Oleh : Ahmad Sastra
Sejarah dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah
merupakan salah satu laboratorium komunikasi paling penting dalam sejarah umat
manusia. Selama kurang lebih tiga belas tahun, Nabi Muhammad SAW menyampaikan
risalah tauhid kepada masyarakat Quraisy yang memiliki sistem sosial, ekonomi,
politik, dan budaya yang sangat kuat mempertahankan tradisi jahiliyah.
Tantangan yang dihadapi bukan sekadar penolakan
intelektual, tetapi juga intimidasi politik, boikot ekonomi, penyiksaan fisik,
hingga ancaman pembunuhan. Namun demikian, Rasulullah tidak membangun dakwah
melalui kekerasan ataupun propaganda manipulatif.
Beliau membangun perubahan melalui komunikasi yang
persuasif, bertahap, penuh hikmah, dan berorientasi pada transformasi hati
manusia. Strategi tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya generasi as-sābiqūn
al-awwalūn, yang kelak membangun peradaban Islam.
Dalam perspektif Fikih Sirah, perjalanan dakwah di
Makkah bukan hanya rangkaian peristiwa sejarah, melainkan sumber metodologi
dakwah (manhaj ad-da'wah) yang dapat dijadikan pedoman sepanjang zaman.
Komunikasi dakwah Nabi tidak hanya efektif karena
kemampuan retorikanya, tetapi karena bersumber dari wahyu, ditopang oleh akhlak
mulia, serta memahami karakter psikologis masyarakat yang dihadapi. Pendekatan
ini memiliki relevansi yang tinggi bagi para dai, pendidik, komunikator, maupun
pemimpin di era digital yang menghadapi masyarakat semakin plural dan kompleks.
Strategi pertama Rasulullah adalah membangun pondasi
akidah sebelum berbicara mengenai hukum, politik, maupun perubahan sosial.
Hampir seluruh ayat Makkiyah berbicara tentang tauhid, keimanan kepada hari
akhir, kenabian, tanggung jawab moral, dan penyucian jiwa.
Allah SWT berfirman: "Wahai orang yang
berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan agungkanlah Tuhanmu."
(QS. Al-Muddatstsir [74]: 1–3).
Fokus dakwah pada fase awal bukanlah membangun
institusi politik, melainkan membangun cara pandang (worldview) tauhid
yang mengubah paradigma hidup manusia. Perubahan perilaku tidak mungkin
berlangsung permanen tanpa perubahan keyakinan.
Gradual Communication
Keberhasilan dakwah Nabi juga ditopang oleh prinsip
bertahap (tadarruj). Selama tiga tahun pertama dakwah dilakukan secara
sembunyi-sembunyi kepada orang-orang terdekat. Allah SWT kemudian
memerintahkan: "Berilah peringatan kepada kerabatmu yang
terdekat." (QS. Asy-Syu'ara [26]: 214).
Setelah fondasi kader terbentuk, dakwah diperluas
kepada masyarakat secara terbuka di Bukit Shafa. Strategi bertahap ini
menunjukkan bahwa komunikasi persuasif membutuhkan kesiapan komunikator,
komunikan, dan lingkungan sosial. Penelitian mengenai dakwah Nabi di Makkah
juga menunjukkan bahwa metode bertahap merupakan salah satu faktor utama
keberhasilan penyebaran Islam.
Dalam teori Aristoteles, efektivitas persuasi
ditentukan oleh ethos, pathos, dan logos. Jauh sebelum teori tersebut dikenal
luas, Rasulullah telah mempraktikkannya secara sempurna. Masyarakat Quraisy
telah mengenal beliau sebagai Al-Amīn (orang yang terpercaya).
Allah SWT berfirman: "Sungguh pada diri
Rasulullah terdapat teladan yang baik." (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Kredibilitas komunikator merupakan modal terbesar
dakwah. Kejujuran, integritas, konsistensi, dan amanah menjadikan pesan lebih
mudah diterima daripada sekadar kemampuan berbicara.
Psikologi Audiens
Rasulullah tidak menggunakan pendekatan komunikasi
yang sama kepada setiap orang. Kepada Khadijah beliau menyampaikan dakwah
dengan penuh kelembutan. Kepada Abu Bakar menggunakan pendekatan intelektual. Kepada
Bilal memberikan penguatan spiritual. Kepada para pemuka Quraisy beliau
berdialog secara argumentatif.
Pendekatan yang berbeda ini menunjukkan pentingnya
memahami karakter komunikan sebelum menyampaikan pesan. Dalam komunikasi modern
dikenal prinsip audience-centered communication, yaitu komunikasi yang
berorientasi pada kebutuhan dan kondisi penerima pesan.
Al-Qur'an periode Makkah dipenuhi argumentasi logis
mengenai keberadaan Allah, penciptaan alam semesta, kehidupan setelah mati, dan
kelemahan berhala. Allah berfirman: "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan
hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling
baik." (QS. An-Nahl [16]:125).
Ayat ini menjadi prinsip utama komunikasi dakwah
Islam: hikmah, kelembutan, argumentasi ilmiah, dan penghormatan terhadap lawan
bicara.
Rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam bukan sekadar tempat
berkumpul, melainkan pusat pembinaan komunikasi dakwah. Di sanalah Rasulullah membangun
generasi pertama Islam seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Mus'ab bin
Umair.
Mereka bukan hanya menerima informasi, tetapi
mengalami proses transformasi kepribadian. Strategi komunikasi Nabi bersifat
reproduktif: setiap orang yang dibina kemudian menjadi komunikator baru. Inilah
konsep multiplier communication yang dalam teori difusi inovasi modern dikenal
sebagai penyebaran pesan melalui opinion leader.
Rasulullah tidak pernah membalas penghinaan dengan
penghinaan. Beliau dilempari batu di Thaif. Dicekik di sekitar Ka'bah. Difitnah
sebagai penyair, tukang sihir, bahkan orang gila. Namun Allah memerintahkan: "Maka
bersabarlah dengan kesabaran yang indah." (QS. Al-Ma'arij [70]:5).
Rasulullah juga bersabda: "Sesungguhnya aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad). Akhlak
menjadi media komunikasi yang jauh lebih kuat dibandingkan retorika.
Dalam teori komunikasi modern, persuasi bertujuan
mengubah sikap tanpa paksaan. Hal tersebut telah dipraktikkan Rasulullah. Beliau
tidak memaksa orang masuk Islam. Allah SWT menegaskan: "Tidak ada
paksaan dalam agama." (QS. Al-Baqarah [2]:256).
Komunikasi dakwah Nabi lebih menekankan kesadaran
daripada tekanan. Lebih mengajak daripada memaksa. Lebih mendidik daripada
menghakimi. Lebih membangun hati daripada memenangkan perdebatan.
Era digital menghadirkan tantangan baru berupa banjir
informasi, polarisasi politik, budaya viral, dan komunikasi yang serba instan.
Dalam kondisi demikian, strategi dakwah Rasulullah pada periode Makkah tetap
sangat relevan.
Para dai tidak cukup menguasai media sosial, tetapi
juga harus memiliki integritas moral, kedalaman ilmu, kemampuan membaca
psikologi audiens, serta kesabaran dalam menghadapi perbedaan pendapat.
Dakwah yang hanya mengandalkan sensasi dan konflik
mungkin cepat menarik perhatian, tetapi sulit melahirkan perubahan yang
berkelanjutan. Sebaliknya, dakwah yang dibangun di atas hikmah, keteladanan,
argumentasi ilmiah, dan pembinaan kader akan menghasilkan transformasi yang
lebih mendalam.
Fikih Sirah mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah
Rasulullah di Makkah bukan semata-mata karena kehebatan retorika, melainkan
karena perpaduan antara wahyu, akhlak, strategi komunikasi, dan kesabaran.
Rasulullah membangun perubahan dari hati menuju
masyarakat, dari individu menuju peradaban. Beliau mengedepankan tauhid sebagai
fondasi, komunikasi persuasif sebagai metode, kaderisasi sebagai strategi,
serta keteladanan sebagai kekuatan utama. Di tengah era komunikasi digital yang
sering dipenuhi ujaran kebencian, disinformasi, dan polarisasi, manhaj dakwah
Rasulullah menjadi teladan yang semakin relevan.
Dakwah yang efektif bukanlah dakwah yang paling keras
suaranya, tetapi dakwah yang paling mampu menyentuh hati, mengubah akal, dan
membentuk akhlak manusia menuju ridha Allah SWT.
Referensi
Al-Bukhari, M. I. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār
Ṭawq al-Najāh.
Al-Mubarakfuri, S. R. (2002). Ar-Raheeq Al-Makhtum
(Sirah Nabawiyah). Darussalam.
Al-Qur'an al-Karim.
Effendy, O. U. (2003). Ilmu, teori dan filsafat
komunikasi. Remaja Rosdakarya.
Ibn Hisham. (2001). As-Sīrah an-Nabawiyyah. Dār
al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Krisdianto, D. (2024). Komunikasi persuasif dakwah
Nabi Muhammad menanggapi penawaran menghentikan dakwah oleh pemuka Quraisy. Bil
Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Mulyana, D. (2017). Ilmu komunikasi: Suatu
pengantar. Remaja Rosdakarya.
Nurasykim, M. F. M. (2020). Strategi Rasulullah dalam
pengembangan dakwah pada periode Mekkah. At-Taujih.
West, R., & Turner, L. H. (2021). Introducing
communication theory (7th ed.). McGraw-Hill.
Yakub, M. (2021). Komunikasi dakwah Nabi Muhammad SAW
pada periode Mekah. Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1456/22/10/26 : 20.28
WIB)

