Oleh : Ahmad Sastra
Sejarah lahirnya kesombongan manusia dapat dipahami
bukan sebagai satu peristiwa tunggal, melainkan sebagai proses panjang yang
mengikuti perkembangan kesadaran, kekuasaan, dan pengetahuan manusia. Berikut
penjelasan ringkas namun menyeluruh dari berbagai sudut pandang: mitologis,
religius, filosofis, historis, dan psikologis.
Pertama, Awal Mitologis: Kesadaran Diri dan Kejatuhan.
Dalam banyak mitologi kuno, kesombongan lahir saat manusia (atau makhluk
berakal) menyadari dirinya setara atau bahkan lebih tinggi dari kekuatan
kosmik.
Mitologi Yunani mengenal konsep hubris, kesombongan
manusia yang menantang para dewa. Tokoh seperti Icarus (terbang terlalu dekat
matahari) menjadi simbol bahwa melampaui batas adalah awal kehancuran. Kesombongan
di sini muncul bersamaan dengan ambisi dan keinginan melampaui kodrat.
Kedua, Perspektif Religius: Kesombongan sebagai Dosa
Awal. Dalam agama-agama besar, kesombongan sering dianggap akar kejatuhan
moral. Islam & Kristen: Kisah Iblis/Lucifer yang menolak tunduk karena
merasa lebih mulia adalah simbol kesombongan intelektual dan eksistensial.
Kisah Menara Babel: Manusia bersatu membangun menara
setinggi langit sebagai lambang kesombongan kolektif, merasa mampu menyamai
Tuhan. Di sini, kesombongan lahir dari perasaan superioritas dan penolakan
terhadap keterbatasan diri.
Ketiga, Peradaban Awal: Kekuasaan dan Keabadian. Ketika
manusia mulai membangun peradaban (Mesir, Mesopotamia, Cina kuno): Raja dan
kaisar mengklaim diri sebagai wakil Tuhan atau Tuhan itu sendiri. Monumen megah
(piramida, patung raksasa) menjadi simbol keabadian dan keagungan ego manusia. Kesombongan
lahir dari kekuasaan absolut dan kontrol atas sesama manusia.
Keempat, Filsafat Klasik: Akal dan Keunggulan Manusia.
Filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles memuliakan akal budi, namun juga
mengingatkan bahayanya. Manusia mulai melihat dirinya sebagai makhluk rasional
tertinggi. Kesombongan muncul saat akal dianggap cukup tanpa kebijaksanaan
moral.
Kelima, Abad Pertengahan hingga Renaisans: Manusia di
Pusat Semesta. Renaisans membawa humanisme: Manusia tidak lagi hanya tunduk,
tetapi menjadi pusat perhatian semesta. Sains dan seni berkembang pesat, namun
juga melahirkan keyakinan bahwa manusia mampu menguasai alam sepenuhnya. Kesombongan
berubah bentuk: dari religius menjadi intelektual.
Keenam, Zaman Modern: Sains, Teknologi, dan Ilusi
Kendali. Revolusi industri dan teknologi memperkuat kesombongan modern: Manusia
merasa bisa mengendalikan alam, kehidupan, bahkan kematian. Kemajuan AI,
senjata, dan eksploitasi alam memperlihatkan kesombongan kolektif global. Ironisnya,
semakin maju manusia, semakin nyata keterbatasannya (krisis iklim, perang,
krisis makna).
Ketujuh, Perspektif Psikologis: Akar Dalam Diri. Secara
psikologis, kesombongan lahir dari: Rasa takut (menutupi kelemahan). Kebutuhan
pengakuan, Perbandingan sosial, Kesombongan adalah mekanisme pertahanan ego
ketika manusia lupa akan keterbatasannya.
Kesombongan manusia lahir seiring: Kesadaran diri, Kekuasaan,
Pengetahuan dan Rasa takut akan keterbatasan. Ia bukan sekadar sifat buruk
individu, tetapi fenomena historis dan eksistensial. Hampir semua tradisi
sepakat: Kesombongan muncul saat manusia lupa bahwa ia besar karena
keterbatasannya, bukan meski keterbatasannya.
Para Penguasa Sombong yang Tercatat dalam Sejarah
Sombong dalam konteks kepemimpinan sering kali
berujung pada tindakan absolut dan merugikan rakyat. Kepemimpinan yang diwarnai
kesombongan tidak hanya menjadi bahan kajian moral, tetapi juga aspek penting
dalam ilmu sejarah dan politik karena dampaknya terhadap dinamika pemerintahan
dan kehidupan masyarakat.
Sejarawan dan filsuf-politik klasik sejak lama
mencatat bahwa kesombongan dalam penguasa sering berujung pada penyelewengan
kekuasaan dan kehancuran sebuah dinasti atau negara (analisis historis umum).
Dengan memahami contoh konkret dari penguasa sombong di masa lampau, pembaca
dapat mengambil pelajaran tentang bahaya absolutisme dan pentingnya kerendahan
hati dalam kekuasaan.
Salah satu contoh paling terkenal penguasa yang
dianggap sombong adalah Kaisar Romawi Caligula. Caligula dikenal karena
perilakunya yang eksentrik dan tuntutan untuk dipuja seperti dewa hidup.
Selain itu, menurut sejumlah catatan sejarah, ia
pernah berencana menunjuk kudanya sebagai konsul dan memaksa orang-orang
menyembahnya, menggambarkan ekstremnya egoistik kekuasaan absolut tanpa kontrol
normatif yang sehat. Catatan sejarah ini menunjukkan bagaimana ambisi pribadi
dan kesombongan dapat mengaburkan batas antara wajar dan destruktif dalam
pemerintahan.
Selain Caligula, sejarah juga mencatat sosok Idi Amin,
diktator Uganda yang memerintah dengan pendekatan absolut dan narsistik pada
1970-an. Amin tidak hanya memberi dirinya gelar-gelar megah, tetapi juga
memerintah dengan tangan besi, meminggirkan kelompok etnis tertentu, dan
menimbulkan penderitaan besar bagi rakyatnya.
Studi sejarah modern menggambarkan bagaimana kultus
pribadi dan upaya mengekspresikan dominasi melalui simbol-simbol kekuasaan
merupakan ciri khas penguasa yang sombong dan despotik.
Contoh lain dalam sejarah klasik adalah Duke Li dari
Jin di Tiongkok kuno. Ketika Duke Li menghapus para penasihatnya demi mempertahankan
kekuasaan absolut, tindakan tersebut justru menggiringnya ke kejatuhan karena
elit lain di istana tidak lagi mendukungnya.
Kajian sejarah ini memperlihatkan bahwa kesombongan
sering kali membutakan penguasa terhadap pentingnya mendengarkan masukan dan
menjaga keseimbangan kekuasaan dalam pemerintahan, sebuah pelajaran yang
relevan dalam studi politik kontemporer.
Studi kasus lain yang menarik adalah Qin Shi Huang,
Kaisar pertama Tiongkok yang terkenal melakukan standarisasi besar-besaran di
seluruh negeri. Meskipun kontribusinya terhadap integrasi politik dan budaya
besar, beberapa catatan sejarah mengkritik kebijakannya seperti pembakaran buku
dan eksekusi sarjana yang dianggap ancaman.
Kritik ini sering ditafsirkan sebagai manifestasi dari
ambisi absolut yang kejam dan kepercayaan berlebihan pada otoritas sendiri,
menunjukkan bahwa kontribusi besar sejarah tidak selalu sejalan dengan perilaku
yang rendah hati.
Dari contoh-contoh di atas, tampak jelas bahwa
kesombongan dalam kepemimpinan bukan sekadar karakter individual, tetapi sering
kali berkaitan erat dengan mekanisme kekuasaan yang tidak terkendali dan
hilangnya checks and balances.
Sejarah memberi kita pelajaran bahwa penguasa yang
sombong cenderung menempatkan kehendak pribadi di atas kesejahteraan umum, dan
akibatnya berdampak negatif pada masyarakat luas. Oleh karena itu, studi
tentang penguasa sombong tidak hanya penting sebagai catatan masa lalu, tetapi
juga sebagai refleksi pengingat akan nilai-nilai kepemimpinan yang bertanggung
jawab dan beretika di masa kini.
Para Penguasa Sombong yang Tercatat dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab petunjuk
spiritual, tetapi juga sebagai sumber refleksi historis dan moral bagi umat
manusia. Salah satu tema besar yang berulang dalam Al-Qur’an adalah kritik
keras terhadap kesombongan penguasa yang menuhankan kekuasaan dan mengabaikan
keadilan.
Kesombongan (al-kibr) dalam perspektif Al-Qur’an bukan
sekadar sifat batin, melainkan sikap politik dan sosial yang melahirkan
kezaliman struktural. Karena itu, kisah para penguasa sombong yang dihancurkan
Allah diabadikan sebagai pelajaran lintas zaman agar manusia tidak mengulangi
kesalahan serupa (QS. Al-Hasyr: 2; QS. Al-Qashash: 59).
Sosok penguasa sombong yang paling sering disebut
dalam Al-Qur’an adalah Fir‘aun, raja Mesir kuno yang memerintah dengan
kekuasaan absolut. Fir‘aun bukan hanya menindas Bani Israil, tetapi juga
mengklaim dirinya sebagai tuhan tertinggi: “Akulah tuhanmu yang paling
tinggi” (QS. An-Nazi‘at: 24).
Para mufasir seperti Ibn Katsir menegaskan bahwa klaim
ketuhanan ini merupakan puncak kesombongan politik, ketika penguasa menempatkan
dirinya di atas hukum dan moral. Akibat kesombongannya, Fir‘aun dan bala
tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah sebagai simbol kehancuran kekuasaan
yang arogan (QS. Al-Qashash: 40).
Selain Fir‘aun, Al-Qur’an juga mencatat kesombongan Namrud,
raja yang hidup pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namrud digambarkan
sebagai penguasa yang membanggakan kekuatan politik dan militernya, bahkan berani
berdebat dengan Nabi Ibrahim tentang ketuhanan. Ketika Ibrahim menyatakan bahwa
Allah menghidupkan dan mematikan, Namrud dengan angkuh mengklaim dapat
melakukan hal yang sama (QS. Al-Baqarah: 258).
Tafsir Ath-Thabari menjelaskan bahwa perdebatan ini
menunjukkan logika kekuasaan yang rusak, di mana penguasa sombong menyamakan
otoritas politik dengan kekuasaan ilahi, sebuah kekeliruan fatal yang akhirnya
mengantarkan Namrud pada kehancuran.
Contoh lain adalah kaum ‘Ad yang dipimpin oleh
penguasa-penguasa zalim pada masa Nabi Hud ‘alaihis salam. Mereka dikenal
sebagai bangsa kuat dengan teknologi bangunan yang megah, namun kesombongan
kolektif membuat mereka menolak kebenaran. Mereka berkata, “Siapakah yang
lebih kuat dari kami?” (QS. Fussilat: 15).
Menurut Tafsir Al-Qurthubi, pernyataan ini
mencerminkan kesombongan peradaban, ketika kekuatan fisik dan kemajuan material
melahirkan ilusi keabadian kekuasaan. Akibatnya, Allah menghancurkan mereka
dengan angin yang sangat dingin dan kencang selama beberapa hari berturut-turut
(QS. Al-Haqqah: 6–8).
Dari kisah-kisah tersebut, Al-Qur’an menegaskan bahwa
kesombongan penguasa merupakan sebab utama kehancuran individu dan peradaban.
Kekuasaan yang tidak disertai kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah akan
berubah menjadi alat penindasan.
Pesan moral Al-Qur’an sangat jelas: kekuasaan adalah
amanah, bukan sarana untuk menuhankan diri atau kelompok. Dengan merefleksikan
kisah Fir‘aun, Namrud, dan kaum ‘Ad, umat manusia diingatkan bahwa sejarah
kehancuran para penguasa sombong bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan
peringatan abadi bagi setiap pemegang kekuasaan di setiap zaman.
REFERENSI
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qurthubi, M. A. (2006). Al-Jami‘ li Ahkam
al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Tabari, M. ibn J. (2001). Jami‘ al-Bayan ‘an
Ta’wil Ay al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr.
Asad, M. (1980). The Message of the Qur’an: A
Translation and Contemporary Commentary. Gibraltar: Dar Al-Andalus.
Ibn Katsir, I. (2000). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
Riyadh: Dar Thayyibah.
Qutb, S. (2004). Fi Zhilal al-Qur’an. Cairo:
Dar al-Shuruq.
Rahman, F. (1980). Major Themes of the Qur’an.
Chicago: University of Chicago Press
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1231/11/01/26 :
10.16 WIB)

