Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan adalah bulan latihan kesabaran. Sejak terbit
fajar hingga terbenam matahari, seorang Muslim belajar menahan lapar, dahaga,
emosi, dan berbagai keinginan.
Namun kesabaran dalam puasa bukan sekadar menahan
diri, melainkan proses mendekatkan hati kepada Allah. Dalam kesabaran, manusia
belajar menerima ketentuan-Nya dengan lapang, sekaligus menyadari bahwa setiap
ujian memiliki makna spiritual.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Sesungguhnya
Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153).
Kebersamaan Allah dalam ayat ini bukan sekadar makna
simbolik, tetapi menunjukkan pertolongan, bimbingan, dan ketenangan yang
diberikan kepada hamba yang mampu bersabar.
Ramadhan menjadi ruang nyata untuk merasakan hal
tersebut, karena kesabaran dilatih secara terus-menerus dalam kehidupan
sehari-hari.
Rasulullah ï·º
juga bersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran” (HR. Sunan
al-Tirmidhi).
Hadis ini menegaskan bahwa inti puasa adalah kemampuan
mengendalikan diri. Saat seseorang mampu menahan amarah, menjaga lisan, dan
tetap berbuat baik meski dalam keadaan lelah, ia sedang menumbuhkan kekuatan
batin yang mendekatkannya kepada Allah. Kesabaran mengubah ibadah dari sekadar
kewajiban menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.
Dalam pandangan para ulama tasawuf, kesabaran bukan
sikap pasif, melainkan keteguhan hati dalam ketaatan dan ketenangan dalam
menghadapi ujian.
Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan bahwa kesabaran
adalah jalan menuju cinta Allah, karena di dalamnya terdapat keikhlasan dan
ketundukan kepada kehendak-Nya.
Ketika manusia bersabar, ia belajar melepaskan
keinginan untuk selalu mengendalikan keadaan, dan menggantinya dengan kepercayaan
kepada hikmah Allah.
Sering kali manusia merasa jauh dari ketenangan karena
ingin segala sesuatu berjalan sesuai harapannya. Ramadhan mengajarkan bahwa
ketenangan justru lahir ketika hati belajar menerima proses.
Lapar yang ditahan, rasa lelah dalam ibadah malam, dan
ujian emosi sehari-hari menjadi sarana penyucian jiwa. Kesabaran menjadikan
hati lebih lembut, lebih bijak, dan lebih dekat kepada Allah.
Pada akhirnya, kesabaran bukan hanya bekal menjalani
Ramadhan, tetapi juga bekal menjalani kehidupan. Siapa yang mampu bersabar akan
menemukan bahwa setiap kesulitan membawa kedewasaan, dan setiap penantian
mengandung pahala.
Ramadhan mengingatkan bahwa jalan menuju Allah sering
kali ditempuh melalui kesabaran—dan di ujung jalan itu terdapat ketenangan yang
tidak dapat diberikan oleh dunia.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1267/28/02/26 : 09.13
WIB)

