Oleh : Ahmad Sastra
Indonesia sedang diguncang masalah, yakni terjadinya
kasus konspirasi yang mengarah kepada tindakan makar yakni adanya penyadapan
terhadap presiden dan para pejabat yang justru dilakukan oleh orang-orang
terdekat istana negara. Selama ini pemerintah yang ada, selalu menjadikan
seolah rakyat adalah musuh, bahkan kaum muslim yang kritis sering dituduh
radikal dan bahkan teroris serta mengkhianati NKRI. Ternyata pengkhinat itu ada
dalam tubuh mereka sendiri. Inilah saatnya kekuasaan zolim itu tumbang.
Sejarah manusia bukan hanya menyimpan kisah tentang
lahir dan runtuhnya kerajaan, tetapi juga menjadi cermin mengenai bagaimana
kekuasaan dijalankan. Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia mengambil
pelajaran ('ibrah) dari umat-umat terdahulu, bukan sekadar mengenang
masa lalu, melainkan agar manusia memahami hukum-hukum moral yang berlaku dalam
kehidupan.
Di antara kisah yang paling sering diulang adalah
tentang Namrud pada masa Nabi Ibrahim AS dan Fir'aun pada masa Nabi Musa AS.
Keduanya digambarkan sebagai penguasa yang memiliki kekuatan politik, militer,
dan ekonomi yang sangat besar, namun akhirnya mengalami kehancuran setelah
menolak kebenaran dan mempertahankan kesombongan.
Pesan utama dari kisah tersebut bukanlah bahwa setiap
penguasa akan mengalami nasib yang sama, melainkan bahwa dalam perspektif
Al-Qur'an, kezaliman dan kesombongan tidak pernah menjadi fondasi yang kokoh
bagi sebuah kepemimpinan. Kekuasaan yang dibangun di atas penindasan,
pengingkaran terhadap nilai-nilai moral, dan penyalahgunaan wewenang pada
akhirnya mengandung benih-benih kehancurannya sendiri. Karena itu, tugas
orang-orang beriman bukan membalas kezaliman dengan kezaliman, tetapi terus
menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran sesuai tuntunan Allah SWT.
Islam memandang kekuasaan sebagai amanah yang kelak
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Firman Allah SWT: "Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan
apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya
dengan adil." (QS. An-Nisā' [4]: 58).
Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah sarana
untuk meninggikan diri, melainkan tanggung jawab untuk menegakkan keadilan.
Rasulullah SAW juga bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap
kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR.
al-Bukhari dan Muslim). Legitimasi moral seorang pemimpin dalam Islam tidak
hanya diukur dari kekuatan politik atau keberhasilan administratif, tetapi juga
dari amanah, keadilan, dan akuntabilitasnya.
Tradisi tafsir Islam mengenal Namrud sebagai raja yang
berdebat dengan Nabi Ibrahim AS mengenai Tuhan. Al-Qur'an mengabadikan dialog
tersebut dalam QS. Al-Baqarah ayat 258. Ketika Nabi Ibrahim menjelaskan bahwa
Allah menghidupkan dan mematikan, sang raja berusaha menyamakan kekuasaannya
dengan kekuasaan Allah. Ibrahim kemudian berkata: "Sesungguhnya Allah
menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat."
(QS. Al-Baqarah [2]: 258).
Al-Qur'an menutup kisah itu dengan kalimat bahwa sang
raja menjadi terdiam. Pesan moralnya jelas: kekuasaan manusia memiliki batas,
sedangkan kekuasaan Allah bersifat mutlak. Kesombongan yang membuat seseorang
merasa tidak membutuhkan petunjuk ilahi dapat menutup akal sehat dan
kebijaksanaan.
Kisah Fir'aun merupakan salah satu narasi terbesar
dalam Al-Qur'an. Fir'aun digambarkan sebagai penguasa yang menindas Bani
Israil, membunuh anak-anak laki-laki mereka, dan mengklaim superioritas
dirinya. Bahkan Al-Qur'an mengutip ucapannya: "Akulah tuhanmu yang
paling tinggi." (QS. An-Nāzi'āt [79]: 24).
Allah mengutus Nabi Musa AS untuk mengajaknya kembali
kepada kebenaran. Menariknya, Allah memerintahkan Musa dan Harun agar tetap
berbicara dengan lemah lembut: "Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata
yang lemah lembut." (QS. Ṭāhā [20]: 44).
Ini menunjukkan bahwa dakwah kepada penguasa dilakukan
dengan hikmah dan adab. Namun ketika Fir'aun tetap menolak, Al-Qur'an
menceritakan bahwa ia akhirnya tenggelam bersama bala tentaranya (QS. Yunus
[10]: 90–92). Dalam perspektif Al-Qur'an, kehancuran Fir'aun bukan sekadar
peristiwa sejarah, tetapi pelajaran moral tentang akibat kesombongan dan
penindasan.
