MENAKAR APOLOGI ROCKY GERUNG SEBAGAI WATIMPRES



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, intelektual publik mempunyai posisi yang unik. Ia bukan pejabat negara, tetapi pikirannya dapat memengaruhi kebijakan ; bukan pemegang kekuasaan, tetapi kritiknya dapat mengoreksi kekuasaan. Edward Said menggambarkan intelektual sebagai figur yang memiliki keberanian “speak truth to power”, menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan sekalipun berisiko kehilangan kenyamanan dan penerimaan sosial.

 

Noam Chomsky menggunakan formulasi yang hampir senada : tanggung jawab intelektual adalah menemukan kebenaran dan membongkar kebohongan, terutama ketika mereka mempunyai akses, pendidikan, dan sumber daya yang tidak dimiliki masyarakat luas. Keberadaan intelektual kritis merupakan salah satu mekanisme informal yang penting dalam sebuah bangsa. Kekuasaan diawasi bukan hanya oleh parlemen, pengadilan, dan pers, tetapi juga oleh masyarakat ilmu yang memiliki independensi berpikir.

 

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika seorang intelektual yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengkritik pemerintah kemudian menerima jabatan dalam pemerintahan. Secara akademik normatif, keduanya merupakan kemungkinan yang harus diuji melalui perilaku dan hasil. Namun sistem demokrasi sekuler, keterlibatan dalam pemerintahan adalah hasil kompromi dan cenderung pragmatis, ini sudah menjadi rahasia umum.

 

Seseorang yang sebelumnya berbicara dari luar institusi kini terikat oleh mekanisme administratif, tanggung jawab kelembagaan, kerahasiaan tertentu, disiplin organisasi, dan konsekuensi konkret dari keputusan yang diambilnya. Karena itu, perbedaannya bukan sekadar geografis, dulu di luar, sekarang di dalam, melainkan perubahan struktur perilaku.

 

Seorang kritikus dapat menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan; seorang pejabat harus ikut bertanggung jawab terhadap apa yang benar-benar dikerjakan. Dalam demokrasi pragmatis, kritikus hanya boleh berada di luar pemerintahan dengan menyebut dirinya sebagai kritikus atau oposisi. Kalau sudah bergabung ya bukan lagi kritikus namanya.

 

Dari Kritik Menuju Kekuasaan : Kooptasi atau Kolaborasi?

 

Fenomena masuknya seorang RG yang selama ini berada di luar pemerintahan menimbulkan berbagai spekulasi masyarakat. Mayoritas menyayangkan sikap RG yang kini justru menjadi bawahan orang-orang yang dulunya banyak mendapat kritik darinya. Terlebih lagi dengan menjadi watimpres, maka akan mendapatkan gaji dari uang rakyat dan mendapatkan fasilitas setara dengan menteri. Pemerintahan saat ini cenderung anti kritik. Apakah RG setelah menjadi watimpres akan mati-matian membela pemerintahan dengan segudang apologinya ?.

 

Literatur ilmu politik memberikan beberapa penjelasan terhadap masuknya figur kritis ke dalam institusi kekuasaan. Salah satunya adalah co-optation atau kooptasi. Philip Selznick menggunakan konsep ini untuk menjelaskan proses ketika organisasi memasukkan individu atau kelompok yang sebelumnya berada di luar struktur kekuasaan guna memperoleh dukungan, legitimasi, atau mengurangi resistensi.

 

Kajian berikutnya tentang kooptasi menekankan bahwa masuknya kelompok penantang ke dalam struktur otoritas dapat mengubah baik institusi maupun aktor yang bergabung di dalamnya. Kooptasi bukan satu-satunya kemungkinan. Masuknya intelektual ke pemerintahan juga dapat dibaca sebagai policy collaboration, yakni usaha mengubah kebijakan dari dalam.

 

Pemerintahan membutuhkan pengetahuan, analisis, dan kritik internal agar tidak terjebak dalam groupthink. Dalam skenario ini, intelektual tidak berhenti kritis, tetapi mengubah lokus kritiknya : dari ruang publik menuju ruang pengambilan keputusan. Meski hal ini mustahil, sebagaimana diungkap oleh RG bahwa dirinya atau watimpres berada di ruang etis, bukan teknis apalagi politis.

 

Jadi apa sebenarnya motif RG menerima tawaran sebagai watimpres, sementara sebelumnya dia begitu keras dan kasar mengkritik Prabowo dan jajaran kabinet lainnya. Dia sendiri dengan retorikanya di depan wartawan mengatakan : apa alasan saya untuk menolak ?. Pertanyaan yang justru harus dijawab oleh dia sendiri.

 

Bukanlah dalam sebuah potcast dia menegaskan akan menolak tawaran jabatan pemerintah dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya ?. Dimana letak konsistensi pernyataannya ?. Dengan ringan dia menjawab wartawan : saya cuma pindah dari luar ke dalam, saya tetap radikal. Pertanyaannya jika sama, kenapa mesti pindah. Padahal secara empiric sangat jelas bahwa berbeda antara berada dalam pemerintahan dan di luar pemerintahan. Anak SD juga tahu itu.

 

Dalam teori politik, kemungkinan ketiga adalah transformasi peran. Ketika posisi seseorang berubah, tanggung jawab etiknya juga berubah. Intelektual bebas terutama bertanggung jawab kepada kebenaran argumentatif dan publik ; pejabat publik harus menambahkan tanggung jawab terhadap konsekuensi kebijakan, hukum, penggunaan anggaran, dan kepentingan masyarakat. Ini teorinya, namun faktanya biasanya sebaliknya. Pemerintahan seringkali justru mengambil kebijakan yang bertentangan dengan kehendak rakyatnya.

 

Karena beberapa penjelasan tersebut sama-sama mungkin, motif pribadi seseorang tidak dapat disimpulkan hanya dari keputusannya menerima jabatan. Yang dapat dinilai secara ilmiah adalah rekam tindakan setelah masuk ke pemerintahan : apakah ia mempertahankan konsistensi intelektual, menghasilkan perbaikan kebijakan, tetap terbuka terhadap kritik, atau justru kehilangan independensinya ?.

 

Benda, Gramsci, Chomsky, Said, dan Weber

 

Julien Benda dalam La Trahison des Clercs, diterjemahkan sebagai The Treason of the Intellectuals, memberikan salah satu kritik paling keras terhadap intelektual yang menundukkan pencarian kebenaran kepada kepentingan politik, nasionalisme, dan keuntungan material.

 

Bagi Benda, tragedi intelektual terjadi ketika mereka meninggalkan nilai universal demi menjadi pembela kepentingan kekuasaan atau kelompok tertentu. Gagasan Benda melahirkan parameter penting : kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh mengalahkan independensi penilaian.

 

Antonio Gramsci memiliki perspektif berbeda. Ia menolak anggapan bahwa intelektual sepenuhnya berdiri di luar struktur sosial. Konsep organic intellectual menjelaskan bahwa intelektual selalu mempunyai hubungan dengan kelompok sosial dan ikut membentuk kesadaran serta hegemoni.

 

Dalam Prison Notebooks, Gramsci bahkan menjelaskan bagaimana intelektual dapat berfungsi sebagai penghubung antara masyarakat sipil dan kekuasaan negara. Perspektif Gramsci mengingatkan bahwa “independensi total” tidak selalu sederhana ; yang lebih penting adalah menyadari posisi sosial dan kepentingan yang memengaruhi produksi gagasan.

 

Edward Said kembali menguatkan dimensi kritis intelektual. Dalam Representations of the Intellectual, Said melihat intelektual ideal sebagai sosok yang tidak mudah dikooptasi uang, kekuasaan, atau profesionalisme sempit. Chomsky bahkan menegaskan bahwa akses istimewa intelektual terhadap pendidikan dan informasi menimbulkan tanggung jawab lebih besar untuk mencari kebenaran dan membantu masyarakat memahami struktur kekuasaan.

 

Max Weber memberikan perspektif yang sangat relevan ketika intelektual masuk ke pemerintahan. Ia membedakan ethic of conviction (Gesinnungsethik) dan ethic of responsibility (Verantwortungsethik). Orang yang bertindak berdasarkan keyakinan mempertahankan prinsip moralnya ; sementara orang yang memegang tanggung jawab politik harus memperhitungkan konsekuensi nyata dari setiap keputusan.

 

Weber tidak memandang keduanya sebagai pilihan sederhana. Politik yang matang memerlukan perpaduan keyakinan dan tanggung jawab. Artinya, ketika seorang intelektual menerima jabatan publik, ujian sesungguhnya justru dimulai: mampukah prinsip yang dulu dikatakan dari luar diterjemahkan menjadi kebijakan ketika harus menghadapi keterbatasan anggaran, birokrasi, kompromi, dan konsekuensi politik?

 

Belajar dari Sejarah

 

Sejarah memperlihatkan dua jalur berbeda. Chomsky mempertahankan posisi sebagai akademisi dan kritikus politik tanpa menjadi pejabat pemerintahan; hal tersebut memberinya ruang besar untuk melakukan kritik terhadap kebijakan negara dari luar institusi. Edward Said juga dikenal terutama melalui peran akademik dan intelektual publiknya.

 

Sebaliknya, terdapat intelektual yang memasuki pemerintahan. Henry Kissinger, misalnya, berasal dari lingkungan akademik Harvard sebelum menjadi penasihat keamanan nasional dan kemudian Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada 1973–1977.

