JANJI PEMILU BERLALU, HIDUP RAKYAT MAKIN PILU



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Dalam setiap pemilihan umum, janji politik merupakan salah satu instrumen utama untuk memperoleh mandat rakyat. Melalui visi, misi, dan program kerja, calon pemimpin menawarkan harapan akan kehidupan yang lebih baik, peningkatan kesejahteraan, terciptanya lapangan kerja, serta pemerintahan yang bersih dan berpihak kepada masyarakat.

 

Dalam teori demokrasi modern, janji kampanye bukan sekadar retorika politik, melainkan bagian dari kontrak moral antara pemimpin dan warga negara yang menjadi dasar akuntabilitas publik (Schedler, 1999; Dahl, 1989).

 

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah memasuki tahun kedua masa pemerintahannya. Bagi sebagian masyarakat, periode ini merupakan waktu yang cukup untuk mulai mengevaluasi arah kebijakan pemerintah.

 

Sebagian indikator makro mungkin menunjukkan perkembangan pada sektor tertentu, namun pada saat yang sama masih terdapat berbagai tantangan yang dirasakan masyarakat, seperti tingginya biaya hidup, kesempatan kerja yang berkualitas, ketimpangan ekonomi, tekanan terhadap daya beli, serta berbagai persoalan tata kelola kebijakan publik.

 

Perbedaan antara harapan ketika kampanye dan pengalaman masyarakat sehari-hari menjadi ruang yang wajar untuk dievaluasi secara kritis dalam negara demokrasi.

 

Islam memandang bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan politik, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari pencapaian administratif, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan keadilan, melindungi rakyat, dan memenuhi hak-hak masyarakat.

 

Kepemimpinan Adalah Amanah

 

Al-Qur'an menegaskan:"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisā': 58)

 

Ayat tersebut menempatkan amanah sebagai fondasi kepemimpinan. Dalam Islam, kekuasaan bukan hak istimewa untuk memperoleh keuntungan pribadi, melainkan tanggung jawab besar untuk mengurus urusan masyarakat (ri'ayah syu'un al-ummah).

 

Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menunjukkan bahwa pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya atas kebijakan yang dibuat, tetapi juga atas dampaknya terhadap kehidupan rakyat.

 

Ilmu politik modern menempatkan akuntabilitas sebagai inti pemerintahan demokratis. Andreas Schedler (1999) menjelaskan bahwa akuntabilitas menuntut dua hal: kewajiban pemerintah menjelaskan kebijakan (answerability) dan adanya mekanisme pertanggungjawaban (enforcement). Dengan demikian, janji kampanye menjadi dasar bagi masyarakat untuk menilai apakah kebijakan pemerintah telah berjalan sesuai mandat yang diberikan.

 

Dalam praktiknya, implementasi janji politik sering menghadapi tantangan, baik karena kondisi ekonomi global, keterbatasan fiskal, dinamika geopolitik, maupun kapasitas birokrasi. Karena itu, evaluasi terhadap pemerintah sebaiknya menggunakan indikator yang dapat diukur secara objektif, seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan, pengangguran, kualitas layanan publik, inflasi, dan daya beli, serta memperhatikan konteks yang memengaruhi pencapaiannya.

 

Pertumbuhan ekonomi yang positif tidak selalu identik dengan meningkatnya kesejahteraan seluruh masyarakat. Literatur ekonomi pembangunan menunjukkan bahwa indikator makro perlu dibaca bersama distribusi pendapatan, kesempatan kerja, kualitas pekerjaan, dan akses terhadap layanan dasar (Stiglitz, Sen, & Fitoussi, 2009).

 

Dari perspektif masyarakat, pengalaman sehari-hari seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, layanan kesehatan, atau kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak sering kali menjadi ukuran langsung terhadap keberhasilan pemerintah. Karena itu, ketika sebagian warga masih merasakan tekanan ekonomi, munculnya kritik terhadap efektivitas kebijakan merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat.

