[6] Madrasah Jiwa RAMADHAN DAN SENI MENGOSONGKAN HATI



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan mengajarkan satu pelajaran ruhani yang sering terlupakan dalam kehidupan modern: seni mengosongkan hati. Manusia terbiasa mengisi hidupnya dengan berbagai keinginan, ambisi, dan kekhawatiran, hingga hati menjadi penuh dan sulit menerima ketenangan.

 

Puasa hadir bukan hanya untuk menahan makan dan minum, tetapi untuk melatih manusia melepaskan kepenuhan yang tidak perlu, agar hati kembali lapang dan siap menerima cahaya petunjuk.

 

Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa keberuntungan sejati adalah bagi orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams: 9). Penyucian jiwa dimulai dari keberanian mengosongkan hati dari kesombongan, iri, dan keterikatan berlebihan pada dunia.

 

Ketika hati terlalu dipenuhi oleh urusan dunia, ruang untuk menghadirkan Allah menjadi sempit. Ramadhan mengajarkan pengurangan—mengurangi makan, mengurangi bicara yang sia-sia, dan mengurangi keinginan—agar hati kembali jernih.

 

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian” (HR. Sahih Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kualitas spiritual manusia terletak pada kondisi hatinya.

 

Mengosongkan hati bukan berarti menjauh dari kehidupan, tetapi membersihkannya dari hal-hal yang menghalangi keikhlasan. Puasa menjadi sarana efektif karena ia melemahkan dominasi nafsu dan memberi ruang bagi kesadaran batin.

 

Dalam tradisi tasawuf, hati diibaratkan wadah. Jika ia dipenuhi oleh cinta dunia secara berlebihan, maka sulit baginya merasakan kedekatan dengan Allah.

 

Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan bahwa hati hanya akan hidup ketika ia terbebas dari ketergantungan selain kepada Allah. Karena itu, keheningan Ramadhan, terutama pada malam hari—menjadi kesempatan untuk mengosongkan diri melalui dzikir, istighfar, dan doa yang tulus.

 

Mengosongkan hati juga berarti belajar melepaskan beban yang tidak perlu: dendam, penyesalan berlebihan, dan kecemasan terhadap masa depan. Ketika hati tidak lagi dipenuhi oleh hal-hal tersebut, ia menjadi ringan dan mudah merasakan syukur. Dari sinilah ketenangan lahir, bukan karena masalah hilang, tetapi karena hati tidak lagi dikuasai oleh kegelisahan.

 

Ramadhan pada akhirnya adalah latihan kembali kepada kesederhanaan batin. Dengan mengosongkan hati, manusia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari menambah, tetapi sering kali dari mengurangi.

 

Hati yang kosong dari kesombongan dan kelekatan dunia akan lebih mudah dipenuhi dengan cinta kepada Allah. Dan ketika hati telah dipenuhi oleh cinta itu, kehidupan pun terasa lebih ringan dan penuh makna.

 

Hati yang bersih dari kesombongan (kibr) dan kelekatan berlebihan terhadap dunia (ḥubb ad-dunyā) merupakan prasyarat utama bagi tumbuhnya cinta kepada Allah (maḥabbatullāh).

 

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqmān [31]: 18).

 

Dalam hadis sahih, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi” (HR. Muslim).

 

Kesombongan menutup hati dari cahaya kebenaran karena ia menumbuhkan perasaan cukup diri dan menolak tunduk kepada Allah. Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan bahwa hati ibarat bejana; jika ia dipenuhi oleh kecintaan berlebihan kepada dunia, maka tidak ada ruang bagi cinta Ilahi (al-Ghazali, 2005).

 

Dengan demikian, proses tazkiyat an-nafs (penyucian jiwa) melalui kerendahan hati, zuhud, dan muhasabah menjadi jalan spiritual untuk membuka ruang batin agar dipenuhi oleh kehadiran Allah.

 

Ketika cinta kepada Allah telah bersemayam dalam hati, maka orientasi hidup seseorang berubah secara mendasar: beban duniawi tidak lagi menjadi pusat kegelisahan, melainkan bagian dari ujian yang bermakna.

 

Al-Qur’an menyatakan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Ra‘d [13]: 28).

 

Ketenangan ini lahir dari kesadaran tauhid bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak dan rahmat-Nya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madārij as-Sālikīn menegaskan bahwa cinta kepada Allah adalah ruh segala amal dan sumber kebahagiaan sejati; tanpa cinta tersebut, amal menjadi kering dan kehidupan terasa hampa (Ibn Qayyim, 1996).

 

Dengan demikian, hati yang telah terbebas dari kesombongan dan keterikatan duniawi akan lebih mudah merasakan kelapangan (sa‘ah ṣadr) dan makna hidup, karena ia berpijak pada hubungan yang kokoh dengan Sang Pencipta, bukan pada kefanaan materi.

 

Referensi

Al-Ghazali. (2005). Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Qur’an al-Karim.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (1996). Madārij as-Sālikīn. Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī.

Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1264/23/02/26 : 21.30 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad