kemampuan.
Di tengah banjir informasi digital, umat Islam
dipanggil menjadi pribadi yang tenang tetapi tidak acuh, kritis tetapi tidak
sinis, serta peduli tanpa kehilangan harapan. Sebab, seorang mukmin bukan hanya
menjaga dirinya tetap sehat secara mental, tetapi juga menjadi sumber
ketenangan, empati, dan solusi bagi orang lain.
Mungkin kita sarapan dengan sandwich, nasi goreng sisa
semalam, atau bahkan belum sempat makan karena harus bekerja sejak pagi. Namun,
apa pun kondisi kita, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak
ditentukan oleh menu sarapannya, melainkan oleh keluasan empatinya, kejernihan
akalnya, dan ketulusannya dalam menebarkan rahmat bagi sesama.
REFERENSI
Al-Bukhari, M. I. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
American Psychological Association. (2023). Stress
in America Survey.
APA Dictionary of Psychology. (2023). Compassion
Fatigue.
Brennen, J. S., & Nielsen, R. K. (2020). Reuters
Institute Factsheet: Avoiding the News. Oxford University.
Kabat-Zinn, J. (2013). Full Catastrophe Living.
Bantam Books.
Muslim ibn al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim.
Reuters Institute for the Study of Journalism. (2024).
Digital News Report 2024.
Simon, H. A. (1971). Designing Organizations for an
Information-Rich World. Johns Hopkins University Press.
World Health Organization. (2022). World Mental
Health Report.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1442/23/09/26 : 08.17
WIB)