 

Program-program nasional yang berskala besar memerlukan tata kelola yang transparan, pengawasan yang efektif, serta evaluasi berbasis bukti. Dalam administrasi publik, keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau cakupan penerima manfaat, tetapi juga oleh kualitas implementasi, efisiensi penggunaan sumber daya, dan kemampuan memperbaiki kekurangan yang ditemukan selama pelaksanaan.

 

Karena itu, setiap evaluasi terhadap program pemerintah perlu bertumpu pada data yang dapat diverifikasi, audit independen, dan hasil pengawasan lembaga yang berwenang. Dengan cara demikian, kritik tidak berhenti pada penolakan, tetapi menjadi masukan konstruktif bagi perbaikan kebijakan.

 

Mendengar Kritik Adalah Tanda Pemerintahan yang Dewasa

 

Islam mengajarkan pentingnya syūrā (musyawarah) dalam penyelenggaraan pemerintahan: "Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syūrā: 38)

 

Musyawarah hanya dapat berjalan apabila terdapat ruang bagi kritik, saran, dan perbedaan pendapat yang disampaikan secara bertanggung jawab. Dalam sejarah Islam, para khalifah menerima koreksi dari sahabat dan masyarakat tanpa menganggapnya sebagai ancaman terhadap kekuasaan. Budaya menerima kritik justru memperkuat legitimasi pemerintahan karena menunjukkan adanya keterbukaan terhadap evaluasi.

 

Abu Bakar ash-Shiddiq ketika diangkat menjadi khalifah menyampaikan bahwa apabila dirinya benar maka hendaklah dibantu, dan apabila salah maka hendaklah diluruskan. Pernyataan ini mencerminkan etika kepemimpinan yang rendah hati dan terbuka terhadap koreksi.

 

Umar bin al-Khattab juga dikenal menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Dalam berbagai riwayat sejarah, beliau bahkan berpatroli pada malam hari untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Teladan tersebut menunjukkan bahwa inti kepemimpinan dalam Islam adalah pelayanan, bukan sekadar penguasaan kekuasaan.

 

Setiap pemerintahan memiliki tantangan dan keterbatasannya sendiri. Evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan tidak seharusnya berubah menjadi sekadar dukungan tanpa kritik maupun penolakan tanpa dasar. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap janji politik diterjemahkan ke dalam kebijakan yang efektif, transparan, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.

 

Dalam perspektif Islam, amanah kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Karena itu, keberhasilan pemerintah tidak cukup diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, melainkan dari sejauh mana kebijakan tersebut benar-benar menghadirkan keadilan, mengurangi penderitaan, meningkatkan kesejahteraan, dan menjaga martabat masyarakat.

 

Kritik yang berbasis data, etika, dan niat memperbaiki merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara sekaligus sejalan dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkar dalam Islam. Kritik atau amar ma’ruf nahi munkar adalah tanda cinta rakyat kepada penguasa. Penerimaan atas kritik juga bagian dari kedewassan seorang pemimpin.

 

Dalam sistem khilafah mekanisme muhasabah lil hukkam bisa berjalan dengan ideal. Ironinya, negeri ini yang konon katanya demokrasi, kritik rakyat justru dianggap sebebai ancaman dan bentuk kebencian. Mestinya negeri ini segera kembali ke Islam secara kaffah dalam mengurus segara urusan negeri dan rakyat. Sebab disitulah letak keberkahan dari Allah.

 

REFERENSI

 

Al-Ghazali. Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn.

Al-Mawardi. Al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah.

Dahl, R. A. (1989). Democracy and Its Critics. Yale University Press.

Ibn Taymiyyah. Al-Siyāsah al-Shar'iyyah.

OECD. (2023). Government at a Glance 2023. OECD Publishing.

Schedler, A. (1999). Conceptualizing accountability. In A. Schedler, L. Diamond, & M. F. Plattner (Eds.), The Self-Restraining State. Lynne Rienner.

Stiglitz, J. E., Sen, A., & Fitoussi, J.-P. (2009). Report by the Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1462/26/10/26 : 07.48 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad