KETIKA USIA MAKIN BERANJAK



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Pergantian tahun sering kali dimaknai sebagai momentum perayaan, resolusi, dan optimisme duniawi. Namun dalam perspektif Islam, tahun baru sejatinya adalah ruang refleksi eksistensial: tentang usia yang terus bertambah dan jarak manusia dengan kematian yang semakin dekat.

 

Waktu bukan sekadar angka dalam kalender, melainkan amanah Allah Swt. yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah saw. menegaskan bahwa salah satu perkara yang akan ditanya pada hari kiamat adalah tentang umur, untuk apa ia dihabiskan (HR. Tirmidzi).

 

Karena itu, refleksi tahun baru seharusnya diarahkan pada evaluasi amal, kesadaran akan kefanaan hidup, serta dorongan untuk memperbanyak amal shalih dan memperbaharui tobat.

 

Waktu dan Usia dalam Pandangan Islam

 

Al-Qur’an menempatkan waktu sebagai entitas yang sangat fundamental. Bahkan Allah Swt. bersumpah dengan waktu dalam berbagai bentuknya, seperti al-‘ashr (masa), al-lail (malam), dan al-fajr (fajar).

 

Dalam Surah Al-‘Ashr [103]: 1–3, Allah menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini menunjukkan bahwa berlalunya waktu identik dengan potensi kerugian jika tidak diisi dengan amal yang bernilai akhirat.

 

Usia yang bertambah bukanlah jaminan kemuliaan, tetapi justru indikator berkurangnya jatah hidup di dunia. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pergantian siang dan malam adalah proses yang menggerus umur manusia secara perlahan namun pasti (Ibn Katsir, 1999).

 

Dengan demikian, refleksi atas bertambahnya usia seharusnya melahirkan kesadaran spiritual, bukan sekadar kebanggaan biologis.

 

Kedekatan dengan Ajal sebagai Realitas Pasti

 

Islam memandang kematian bukan sebagai kemungkinan, melainkan kepastian. Al-Qur’an menyatakan, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185).

 

Namun manusia sering menunda kesadaran ini, seolah ajal masih jauh dan masa depan duniawi masih panjang. Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dan di mana ia akan wafat (QS. Luqman [31]: 34).

 

 

Para ulama menekankan bahwa kematian tidak diukur dari usia, melainkan dari ketetapan Allah. Al-Ghazali (2005) menyebut bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan setelahnya.

 

Dengan demikian, refleksi tahun baru seharusnya mempertegas orientasi hidup: apakah usia yang bertambah mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan.

 

Kesadaran akan dekatnya ajal meniscayakan peningkatan kualitas dan kuantitas amal shalih. Amal shalih dalam Islam tidak terbatas pada ritual ibadah, tetapi mencakup seluruh aktivitas yang diniatkan karena Allah dan membawa kemaslahatan. Al-Qur’an berulang kali menggandengkan iman dengan amal shalih, menandakan bahwa keimanan sejati harus termanifestasi dalam tindakan nyata.

 

Rasulullah saw. bersabda, “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya” (HR. Ahmad).

 

Hadis ini menegaskan bahwa amal shalih tetap relevan bahkan di ambang kehancuran dunia. Tahun baru, dalam kerangka ini, adalah kesempatan untuk memperbaiki kualitas ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, serta meluruskan niat dalam aktivitas sehari-hari.

 

Selain memperbanyak amal shalih, refleksi usia juga harus melahirkan kesadaran untuk terus bertobat. Tobat bukan hanya untuk pelaku dosa besar, melainkan kebutuhan setiap mukmin.

 

Rasulullah saw., meskipun ma’shum, beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa tobat adalah proses spiritual yang berkelanjutan.

 

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri (QS. Al-Baqarah [2]: 222). Menunda tobat adalah bentuk kelalaian yang berbahaya, karena tidak ada jaminan seseorang masih memiliki waktu esok hari.

 

Ibn Qayyim al-Jauziyyah (2010) menjelaskan bahwa dosa yang tidak segera ditaubati akan mengeraskan hati dan menghalangi cahaya hidayah.

 

Dalam tradisi Islam, refleksi waktu lebih dekat dengan konsep muhasabah (introspeksi diri) daripada perayaan. Umar bin Khattab ra. famously berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” Prinsip ini sangat relevan dalam konteks pergantian tahun. Muhasabah mendorong manusia untuk menilai ulang perjalanan hidupnya: dosa apa yang belum ditaubati, amal apa yang masih kurang, dan waktu apa yang terbuang sia-sia.

 

Refleksi tahun baru yang berorientasi akhirat akan melahirkan perubahan nyata dalam perilaku, bukan sekadar resolusi verbal. Ia mendorong lahirnya komitmen spiritual untuk hidup lebih taat, lebih bermanfaat, dan lebih siap menghadapi kematian.

 

Refleksi tahun baru dalam perspektif Islam bukanlah soal pergantian angka kalender, melainkan kesadaran bahwa usia yang bertambah berarti ajal semakin dekat. Kesadaran ini seharusnya melahirkan dua sikap utama: memperbanyak amal shalih dan memperbaharui tobat.

 

Waktu adalah modal yang terus menyusut, dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, tahun baru hendaknya menjadi momentum muhasabah mendalam, agar sisa usia yang Allah anugerahkan benar-benar bernilai sebagai bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.

 

Daftar Pustaka

 

Al-Ghazali, A. H. (2005). Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Qur’an al-Karim.

Ibn Katsir, I. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Riyadh: Dar Tayyibah.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah. (2010). Madarij al-Salikin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.

Al-Tirmidzi, M. I. (2000). Sunan al-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1221/01/01/25 : 05.24 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad