PENGUASA JANGAN MERENDAHKAN PARA PAKAR DAN ILMUWAN



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ucapan seorang pemimpin negara tidak pernah berhenti pada sekadar rangkaian kata. Setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang presiden membawa konsekuensi politik, etika, bahkan budaya. Ketika Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah pidato pada Milad Partai Amanat Nasional (PAN) pada September 2026 melontarkan istilah "goblok" yang ditujukan kepada para pakar dalam konteks kritik terhadap pemerintah, perhatian publik kembali tertuju pada gaya komunikasi politik seorang kepala negara.

 

Terlepas dari perdebatan mengenai konteks maupun maksud ucapan tersebut, polemik ini menghadirkan pertanyaan yang lebih penting: bagaimana seharusnya relasi antara penguasa dan komunitas ilmiah dibangun dalam sebuah negara demokratis dan negara hukum?

 

Persoalan ini sesungguhnya jauh melampaui polemik mengenai satu kata. Yang dipertaruhkan adalah budaya politik, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, serta ruang kritik yang sehat dalam kehidupan berbangsa. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan suatu peradaban selalu ditandai oleh adanya dialog yang terbuka antara penguasa dan para ilmuwan. Sebaliknya, ketika kritik dipandang sebagai ancaman, ilmu pengetahuan kehilangan perannya sebagai korektor kebijakan publik.

 

Dalam teori demokrasi modern, kritik merupakan bagian integral dari mekanisme checks and balances. Robert A. Dahl (1989) menjelaskan bahwa demokrasi hanya dapat tumbuh apabila terdapat kebebasan menyampaikan pendapat, kebebasan akademik, serta ruang bagi warga negara untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara, melainkan mekanisme koreksi agar kebijakan publik semakin mendekati kepentingan masyarakat.

 

Karl Popper bahkan menyebut masyarakat terbuka (open society) sebagai masyarakat yang memberi ruang bagi kritik rasional. Menurut Popper (1966), kemajuan ilmu maupun pemerintahan lahir bukan karena semua orang sepakat, tetapi karena adanya keberanian menguji, mempertanyakan, bahkan mengoreksi kebijakan yang dianggap keliru. Dalam perspektif ini, kritik para akademisi bukanlah hambatan pembangunan, melainkan instrumen untuk memperbaiki kualitas keputusan politik.

 

Peran ilmuwan memang berbeda dengan politisi. Seorang politisi mempertimbangkan aspek elektoral, stabilitas politik, dan kepentingan pemerintahan. Sebaliknya, ilmuwan bertanggung jawab kepada metodologi ilmiah, data empiris, dan integritas akademik. Max Weber dalam Science as a Vocation menjelaskan bahwa tugas ilmuwan bukan menyenangkan penguasa, melainkan menyampaikan kebenaran ilmiah sejauh yang dapat dibuktikan melalui penelitian. Karena itu, kritik akademik sering kali terdengar tidak nyaman, tetapi justru itulah fungsi ilmu pengetahuan.

 

Noam Chomsky juga berulang kali menegaskan bahwa kaum intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk mengatakan kebenaran kepada kekuasaan (speaking truth to power). Dalam pandangannya, intelektual yang hanya mengulang narasi penguasa kehilangan fungsi sosialnya sebagai penjaga nalar publik (Chomsky, 1967).

 

Edward Said (1994) mengemukakan hal yang serupa bahwa intelektual sejati adalah mereka yang menjaga independensi moral, bahkan ketika pendapatnya tidak populer di hadapan pemerintah.

 

Dalam konteks Indonesia, kritik para pakar sering kali lahir dari kepedulian terhadap kualitas kebijakan publik. Para ekonom mengkritik kebijakan fiskal, ahli lingkungan mengkritik kerusakan ekologi, pakar hukum mengingatkan potensi pelanggaran konstitusi, dan akademisi pendidikan mengevaluasi mutu pembelajaran.

 

Kritik tersebut merupakan konsekuensi logis dari tanggung jawab profesional mereka. Gelar akademik bukan sekadar simbol prestise, tetapi amanah intelektual untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat.

 

Menariknya, banyak ilmuwan justru menyadari keterbatasan dirinya. Fenomena yang dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect menunjukkan bahwa semakin seseorang menguasai suatu bidang ilmu, semakin besar kesadarannya akan kompleksitas persoalan yang belum diketahuinya (Kruger & Dunning, 1999).

 

Karena itu, kerendahan hati intelektual (intellectual humility) merupakan salah satu ciri ilmuwan sejati. Socrates bahkan dikenal melalui ungkapannya, "Aku tahu bahwa aku tidak tahu." Kesadaran akan keterbatasan inilah yang mendorong ilmuwan terus meneliti dan membuka diri terhadap kritik.

 

Namun, apabila pelabelan negatif terhadap kelompok akademik, jurnalis, atau pengkritik pemerintah terus berulang, muncul kekhawatiran mengenai kualitas ruang publik. Freedom House dan berbagai studi tentang demokrasi menunjukkan bahwa salah satu gejala kemunduran demokrasi adalah melemahnya penghormatan terhadap kritik dan meningkatnya delegitimasi terhadap kelompok yang berbeda pendapat.

 

Dalam situasi seperti itu, masyarakat dapat mengalami spiral of silence, yaitu kecenderungan enggan menyampaikan pendapat karena khawatir mendapat stigma atau tekanan sosial.

 

Padahal, seorang presiden memegang posisi simbolik yang sangat kuat. Gaya komunikasi seorang kepala negara akan membentuk budaya komunikasi birokrasi di bawahnya. Ketika pemimpin menggunakan bahasa yang menghormati perbedaan pendapat, aparatur negara cenderung meneladani sikap tersebut. Sebaliknya, jika komunikasi politik didominasi oleh pelabelan dan diksi yang merendahkan, budaya dialog rasional berpotensi tergantikan oleh polarisasi dan personalisasi.

 

Dalam perspektif Islam, penghormatan terhadap ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diawali dengan perintah membaca: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq [96]: 1)

 

Ayat pertama ini menunjukkan bahwa fondasi peradaban Islam dibangun di atas ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan apabila Allah SWT kemudian berfirman: "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

 

Al-Qur'an juga memberikan pertanyaan retoris yang sangat mendalam: "Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar [39]: 9)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan penghormatan khusus kepada ilmu dan orang-orang yang mengembangkannya. Karena itu, relasi antara penguasa dan ilmuwan dalam Islam idealnya dibangun di atas penghormatan, dialog, dan pencarian kebenaran.

Rasulullah SAW sendiri menerima kritik dan masukan dari para sahabat dalam berbagai urusan duniawi.

 

Dalam Perang Badar, beliau menerima usulan Hubab bin al-Mundzir mengenai strategi penempatan pasukan. Dalam Perang Khandaq, beliau menerima gagasan Salman al-Farisi untuk menggali parit sebagai strategi pertahanan. Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Nabi bukanlah kepemimpinan yang antikritik, melainkan kepemimpinan yang terbuka terhadap argumentasi yang lebih baik.

 

Al-Qur'an juga memerintahkan musyawarah dalam penyelenggaraan urusan publik: "...Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159). Ayat lain menyebutkan bahwa salah satu ciri masyarakat beriman adalah: "...sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka..." (QS. Asy-Syura [42]: 38)

 

Musyawarah tidak akan berjalan apabila kritik dipersepsikan sebagai permusuhan. Sebaliknya, musyawarah membutuhkan keberanian menyampaikan pendapat secara jujur dan kesiapan pemimpin mendengarkan masukan.

 

Rasulullah SAW juga bersabda: "Agama adalah nasihat." (HR. Muslim No. 55). Hadis ini menunjukkan bahwa memberi nasihat kepada pemimpin merupakan bagian dari ajaran Islam. Nasihat tentu harus disampaikan dengan adab, argumentasi, dan niat yang baik. Namun pada saat yang sama, pemimpin juga dituntut memiliki kelapangan dada untuk menerimanya.

 

Tentu setiap presiden memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Perbedaan gaya merupakan hal yang wajar dalam politik. Akan tetapi, jabatan presiden bukan sekadar jabatan administratif. Ia merupakan simbol persatuan bangsa, representasi negara di mata dunia, sekaligus teladan etika bagi aparatur pemerintahan. Oleh karena itu, setiap ucapan yang berpotensi merendahkan kelompok tertentu layak dievaluasi secara kritis sebagai bagian dari pembelajaran demokrasi.

 

Pada akhirnya, negara yang maju bukanlah negara yang dipenuhi pujian kepada penguasa, melainkan negara yang menyediakan ruang aman bagi kritik yang bertanggung jawab. Penguasa membutuhkan ilmuwan untuk menguji kebijakan dengan data, sementara ilmuwan membutuhkan negara yang menjamin kebebasan akademik.

 

Hubungan keduanya seharusnya bersifat saling menguatkan, bukan saling mencurigai. Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar lahir ketika ilmu dihormati dan kritik dipandang sebagai sahabat, bukan sebagai musuh. Sebab, kekuasaan tanpa kritik mudah terjebak dalam kesalahan, sedangkan ilmu tanpa keberanian menyampaikan kebenaran akan kehilangan makna sosialnya.

 

Referensi

 

Chomsky, N. (1967). The responsibility of intellectuals. New York Review of Books.

Dahl, R. A. (1989). Democracy and its critics. Yale University Press.

Freedom House. (2025). Freedom in the World 2025.

Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and unaware of it. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121–1134.

Muslim, I. H. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Ṭayyibah.

Popper, K. R. (1966). The open society and its enemies. Princeton University Press.

Said, E. W. (1994). Representations of the intellectual. Vintage Books.

Weber, M. (1946). Science as a vocation. In H. H. Gerth & C. W. Mills (Eds.), From Max Weber: Essays in sociology. Oxford University Press.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1454/12/10/26 : 13.28 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad