Oleh : Ahmad Sastra
Nama David Hume (1711–1776) hampir selalu muncul dalam
setiap pembahasan mengenai empirisme dan skeptisisme modern. Filsuf Skotlandia
ini dikenal sebagai tokoh yang mengguncang fondasi epistemologi Barat melalui
kritiknya terhadap kepastian pengetahuan, hubungan sebab-akibat (causality),
mukjizat, dan metafisika.
Pengaruh Hume begitu besar sehingga Immanuel Kant
mengaku bahwa pemikiran Hume telah "membangunkannya dari tidur
dogmatis." Bahkan hingga kini, problem induksi Hume masih menjadi salah
satu perdebatan paling penting dalam filsafat ilmu modern.
Meskipun demikian, dari perspektif epistemologi Islam,
skeptisisme Hume tidak sepenuhnya dapat diterima. Islam mengakui pentingnya
pengalaman empiris dan akal sebagai instrumen memperoleh ilmu, tetapi keduanya
bukan satu-satunya sumber pengetahuan.
Wahyu menjadi sumber pengetahuan tertinggi yang
memberikan kepastian (yaqin) mengenai realitas metafisik, tujuan hidup,
dan hukum-hukum Allah. Kritik Islam terhadap Hume bukan berarti menolak
empirisme secara keseluruhan, melainkan mengkritik reduksi pengetahuan hanya
kepada pengalaman inderawi dan kebiasaan psikologis.
Hume membangun filsafatnya di atas tradisi empirisme
Inggris yang sebelumnya dikembangkan John Locke dan George Berkeley. Menurut
Hume, seluruh isi pikiran manusia berasal dari pengalaman (impressions)
yang kemudian melahirkan ide-ide (ideas). Tidak ada konsep dalam pikiran
yang tidak berakar pada pengalaman empiris.
Dari asumsi tersebut, Hume kemudian mengembangkan
skeptisisme terhadap hubungan sebab-akibat. Ketika api membakar kayu, menurut
Hume kita sebenarnya tidak pernah melihat "kekuatan sebab" yang
menghubungkan keduanya. Yang kita lihat hanyalah dua peristiwa yang
terus-menerus muncul bersama.
Karena sering melihat keteraturan tersebut, manusia
membentuk kebiasaan (custom atau habit) untuk mempercayai bahwa
api menyebabkan kayu terbakar. Dengan demikian, hubungan kausal bukanlah
pengetahuan rasional yang pasti, melainkan kebiasaan psikologis.
Pandangan inilah yang kemudian melahirkan problem
induksi. Menurut Hume, tidak ada dasar rasional yang membuktikan bahwa masa
depan pasti mengikuti pola masa lalu. Matahari memang selalu terbit setiap
pagi, tetapi secara logis tidak ada jaminan bahwa esok akan tetap demikian.
Keyakinan manusia semata-mata dibangun oleh kebiasaan pengalaman sebelumnya,
bukan kepastian rasional.
Ironisnya, Hume tidak bermaksud menghancurkan ilmu
pengetahuan. Ia justru ingin menunjukkan keterbatasan akal manusia. Namun
banyak filsuf sesudahnya melihat bahwa skeptisisme Hume menimbulkan persoalan
serius bagi fondasi ilmu pengetahuan.
Jika hubungan sebab-akibat hanyalah kebiasaan
psikologis, maka seluruh sains modern sebenarnya berdiri di atas asumsi yang
tidak pernah dapat dibuktikan secara mutlak. Padahal metode ilmiah bergantung
pada keyakinan bahwa alam memiliki keteraturan yang dapat dipelajari.
Karena itu, problem induksi Hume hingga kini masih
dipandang sebagai salah satu tantangan terbesar dalam epistemologi modern.
Berbagai teori, mulai dari Karl Popper hingga pendekatan probabilistik
kontemporer, berusaha menjawab tantangan tersebut, meskipun belum menghasilkan
konsensus final.
Perspektif Epistemologi Islam
Dalam perspektif Islam, kelemahan mendasar skeptisisme
Hume terletak pada penyempitan sumber ilmu. Islam memandang bahwa pengetahuan
berasal dari tiga sumber yang saling melengkapi : (1) Wahyu (al-wahy).
(2) Akal (al-'aql). (3) Pengalaman inderawi (al-hiss). Ketiganya
bekerja secara harmonis, bukan saling meniadakan. Melalui proses berpikir,
manusia dalam pandangan Islam akan mendapatkan ilmu.
Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia
menggunakan akal. "Tidakkah kamu menggunakan akal?" (QS.
Al-Baqarah [2]: 44). Allah juga berfirman: "Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka
sendiri." (QS. Fussilat [41]: 53)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pengamatan empiris
memiliki kedudukan penting dalam Islam. Namun pengamatan tersebut tidak berdiri
sendiri, melainkan mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Sang
Pencipta.
Islam menerima adanya hukum sebab-akibat sebagai
bagian dari sunnatullah, yaitu keteraturan yang Allah tetapkan di alam semesta.
Allah berfirman: "Engkau tidak akan mendapati perubahan pada
sunnatullah." (QS. Fathir [35]: 43).
Dengan demikian, keteraturan alam bukan sekadar
kebiasaan psikologis manusia sebagaimana diasumsikan Hume, tetapi merupakan
manifestasi hukum Allah yang konsisten.
Ibnu Sina menjelaskan bahwa alam memiliki keteraturan
rasional yang dapat dipahami melalui akal. Al-Ghazali memang mengkritik
filsafat tentang keniscayaan kausalitas, tetapi ia tidak menolak adanya
keteraturan alam. Menurut Al-Ghazali, sebab bekerja karena kehendak Allah,
bukan secara independen dari-Nya. Mukjizat menjadi mungkin justru karena Allah
adalah Pengatur hukum alam tersebut.
Skeptisisme Hume juga berdampak pada penolakannya
terhadap banyak klaim metafisis yang tidak dapat diverifikasi melalui
pengalaman langsung. Dalam Islam, realitas tidak terbatas pada dunia fisik.
Keberadaan malaikat, wahyu, hari akhir, surga, neraka, dan kehidupan setelah mati
merupakan bagian dari al-ghayb yang diketahui melalui wahyu.
Allah berfirman: "Yaitu mereka yang beriman
kepada perkara gaib." (QS. Al-Baqarah [2]: 3). Dalam perspektif Islam,
keterbatasan pengalaman inderawi tidak berarti sesuatu tidak ada. Banyak
realitas yang melampaui jangkauan observasi manusia tetapi tetap benar karena
diinformasikan oleh wahyu.
Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan bahwa
krisis ilmu modern terjadi ketika Barat memisahkan pengetahuan dari wahyu.
Akibatnya, ilmu menjadi sekuler, relativistik, dan kehilangan orientasi moral.
Menurut Al-Attas, ilmu bukan sekadar akumulasi fakta
empiris, tetapi pengenalan terhadap tempat segala sesuatu secara benar dalam
tatanan ciptaan Allah. Wahyu memberikan orientasi yang tidak dapat disediakan
oleh empirisme semata.
Ismail Raji al-Faruqi juga mengkritik dikotomi antara
ilmu agama dan ilmu modern.
Menurutnya, ilmu yang benar harus mengintegrasikan: wahyu,
akal, pengalaman empiris,
dalam kerangka tauhid.
Dengan paradigma tauhid, ilmu pengetahuan tidak
berhenti pada penjelasan bagaimana alam bekerja, tetapi juga menjawab mengapa
alam diciptakan dan bagaimana manusia harus mengelolanya.
Skeptisisme David Hume memberikan jasa besar dalam
mengingatkan manusia akan keterbatasan akal dan pentingnya kehati-hatian dalam
menarik kesimpulan. Kritiknya terhadap induksi mendorong perkembangan filsafat
ilmu modern dan memperkaya diskusi epistemologi hingga hari ini. Namun, dari
perspektif Islam, skeptisisme tersebut menjadi problematis apabila berkembang
menjadi relativisme yang menafikan kepastian pengetahuan yang bersumber dari
wahyu.
Islam menawarkan paradigma epistemologi yang lebih
integratif. Pengalaman empiris tetap penting, akal tetap digunakan secara
maksimal, tetapi keduanya berada di bawah bimbingan wahyu. Dengan demikian,
tujuan ilmu bukan sekadar menjelaskan fenomena, melainkan mengantarkan manusia
kepada hikmah, yaitu pengenalan terhadap Allah, keteraturan ciptaan-Nya, dan
tanggung jawab moral dalam memakmurkan bumi.
Dalam kerangka ini, kepastian tertinggi tidak berasal
dari kebiasaan psikologis manusia, melainkan dari kebenaran wahyu yang menjadi
cahaya bagi akal dan pengalaman.
Referensi
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the
Metaphysics of Islam. ISTAC.
Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge:
General Principles and Work Plan. IIIT.
Al-Ghazali. (2000). Tahafut al-Falasifah. Dar
al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Hume, D. (2000). A Treatise of Human Nature.
Oxford University Press. (Karya asli diterbitkan 1739).
Hume, D. (2007). An Enquiry Concerning Human
Understanding. Oxford University Press. (Karya asli diterbitkan 1748).
Ibn Sina. (2005). Al-Shifa': Al-Ilahiyyat. Dar
al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Kant, I. (1998). Critique of Pure Reason.
Cambridge University Press.
Popper, K. R. (2002). The Logic of Scientific
Discovery. Routledge.
Russell, B. (1946). History of Western Philosophy.
Simon & Schuster.
The Stanford Encyclopedia of Philosophy. David Hume.
The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Skepticism.
The Stanford Encyclopedia of Philosophy. The
Problem of Induction.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1446/05/10/26 : 15.49
WIB)