 

Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa memasuki kekuasaan memberikan kesempatan memengaruhi kebijakan secara langsung, tetapi sekaligus membuat seorang intelektual harus mempertanggungjawabkan keputusan negara yang turut dibentuknya.

 

Masuk atau tidaknya seorang intelektual ke pemerintahan bukan parameter tunggal integritas; parameter yang lebih relevan adalah apa yang dilakukan terhadap kekuasaan setelah ia memilikinya.

 

Perspektif Islam : Jabatan adalah Amanah

 

Islam memberikan parameter yang lebih fundamental. Jabatan bukan sekadar kesempatan melakukan perubahan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil." (QS. An-Nisa' [4]: 58).

 

Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Dua prinsip tersebut menempatkan jabatan pada tiga parameter : amanah, keadilan, dan akuntabilitas. Karena itu, dalam perspektif Islam, pertanyaan penting bagi seorang intelektual yang memasuki pemerintahan bukanlah semata-mata “mengapa menerima jabatan?”, tetapi: apakah ilmu tetap disampaikan secara jujur; apakah keberanian mengatakan yang benar tetap terpelihara; apakah kekuasaan dipergunakan untuk kemaslahatan; dan apakah kedekatan kepada penguasa mengubah standar kebenaran yang sebelumnya diperjuangkan?

 

Relasi intelektual dengan kekuasaan memang tidak pernah sederhana. Tetap berada di luar pemerintahan memberikan kebebasan kritik yang lebih luas tetapi tidak selalu memberikan akses langsung terhadap proses pengambilan keputusan. Masuk ke pemerintahan memberikan peluang mengubah kebijakan dari dalam, tetapi juga menghadirkan risiko kooptasi, kompromi berlebihan, konflik kepentingan, dan hilangnya jarak kritis.

 

Teori Benda mengingatkan bahaya intelektual yang menjual independensinya; Gramsci menunjukkan keterkaitan intelektual dengan struktur kekuasaan; Said dan Chomsky menegaskan kewajiban menyampaikan kebenaran; sedangkan Weber mengingatkan bahwa ketika seseorang memegang kekuasaan, keyakinan moral harus bertemu dengan tanggung jawab terhadap konsekuensi.

 

Ujian seorang intelektual bukan hanya keberaniannya mengkritik kekuasaan ketika berada di luar. Ujian yang lebih berat adalah apakah ia masih mampu menjaga keberanian intelektual ketika dirinya sendiri telah menjadi bagian dari struktur kekuasaan. Dalam perspektif Islam, jabatan tidak membebaskan seorang intelektual dari kewajiban mengatakan yang benar. Sebaliknya, semakin besar kekuasaan yang diterima, semakin besar pula amanah dan pertanggungjawabannya.

 

Referensi

 

Al-Ghazali. (2005). Ihya' 'Ulum al-Din. Dar al-Ma'rifah.

Al-Mawardi. (1996). Al-Ahkam al-Sultaniyyah wa al-Wilayat al-Diniyyah. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Aron, R. (1957). The opium of the intellectuals. Secker & Warburg.

Benda, J. (2006). The treason of the intellectuals (R. Aldington, Trans.). Transaction Publishers. (Original work published 1927).

Berlin, I. (1969). Four essays on liberty. Oxford University Press.

Chomsky, N. (1967). The responsibility of intellectuals. The New York Review of Books, 8(3).

Couto, R. A. (1988). TVA's old and new grass roots: A reexamination of cooptation. Administration & Society, 19(4), 453–478.

Coy, P. G. (2013). Co-optation. In The Wiley-Blackwell encyclopedia of social and political movements. Wiley-Blackwell.

Foucault, M. (1980). Power/knowledge: Selected interviews and other writings, 1972–1977. Pantheon Books.

Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks (Q. Hoare & G. N. Smith, Eds. & Trans.). International Publishers.

Habermas, J. (1989). The structural transformation of the public sphere. MIT Press.

Ibn Taymiyyah. (1998). Al-Siyasah al-Shar'iyyah fi Islah al-Ra'i wa al-Ra'iyyah. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Mills, C. W. (1956). The power elite. Oxford University Press.

Said, E. W. (1994). Representations of the intellectual: The 1993 Reith lectures. Vintage.

Selznick, P. (1949). TVA and the grass roots: A study in the sociology of formal organization. University of California Press.

Starr, B. E. (1999). The structure of Max Weber's ethic of responsibility. Journal of Religious Ethics, 27(3), 407–434.

Walzer, M. (1973). Political action: The problem of dirty hands. Philosophy & Public Affairs, 2(2), 160–180.

Weber, M. (2004). Politics as a vocation. In D. Owen & T. B. Strong (Eds.), The vocation lectures (R. Livingstone, Trans., pp. 32–94). Hackett Publishing.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1445/05/10/26 : 08.50 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad