KISAH TENTANG RAKYAT MISKIN YANG PALING BAHAGIA DI DUNIA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, belum lama ini menyatakan rasa harunya setelah Indonesia dikatakan sebagai “negara paling bahagia di dunia” berdasarkan sebuah riset internasional tahun 2025 yang diterbitkan oleh kolaborasi akademik Universitas Harvard, Baylor University, dan lembaga survei global Gallup, yang dikenal sebagai Global Flourishing Study (GFS). Pernyataan itu disampaikan dalam konteks refleksi tentang kehidupan sosial dan makna hidup warga Indonesia di hadapan tantangan pembangunan yang masih besar.

 

Namun, pernyataan ini memicu diskusi luas: bagaimana mungkin sebuah negara bisa disebut paling bahagia, sementara sebagian besar indikator sosial-ekonomi menunjukkan tantangan besar seperti kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, dan rendahnya kualitas hidup secara material?

 

Tradisionalnya, evaluasi kesejahteraan seringkali berfokus pada indikator ekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita atau pendapatan. Namun, Global Flourishing Study mengambil pendekatan yang lebih luas.

 

Studi ini mengkaji responden dari lebih dari 22 negara, dengan jumlah responden mencapai lebih dari 200.000 orang, untuk menilai aspek-aspek kehidupan yang mencakup: (1) Kesehatan fisik dan mental (2) Kebahagiaan subjektif (3) Makna hidup dan tujuan hidup (4) Karakter moral dan sosial (5) Hubungan sosial dan dukungan komunitas dan (6) Keamanan finansial dan kesejahteraan spiritual.

 

Hasilnya: Indonesia meraih peringkat tertinggi dalam skor kombinasi dimensi-dimensi “flourishing” ini, mengungguli negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang dalam kerangka ukuran GFS. Indonesia unggul terutama dalam hubungan sosial dan karakter pro-sosial, dua faktor yang menekankan nilai keterhubungan, rasa saling peduli, serta ikatan komunitas yang kuat.

 

Keunggulan Indonesia dalam aspek hubungan sosial dan sikap pro-sosial bukanlah hal kebetulan. Beberapa peneliti kesejahteraan sosial telah menekankan peran modal sosial (social capital) yaitu jaringan hubungan, norma, dan kepercayaan yang memperkuat kerja sama dalam masyarakat, sebagai faktor penting yang mendorong kualitas hidup (Putnam, 2000; Helliwell & Putnam, 2004).

 

Modal sosial dapat meningkatkan dukungan sosial, rasa aman, dan rasa memiliki, yang semuanya berkorelasi positif dengan kesejahteraan subjektif. Menurut temuan awal riset lain, modal sosial yang kuat di komunitas tertentu memang berkaitan dengan keterlibatan sosial yang tinggi serta tingkat persepsi kehidupan bermakna yang lebih besar. (Literatur modal sosial, Helliwell & Putnam)

 

Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai tradisional seperti gotong royong, kekeluargaan, dan religiositas tinggi menjadi fondasi bagi relasi sosial yang erat. Sebagai contoh, praktik saling membantu dalam kebutuhan sehari-hari, kekerabatan yang luas, dan kebiasaan berbagi di lingkungan komunitas menjadi sumber kebahagiaan tersendiri meskipun secara ekonomi banyak yang hidup dengan keterbatasan.

 

Antitesis Kebahagiaan: Realitas Kemiskinan Struktural Indonesia

 

Meski disebut sebagai negara paling bahagia berdasarkan Global Flourishing Study, realitas kondisi ekonomi nasional Indonesia jauh dari ideal jika dilihat dari indikator kemiskinan dan kesejahteraan material.

 

Menurut data terbaru World Bank, ketika menggunakan garis kemiskinan internasional yang diperbarui pada 2025 berdasarkan paritas daya beli (PPP) yang lebih tinggi, diperkirakan antara 19,9% hingga 68,3% penduduk Indonesia tergolong miskin, tergantung pada standar garis kemiskinan yang digunakan (ekstrim atau negara berpendapatan menengah ke atas).

 

Catatan pentingnya: Data tersebut bukanlah data resmi pemerintah Indonesia (BPS), tetapi merupakan estimasi berdasarkan pendekatan global Bank Dunia. Perbedaan definisi garis kemiskinan nasional dan internasional sering menimbulkan interpretasi yang berbeda terhadap ukuran kemiskinan suatu negara. Namun demikian, gambaran ini menunjukkan bahwa meski secara sosial relasi kuat, banyak warga tetap hidup dalam kondisi ekonomi yang jauh dari sejahtera secara materi.

 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan nasional pada Maret 2025 tercatat sekitar 8,47%, setara dengan ±23,85 juta penduduk, dengan tren penurunan dibanding tahun sebelumnya.

 

Perbedaan yang mencolok antara jumlah orang miskin menurut definisi Bank Dunia internasional dan angka kemiskinan nasional menunjukkan adanya gap metodologis penting yang patut dipahami: garis kemiskinan nasional diukur berdasarkan standar pengeluaran minimum yang diperlukan untuk kebutuhan dasar di Indonesia; sedangkan garis kemiskinan internasional lebih tinggi dan dimaksudkan untuk perbandingan antar negara.

 

Kedua fakta ini, kebahagiaan subjektif tinggi sekaligus kemiskinan masih menjadi tantangan besar, mungkin tampak paradoks. Analisis longitudinal dan lintas negara, termasuk temuan awal dari studi harvard-gallup, menyiratkan bahwa kesejahteraan subjektif tidak selalu berkorelasi langsung dengan pendapatan atau kekayaan materi semata. Beberapa faktor seperti jaringan sosial, makna hidup, dan dukungan komunitas bisa menjadi komponen penting dalam menentukan bagaimana individu memaknai “kebahagiaan”.

 

Namun, perlu penekanan: tinggi-nya skor kebahagiaan subjektif bukan berarti semua tantangan struktural telah teratasi. Kebahagiaan bisa menjadi coping mechanism, bukti ketahanan psikologis dalam masyarakat, atau refleksi dari nilai budaya yang berbeda terhadap apa yang dianggap ‘hidup baik’. Studi-studi psikologi lintas budaya menunjukkan bahwa nilai sosial dan spiritual sering kali lebih dominan dalam mempersepsi kebahagiaan daripada pendapatan absolut, terutama di masyarakat kolektivis. (Diener et al., 2018)

 

Penyebab Kemiskinan Struktural

 

Istilah kemiskinan struktural merujuk pada kondisi kemiskinan yang tidak hanya akibat kekurangan sumber daya individual, tetapi juga disebabkan oleh sistem sosial, ekonomi, dan politik yang menciptakan ketidaksetaraan. Ada beberapa faktor penyebab utama:

 

Pertama, Ketimpangan Distribusi Sumber Daya. Kekayaan negara yang besar tidak selalu terdistribusi merata. Konsentrasi kekayaan di tangan segelintir elit dan keterbatasan akses terhadap modal dan peluang usaha bagi sebagian besar rakyat dapat memperkuat kemiskinan struktural.

 

Kedua, Keterbatasan Akses Pendidikan dan Lapangan Pekerjaan. Masih terdapat kelompok masyarakat yang sulit mengakses pendidikan bermutu dan pekerjaan formal berbayar baik, yang berdampak pada keterbatasan mobilitas sosial.

 

Ketiga, Ketergantungan pada Sektor Informal. Banyak pekerja di sektor informal sebagian besar memiliki pendapatan tidak stabil dan perlindungan sosial yang minim. Situasi ini menghambat kemampuan warga membangun modal ekonomi jangka panjang.

 

Keempat, Kemiskinan di Wilayah Tertinggal. Ketimpangan antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta antar provinsi, memperburuk ketimpangan akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

 

Solusi Perspektif Islam

 

Dalam tradisi Islam, kesejahteraan tidak hanya diukur melalui aspek materi, tetapi juga melalui konsep keadilan ekonomi, keseimbangan sosial, dan stabilitas spiritual. Pendekatan ini menekankan:

 

Pertama, Keadilan dalam Kepemilikan. Islam mengatur kepemilikan sehingga tidak ada eksploitasi oleh sebagian terhadap kekayaan umum. Ketentuan zakat, sedekah, larangan riba, serta pembatasan akumulasi kekayaan berlebihan adalah upaya untuk mengurangi ketimpangan.

 

Kedua, Distribusi Kekayaan yang Adil. Instrumen seperti zakat, wakaf, dan sedekah diatur untuk memastikan setiap individu mampu memenuhi kebutuhan pokok hingga sekunder.

 

Ketiga, Larangan Penimbunan Kekayaan. Islam mengecam penumpukan kekayaan secara tidak produktif; kekayaan idealnya berfungsi untuk kesejahteraan masyarakat luas (QS 9:34-35).

 

Keempat, Negara sebagai Pelayan Rakyat. Negara wajib melindungi rakyatnya (riayah), termasuk dalam memenuhi hak hidup, pendidikan, dan perlindungan sosial.

 

Individu muslim diajarkan nilai syukur (syukur) dan cukup (qana’ah), serta tolong-menolong. Nilai ini dapat menciptakan rasa aman terkait hak milik, kehormatan, dan martabat individu. Dalam perspektif teologis Islam, kehidupan tuma’ninah (tenang dan damai) adalah hasil dari keseimbangan antara kebutuhan materi, hubungan sosial, dan spiritualitas.

 

Istilah “negara paling bahagia” seperti yang dicapai Indonesia dalam Global Flourishing Study pada 2025 menggambarkan bagaimana kesejahteraan dapat dipahami lebih luas daripada sekadar pendapatan materi. Kekuatan relasi sosial, makna hidup, dan dukungan komunitas berperan besar dalam persepsi kebahagiaan.

 

Namun, namun tetap penting untuk melihat kesejahteraan secara holistik, termasuk indikator ekonomi, akses layanan sosial dasar, tingkat kemiskinan, dan kesempatan yang adil bagi setiap warga negara. Tanpa pemahaman komprehensif seperti itu, klaim kebahagiaan tertinggi bisa menjadi semu jika tidak dibarengi dengan kemajuan struktural yang nyata untuk semua.

 

REFERENSI

 

BPS National Poverty Data — Statistik kemiskinan nasional Indonesia.

Global Flourishing Study 2025 — Studi kolaboratif Harvard, Baylor & Gallup.

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. New York, NY: Simon & Schuster.

Stiglitz, J. E. (2012). The price of inequality: How today’s divided society endangers our future. New York, NY: W.W. Norton & Company.

VanderWeele, T. J., McNeely, E., & Koh, H. K. (2024). Global flourishing: Measuring well-being beyond GDP. Cambridge, MA: Harvard University Press.

World Bank Updated Global Poverty Lines 2025 — Data kemiskinan internasional.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1239/21/01/26 : 15.28 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad