[9] Madrasah Jiwa KETIKA KESABARAN MENJADI JALAN KEDEKATAN DENGAN ALLAH



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan adalah bulan latihan kesabaran. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, seorang Muslim belajar menahan lapar, dahaga, emosi, dan berbagai keinginan.

 

Namun kesabaran dalam puasa bukan sekadar menahan diri, melainkan proses mendekatkan hati kepada Allah. Dalam kesabaran, manusia belajar menerima ketentuan-Nya dengan lapang, sekaligus menyadari bahwa setiap ujian memiliki makna spiritual.

 

Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153).

 

Kebersamaan Allah dalam ayat ini bukan sekadar makna simbolik, tetapi menunjukkan pertolongan, bimbingan, dan ketenangan yang diberikan kepada hamba yang mampu bersabar.

 

Ramadhan menjadi ruang nyata untuk merasakan hal tersebut, karena kesabaran dilatih secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.

 

Rasulullah ï·º juga bersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran” (HR. Sunan al-Tirmidhi).

 

Hadis ini menegaskan bahwa inti puasa adalah kemampuan mengendalikan diri. Saat seseorang mampu menahan amarah, menjaga lisan, dan tetap berbuat baik meski dalam keadaan lelah, ia sedang menumbuhkan kekuatan batin yang mendekatkannya kepada Allah. Kesabaran mengubah ibadah dari sekadar kewajiban menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.

 

Dalam pandangan para ulama tasawuf, kesabaran bukan sikap pasif, melainkan keteguhan hati dalam ketaatan dan ketenangan dalam menghadapi ujian.

 

Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan bahwa kesabaran adalah jalan menuju cinta Allah, karena di dalamnya terdapat keikhlasan dan ketundukan kepada kehendak-Nya.

 

Ketika manusia bersabar, ia belajar melepaskan keinginan untuk selalu mengendalikan keadaan, dan menggantinya dengan kepercayaan kepada hikmah Allah.

 

Sering kali manusia merasa jauh dari ketenangan karena ingin segala sesuatu berjalan sesuai harapannya. Ramadhan mengajarkan bahwa ketenangan justru lahir ketika hati belajar menerima proses.

 

Lapar yang ditahan, rasa lelah dalam ibadah malam, dan ujian emosi sehari-hari menjadi sarana penyucian jiwa. Kesabaran menjadikan hati lebih lembut, lebih bijak, dan lebih dekat kepada Allah.

 

Pada akhirnya, kesabaran bukan hanya bekal menjalani Ramadhan, tetapi juga bekal menjalani kehidupan. Siapa yang mampu bersabar akan menemukan bahwa setiap kesulitan membawa kedewasaan, dan setiap penantian mengandung pahala.

 

Ramadhan mengingatkan bahwa jalan menuju Allah sering kali ditempuh melalui kesabaran—dan di ujung jalan itu terdapat ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh dunia.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1267/28/02/26 : 09.13 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad