Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan mengajarkan satu pelajaran ruhani yang sering
terlupakan dalam kehidupan modern: seni mengosongkan hati. Manusia terbiasa
mengisi hidupnya dengan berbagai keinginan, ambisi, dan kekhawatiran, hingga
hati menjadi penuh dan sulit menerima ketenangan.
Puasa hadir bukan hanya untuk menahan makan dan minum,
tetapi untuk melatih manusia melepaskan kepenuhan yang tidak perlu, agar hati
kembali lapang dan siap menerima cahaya petunjuk.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa keberuntungan
sejati adalah bagi orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams: 9). Penyucian
jiwa dimulai dari keberanian mengosongkan hati dari kesombongan, iri, dan
keterikatan berlebihan pada dunia.
Ketika hati terlalu dipenuhi oleh urusan dunia, ruang
untuk menghadirkan Allah menjadi sempit. Ramadhan mengajarkan
pengurangan—mengurangi makan, mengurangi bicara yang sia-sia, dan mengurangi
keinginan—agar hati kembali jernih.
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi
melihat hati dan amal kalian” (HR. Sahih Muslim). Hadis ini menegaskan
bahwa kualitas spiritual manusia terletak pada kondisi hatinya.
Mengosongkan hati bukan berarti menjauh dari
kehidupan, tetapi membersihkannya dari hal-hal yang menghalangi keikhlasan.
Puasa menjadi sarana efektif karena ia melemahkan dominasi nafsu dan memberi
ruang bagi kesadaran batin.
Dalam tradisi tasawuf, hati diibaratkan wadah. Jika ia
dipenuhi oleh cinta dunia secara berlebihan, maka sulit baginya merasakan
kedekatan dengan Allah.
Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan bahwa hati hanya
akan hidup ketika ia terbebas dari ketergantungan selain kepada Allah. Karena
itu, keheningan Ramadhan, terutama pada malam hari—menjadi kesempatan untuk
mengosongkan diri melalui dzikir, istighfar, dan doa yang tulus.
Mengosongkan hati juga berarti belajar melepaskan
beban yang tidak perlu: dendam, penyesalan berlebihan, dan kecemasan terhadap
masa depan. Ketika hati tidak lagi dipenuhi oleh hal-hal tersebut, ia menjadi
ringan dan mudah merasakan syukur. Dari sinilah ketenangan lahir, bukan karena
masalah hilang, tetapi karena hati tidak lagi dikuasai oleh kegelisahan.
Ramadhan pada akhirnya adalah latihan kembali kepada
kesederhanaan batin. Dengan mengosongkan hati, manusia belajar bahwa
kebahagiaan tidak selalu datang dari menambah, tetapi sering kali dari
mengurangi.
Hati yang kosong dari kesombongan dan kelekatan dunia
akan lebih mudah dipenuhi dengan cinta kepada Allah. Dan ketika hati telah
dipenuhi oleh cinta itu, kehidupan pun terasa lebih ringan dan penuh makna.
Hati yang
bersih dari kesombongan (kibr) dan kelekatan berlebihan terhadap dunia (ḥubb
ad-dunyā) merupakan prasyarat utama bagi tumbuhnya cinta kepada Allah (maḥabbatullāh).
Al-Qur’an
menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS.
Luqmān [31]: 18).
Dalam hadis
sahih, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak
akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji
sawi” (HR. Muslim).
Kesombongan
menutup hati dari cahaya kebenaran karena ia menumbuhkan perasaan cukup diri
dan menolak tunduk kepada Allah. Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn
menjelaskan bahwa hati ibarat bejana; jika ia dipenuhi oleh kecintaan
berlebihan kepada dunia, maka tidak ada ruang bagi cinta Ilahi (al-Ghazali,
2005).
Dengan
demikian, proses tazkiyat an-nafs (penyucian jiwa) melalui kerendahan
hati, zuhud, dan muhasabah menjadi jalan spiritual untuk membuka ruang batin
agar dipenuhi oleh kehadiran Allah.
Ketika cinta
kepada Allah telah bersemayam dalam hati, maka orientasi hidup seseorang
berubah secara mendasar: beban duniawi tidak lagi menjadi pusat kegelisahan,
melainkan bagian dari ujian yang bermakna.
Al-Qur’an
menyatakan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”
(QS. ar-Ra‘d [13]: 28).
Ketenangan
ini lahir dari kesadaran tauhid bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak dan
rahmat-Nya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madārij as-Sālikīn menegaskan
bahwa cinta kepada Allah adalah ruh segala amal dan sumber kebahagiaan sejati;
tanpa cinta tersebut, amal menjadi kering dan kehidupan terasa hampa (Ibn
Qayyim, 1996).
Dengan
demikian, hati yang telah terbebas dari kesombongan dan keterikatan duniawi
akan lebih mudah merasakan kelapangan (sa‘ah ṣadr) dan makna hidup,
karena ia berpijak pada hubungan yang kokoh dengan Sang Pencipta, bukan pada
kefanaan materi.
Referensi
Al-Ghazali.
(2005). Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Qur’an al-Karim.
Ibn Qayyim
al-Jawziyyah. (1996). Madārij as-Sālikīn. Beirut: Dār al-Kitāb
al-‘Arabī.
Muslim ibn
al-Hajjaj. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1264/23/02/26 : 21.30
WIB)

