Oleh : Ahmad Sastra
Dakwah bukanlah perjalanan yang selalu dipenuhi
keberhasilan dan penerimaan. Sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW justru memperlihatkan
bahwa jalan perubahan selalu diiringi oleh ujian, penolakan, intimidasi, bahkan
kekerasan fisik. Salah satu episode paling dramatis dalam sejarah dakwah Islam
adalah peristiwa Thaif, yang oleh banyak ulama sirah disebut sebagai salah satu
fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah SAW.
Peristiwa tersebut terjadi setelah wafatnya Abu Thalib
dan Khadijah RA, yang dikenal sebagai 'Am al-Huzn (Tahun Kesedihan).
Dalam situasi kehilangan pelindung politik dan emosional, Rasulullah SAW
mencari medan dakwah baru di kota Thaif. Namun, harapan itu berujung pada
penolakan, penghinaan, dan pelemparan batu hingga kaki beliau berdarah (Ibn
Hisham, 2001).
Menariknya, Rasulullah tidak merespons krisis dengan
kemarahan, balas dendam, atau keputusasaan. Sebaliknya, beliau menunjukkan
kecerdasan spiritual (spiritual intelligence), kecerdasan emosional (emotional
intelligence), serta kepemimpinan profetik yang luar biasa.
Dari perspektif ilmu komunikasi modern, respons Nabi
merupakan contoh ideal crisis management, conflict communication, persuasive
communication, dan transformational leadership.
Al-Qur'an menegaskan bahwa ujian merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari perjuangan dakwah. "Apakah manusia mengira bahwa
mereka akan dibiarkan mengatakan: 'Kami telah beriman', sedangkan mereka belum
diuji?" (QS. Al-'Ankabut [29]: 2).
Allah juga berfirman: "Sungguh Kami akan menguji
kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS.
Al-Baqarah [2]: 155). Dalam perspektif Fikih Sirah, krisis bukan tanda
kegagalan dakwah, melainkan bagian dari proses tarbiyah Allah terhadap para
pembawa risalah (Al-Buthi, 2000).
Peristiwa Thaif : Krisis Dakwah yang Sangat Berat
Menurut Ibn Ishaq dan Ibn Hisham, Rasulullah SAW
mendatangi tiga pemimpin Bani Tsaqif dengan harapan memperoleh perlindungan dan
kesempatan berdakwah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Beliau dicemooh dan
diusir. Anak-anak dan budak diperintahkan melempari beliau dengan batu. Darah
mengalir dari kedua kaki Rasulullah hingga memenuhi sandal beliau.
Beliau kemudian berlindung di kebun milik Utbah dan
Syaibah. Di tempat itulah Rasulullah memanjatkan doa yang sangat terkenal. "Ya
Allah, kepada-Mulah aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya dayaku, dan
kehinaanku di hadapan manusia..." Doa ini menunjukkan bahwa Nabi tidak
mengadu kepada manusia, melainkan langsung kepada Allah SWT.
Kecerdasan Spiritual Rasulullah dalam Menghadapi
Krisis
Ketika Malaikat Jibril menawarkan untuk menghancurkan
penduduk Thaif dengan menimpakan dua gunung kepada mereka, Rasulullah justru
menolak. Beliau bersabda: "Aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan
mereka orang-orang yang hanya menyembah Allah semata." (HR. al-Bukhari No.
3231; Muslim No. 1795)
Inilah puncak pengendalian emosi. Dalam psikologi
modern, seseorang yang mampu mengendalikan kemarahan saat diperlakukan tidak
adil menunjukkan tingkat emotional regulation yang sangat tinggi (Gross, 2015).
Rasulullah tidak melihat manusia berdasarkan kesalahan hari ini, tetapi
berdasarkan potensi hidayah di masa depan.
Prinsip Manajemen Krisis Rasulullah. Pertama, Tidak
Reaktif. Dalam teori komunikasi krisis, keputusan yang diambil ketika emosi
memuncak sering menghasilkan kesalahan besar (Coombs, 2019). Rasulullah justru
menahan diri. Allah berfirman: "Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih
baik." (QS. Fussilat [41]: 34).
Kedua, Tetap Berorientasi pada Misi. Penolakan Thaif
tidak mengubah visi dakwah.
Beliau tidak berkata: "Saya berhenti
berdakwah." Sebaliknya, beliau melanjutkan perjalanan dakwah hingga
akhirnya Allah membuka jalan hijrah ke Madinah. Hal ini sesuai firman Allah: "Maka
tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan." (QS. Hud
[11]: 112).
Ketiga, Mengubah Krisis Menjadi Peluang. Peristiwa
Thaif ternyata menjadi awal masuknya Adas—seorang Nasrani—ke dalam Islam. Beberapa
tahun kemudian, justru penduduk Thaif menerima Islam secara sukarela. Dalam
teori kepemimpinan modern, kemampuan mengubah kegagalan menjadi peluang disebut
adaptive leadership (Heifetz et al., 2009).
Keempat, Mengutamakan Kasih Sayang. Allah
menggambarkan Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam. "Kami tidak
mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS.
Al-Anbiya [21]: 107). Karena itu dakwah Rasulullah selalu mengedepankan belas
kasih daripada dendam.
Menurut Aristoteles, komunikasi persuasif dibangun
oleh tiga unsur: (1) Ethos (kredibilitas) (2) Pathos (emosi) dan (3) Logos
(argumentasi). Menariknya, Rasulullah telah mempraktikkan ketiganya jauh
sebelum teori tersebut dikenal. Ethos beliau terlihat dari integritas. Pathos tampak
dari empati kepada manusia. Logos tampak dari argumentasi tauhid yang rasional.
Tidak heran Allah berfirman: "Serulah manusia
kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan debatlah mereka
dengan cara yang terbaik." (QS. An-Nahl [16]: 125).
Banyak da'i masa kini menghadapi tantangan berupa
ujaran kebencian di media sosial, fitnah, pembatalan kajian, kriminalisasi,
hingga polarisasi politik. Peristiwa Thaif mengajarkan bahwa seorang da'i tidak
boleh: (1) mudah marah, (2) kehilangan orientasi dakwah, (3) membalas kebencian
dengan kebencian, (4) atau menjadikan permusuhan sebagai tujuan.
Sebaliknya, seorang da'i harus membangun lima
kompetensi utama: (1) Kecerdasan spiritual, dengan memperkuat hubungan kepada
Allah melalui doa, dzikir, dan tawakal. (2) Kecerdasan emosional, yaitu
kemampuan mengelola emosi saat menghadapi penolakan dan konflik.
(3) Komunikasi persuasif, yakni menyampaikan risalah
dengan hikmah, kelembutan, dan argumentasi yang baik. (4) Resiliensi dakwah,
berupa keteguhan dalam menghadapi kegagalan tanpa kehilangan semangat. (5) Visi
jangka panjang, dengan melihat potensi perubahan manusia, bukan hanya kondisi
mereka saat ini.
Rasulullah SAW bersabda: "Mukmin yang kuat lebih
dicintai Allah daripada mukmin yang lemah..." (HR. Muslim No. 2664). Kekuatan
yang dimaksud tidak hanya fisik, tetapi juga mental, spiritual, dan moral.
Literatur kepemimpinan kontemporer menempatkan
kemampuan mengelola krisis sebagai salah satu kompetensi utama seorang pemimpin
(Northouse, 2022). Namun, kepemimpinan Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa
manajemen krisis tidak cukup hanya dengan kecakapan teknis.
Krisis juga membutuhkan fondasi moral, kesabaran, visi
jangka panjang, dan orientasi ilahiah. Dalam konteks dakwah modern,
keberhasilan tidak semata diukur dari banyaknya pengikut atau viralnya pesan
yang disampaikan, tetapi dari konsistensi menjaga nilai-nilai Islam di tengah
tekanan.
Di era media sosial yang penuh polarisasi, setiap da'i
berpotensi menghadapi kritik, fitnah, atau penolakan secara terbuka. Peristiwa
Thaif mengajarkan bahwa respons terbaik bukanlah membalas dengan kebencian,
melainkan memperkuat kualitas diri, menjaga adab komunikasi, dan terus membuka
ruang hidayah bagi siapa pun.
Keteladanan Rasulullah SAW membuktikan bahwa
kelembutan yang berpijak pada prinsip jauh lebih efektif dalam membangun
peradaban daripada kemarahan yang lahir dari ego.
Peristiwa Thaif merupakan salah satu pelajaran
terbesar dalam sejarah dakwah Islam mengenai manajemen krisis. Rasulullah SAW
tidak hanya menunjukkan kesabaran luar biasa, tetapi juga memperlihatkan
kecerdasan spiritual, emosional, dan komunikatif yang menjadikan beliau teladan
sepanjang zaman.
Penolakan, penghinaan, dan kekerasan tidak mengubah
orientasi dakwah beliau; sebaliknya, semua itu menjadi sarana memperkuat
ketergantungan kepada Allah dan memperluas rahmat kepada manusia.
Bagi para da'i, pendidik, dan pemimpin Muslim masa
kini, Fikih Sirah memberikan pesan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya
ditentukan oleh kemampuan berbicara, tetapi juga oleh kemampuan mengelola
krisis dengan hikmah, kesabaran, dan kasih sayang.
Dalam dunia yang penuh konflik dan disrupsi, model
kepemimpinan Rasulullah SAW di Thaif tetap menjadi paradigma paling relevan
bagi lahirnya komunikasi dakwah yang persuasif, berintegritas, dan berorientasi
pada kemaslahatan umat.
Referensi
Al-Bukhari, M. ibn I. (2002). Sahih al-Bukhari.
Dar Ibn Kathir.
Al-Buthi, M. S. R. (2000). Fiqh al-Sirah
al-Nabawiyyah. Dar al-Fikr.
Al-Mubarakfuri, S. R. (2002). Ar-Raheeq Al-Makhtum
(The Sealed Nectar). Darussalam.
Coombs, W. T. (2019). Ongoing Crisis Communication
(5th ed.). SAGE Publications.
Gross, J. J. (2015). Emotion Regulation: Current
Status and Future Prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26.
Heifetz, R. A., Grashow, A., & Linsky, M. (2009). The
Practice of Adaptive Leadership. Harvard Business Press.
Ibn Hisham. (2001). Al-Sirah al-Nabawiyyah. Dar
al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Ibn Kathir, I. (2003). Al-Bidayah wa al-Nihayah.
Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Muslim ibn al-Hajjaj. (2006). Sahih Muslim.
Darussalam.
Northouse, P. G. (2022). Leadership: Theory and
Practice (9th ed.). SAGE Publications.
Qutb, S. (2003). Fi Zilal al-Qur'an. Dar
al-Shuruq.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1457/22/10/26 : 20.35
WIB)