Kezaliman Mengandung Benih Kehancurannya
Banyak ilmuwan sosial menjelaskan bahwa kekuasaan yang
tidak memiliki mekanisme koreksi cenderung mengalami penyalahgunaan. Sejarawan
seperti Ibn Khaldun menjelaskan bahwa ketika penguasa larut dalam kemewahan,
ketidakadilan, dan kehilangan solidaritas sosial ('ashabiyyah), maka
fondasi negara akan melemah. Sementara Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa agama
menjadi fondasi moral bagi kekuasaan, sedangkan kekuasaan berfungsi menjaga
ketertiban masyarakat. Jika fondasi moral melemah, stabilitas pemerintahan pun
rentan terganggu.
Dari sudut pandang ilmu politik modern, korupsi,
penyalahgunaan kekuasaan, hilangnya kepercayaan publik, dan lemahnya
akuntabilitas merupakan faktor-faktor yang sering dikaitkan dengan melemahnya
legitimasi pemerintahan. Dengan demikian, baik dalam tradisi Islam maupun
kajian politik kontemporer terdapat kesadaran bahwa kekuasaan memerlukan
integritas moral agar tetap memperoleh kepercayaan masyarakat.
Tugas Orang Beriman: Menebarkan Kebaikan
Pelajaran terpenting dari kisah para nabi bukanlah
menanti runtuhnya orang-orang zalim, tetapi menjalankan kewajiban untuk terus
menghadirkan kebaikan dan memperjuangkan kebanaran. Setiap muslim harus terus
memperjuangkan tegaknya sistem Islam di negeri ini. Al-Qur'an berpesan: "Hendaklah
ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. Āli 'Imrān
[3]: 104).
Rasulullah SAW juga bersabda: "Barang siapa di
antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya..." (HR.
Muslim). Hadis ini mengajarkan tanggung jawab moral umat untuk berkontribusi
memperbaiki keadaan sesuai kemampuan dan dengan cara yang bijaksana. Amar ma'ruf
nahi munkar bukanlah ajakan kepada kekerasan, melainkan komitmen untuk
menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan.
Kisah Namrud dan Fir'aun tidak dimaksudkan sebagai
alat untuk memberi label kepada tokoh atau pemerintahan tertentu pada masa
kini. Sebaliknya, Al-Qur'an menghadirkannya sebagai cermin agar setiap
individu, baik pemimpin maupun rakyat, menghindari sifat sombong,
sewenang-wenang, dan merasa kebal terhadap kritik. Terkait kasus penyadapan,
biarlah kasus it uterus berjalan, sambil menunggu tumbangnya satu-persatu
pemimpin yang zolim di negeri ini.
Setiap masyarakat membutuhkan pemimpin yang bersedia
mendengar nasihat, terbuka terhadap kritik, dan menjadikan keadilan sebagai
pedoman. Pada saat yang sama, masyarakat juga dituntut untuk berpartisipasi
secara bertanggung jawab dalam membangun kehidupan bersama melalui kejujuran, kepedulian,
dan penghormatan terhadap hukum serta etika.
Sejarah Namrud dan Fir'aun mengajarkan bahwa kekuasaan
tanpa kerendahan hati dan keadilan dapat berujung pada kehancuran. Dalam
perspektif Islam, pelajaran utama dari kisah tersebut bukanlah untuk
bersukacita atas runtuhnya pihak lain, melainkan untuk melakukan introspeksi
bahwa setiap manusia dapat tergelincir ke dalam kesombongan apabila melupakan
hakikat amanah.
Tugas umat adalah terus menghadirkan kebaikan,
menyampaikan kebenaran dengan hikmah, menegakkan keadilan, dan menjaga
integritas moral. Kekuasaan mungkin silih berganti, tetapi nilai-nilai yang
diajarkan Al-Qur'an tentang amanah, keadilan, dan tanggung jawab tetap menjadi
pedoman yang relevan bagi setiap zaman. Semoga Islam segera tegak di negeri ini
dan semoga para pemimpin zolim tumbang, bersama tumbangnya ideologi kapitalisme
sekuler.
Referensi
Al-Ghazali. (2000). Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn. Dār
al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Al-Mawardi. (1996). Al-Aḥkām al-Sulṭāniyyah.
Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Esposito, J. L. (1998). Islam and Politics (4th
ed.). Syracuse University Press.
Hallaq, W. B. (2013). The Impossible State: Islam,
Politics, and Modernity's Moral Predicament. Columbia University Press.
Ibn Kathir. (1999). Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.
Dār Ṭayyibah.
Ibn Khaldun. (1967). The Muqaddimah (F.
Rosenthal, Trans.). Princeton University Press.
Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam: Enduring
Values for Humanity. HarperCollins.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1478/08/11/26 : 20.25
WIB)

