REFLEKSI KRITIS ATAS KEMUNDURAN BANGSA DI HARI KEBANGKITAN NASIONAL



 

Oleh: Ahmad Sastra

 

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Momentum ini merujuk pada lahirnya Budi Utomo tahun 1908 yang dipandang sebagai awal tumbuhnya kesadaran kebangsaan Indonesia, terlepas dari berbagai perdebatan yang ada.  Pada tahun 2026, pemerintah mengusung tema "Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara" sebagai ajakan memperkuat generasi muda dan daya saing nasional di tengah tantangan global.

 

Namun pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah semangat kebangkitan yang diperingati setiap tahun benar-benar tercermin dalam realitas kehidupan rakyat? Ataukah kebangkitan hanya menjadi slogan seremonial yang semakin jauh dari kenyataan sosial, ekonomi, dan politik yang dirasakan masyarakat?

 

Pertanyaan tersebut muncul karena di tengah berbagai pidato optimistis tentang kemajuan bangsa, sebagian masyarakat justru merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat, meningkatnya ketidakpastian lapangan kerja, melemahnya daya beli, serta berbagai kebijakan publik yang dianggap kurang menyentuh kebutuhan mendasar rakyat. Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional semestinya bukan sekadar momentum perayaan, melainkan kesempatan melakukan evaluasi kritis terhadap arah perjalanan bangsa.

 

Ukuran Kemajuan Bangsa

 

Secara substansial, kebangkitan nasional tidak dapat diukur hanya dari pembangunan fisik, banyaknya proyek strategis, atau tingginya angka investasi. Kebangkitan yang sesungguhnya harus tercermin pada meningkatnya kesejahteraan rakyat, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, keadilan hukum, serta perlindungan terhadap hak-hak warga negara.

 

Dalam perspektif pembangunan modern, keberhasilan suatu negara tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas hidup masyarakat. Karena itu, ketika masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi, meningkatnya angka pengangguran, dan berbagai ketimpangan sosial, maka wajar jika muncul pertanyaan kritis mengenai makna kebangkitan yang sesungguhnya.

 

Kritik terhadap pemerintah bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara. Sebaliknya, kritik merupakan bagian penting dari mekanisme kontrol sosial agar kebijakan publik tetap berpihak kepada kepentingan rakyat. Pemerintah yang sehat justru membutuhkan ruang dialog, koreksi, dan partisipasi publik yang luas.

 

Persoalan Ekonomi dan Kegelisahan Publik

 

Salah satu isu yang banyak mendapat perhatian adalah kondisi ekonomi nasional. Pada tahun 2026, nilai tukar rupiah mengalami tekanan cukup besar dan sempat mencapai titik terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong berbagai respons kebijakan dari pemerintah dan bank sentral untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

 

Melemahnya nilai tukar tentu tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor domestik. Berbagai faktor global seperti konflik geopolitik, perubahan suku bunga internasional, perlambatan ekonomi dunia, serta ketidakpastian pasar keuangan turut memberikan pengaruh signifikan. Namun demikian, persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.

 

Di sisi lain, persoalan ketenagakerjaan juga masih menjadi tantangan. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan terdapat 15.425 pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) selama periode Januari–April 2026. Meskipun angka tersebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, fakta bahwa ribuan pekerja kehilangan pekerjaan tetap menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian pemerintah.

 

Bagi masyarakat kecil, statistik ekonomi sering kali tidak terlalu penting dibanding realitas yang mereka hadapi sehari-hari. Harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya kesehatan, dan kesempatan kerja jauh lebih menentukan persepsi masyarakat tentang kondisi negara dibanding angka-angka makro ekonomi yang dipublikasikan pemerintah.

 

Dilema Prioritas

 

Perdebatan lain yang berkembang di masyarakat adalah mengenai prioritas penggunaan anggaran negara. Sebagian kalangan mempertanyakan berbagai program pemerintah yang memerlukan pembiayaan sangat besar, sementara di banyak daerah masih terdapat sekolah rusak, fasilitas kesehatan yang terbatas, dan kesejahteraan guru maupun tenaga kesehatan yang belum optimal.

 

Dalam perspektif kebijakan publik, setiap program pemerintah tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Namun yang menjadi persoalan adalah apakah manfaat yang dihasilkan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, serta apakah program tersebut benar-benar menjawab kebutuhan paling mendesak masyarakat.

 

Prinsip dasar tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) mengharuskan setiap kebijakan disusun berdasarkan data, kajian ilmiah, transparansi, serta mekanisme evaluasi yang jelas. Kebijakan publik yang tidak didasarkan pada kebutuhan riil masyarakat berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran sekaligus mengurangi kepercayaan publik terhadap pemerintah.

 

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah isu lingkungan hidup. Berbagai kajian menunjukkan bahwa pembangunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan dapat menimbulkan dampak jangka panjang berupa kerusakan hutan, meningkatnya risiko bencana, dan menurunnya kualitas hidup masyarakat.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, isu deforestasi, alih fungsi lahan, dan berbagai proyek pembangunan skala besar terus menjadi bahan perdebatan. Sebagian pihak melihat pembangunan sebagai kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sementara pihak lain mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis.

 

Kebangkitan nasional yang sejati seharusnya tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Tidak ada arti pembangunan jika generasi mendatang harus menanggung kerusakan alam yang diwariskan oleh generasi saat ini.

 

Membuka Ruang Kritik

 

Salah satu indikator penting kemajuan bangsa adalah kualitas berbangsa dan bernegara. Negara yang maju bukan negara yang bebas dari kritik, melainkan negara yang mampu mengelola kritik secara konstruktif.

 

Ketika masyarakat, akademisi, jurnalis, atau aktivis menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, respons yang diperlukan bukanlah stigmatisasi atau kriminalisasi, melainkan dialog dan argumentasi berbasis data. Kebijakan yang baik akan semakin kuat jika mampu bertahan dari kritik yang rasional.

 

Dalam sejarah Indonesia, para tokoh kebangkitan nasional seperti Wahidin Sudirohusodo, Soetomo, dan para pendiri bangsa lainnya justru tumbuh dari tradisi berpikir kritis terhadap keadaan masyarakat pada zamannya. Semangat kebangkitan lahir dari keberanian melihat masalah secara jujur, bukan dari kebiasaan menutupi persoalan.

 

Perspektif Islam tentang Kebangkitan

 

Dalam Islam, kebangkitan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi atau pembangunan fisik. Al-Qur'an menegaskan: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kebangkitan membutuhkan perubahan mendasar dalam cara berpikir, sistem kehidupan, kepemimpinan, dan budaya masyarakat. Kebangkitan bukan sekadar slogan, melainkan proses perbaikan yang nyata.

 

Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa kemajuan lahir ketika ilmu pengetahuan, keadilan, amanah, dan kepedulian terhadap rakyat menjadi fondasi utama pemerintahan. Sebaliknya, kemunduran terjadi ketika kekuasaan lebih mengutamakan kepentingan elite dibanding kemaslahatan masyarakat luas.

 

Teori siklus kekuasaan Ibnu Khaldun didasarkan pada pemahaman mendalam tentang dinamika sosial dan politik. Ia mengamati bahwa setiap dinasti atau kekuasaan politik mengalami proses perubahan yang berulang-ulang.

 

Teori ini memiliki beberapa komponen kunci, pertama awal kekuasaan. Ibnu Khaldun mengamati bahwa awal munculnya sebuah dinasti atau kekuasaan seringkali didorong oleh semangat dan tekad yang kuat. Pemimpin pertama dari dinasti tersebut memiliki ambisi besar untuk memperluas wilayah, memperkuat kekuatan, dan meningkatkan kehidupan rakyatnya.

 

Kedua, puncak kekuasaan. Pada tahap ini, dinasti atau kekuasaan mencapai puncaknya. Kekuatan militer, ekonomi, dan budaya mereka berkembang pesat. Mereka seringkali menjadi penguasa yang dominan dalam dunia politik pada masanya. Ketiga, fase penurunan. Setelah mencapai puncak kekuasaan, Ibnu Khaldun mengamati bahwa dinasti tersebut cenderung mengalami penurunan. Pemimpin-pemimpin yang menggantikan pendiri dinasti mungkin tidak memiliki semangat dan tekad yang sama. Mereka lebih fokus pada kenikmatan pribadi dan kebijakan yang kurang efektif.

 

Keempat, fase kehancuran. Pada titik ini, dinasti atau kekuasaan mengalami kemunduran yang signifikan. Kekuatan mereka melemah, dan mereka menjadi rentan terhadap serangan dari luar atau pemberontakan internal. Dinasti tersebut dapat hancur dan digantikan oleh kekuasaan baru. Kelima, siklus baru. Proses ini kemudian dimulai lagi dengan munculnya dinasti atau kekuasaan baru yang memiliki semangat dan tekad yang kuat.

 

Ibnu Khaldun menekankan perlunya pengamatan yang cermat terhadap sejarah dan masyarakat untuk memahami pola-pola yang berulang. Ia berpendapat bahwa sejarah bukan sekadar catatan peristiwa, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial dan politik. Ia menyatakan bahwa seiring berjalannya waktu, pemimpin dan masyarakat cenderung melupakan nilai-nilai moral, yang berkontribusi pada keruntuhan peradaban.

 

Teori siklus sejarah Ibnu Khaldun memberikan wawasan yang mendalam tentang dinamika sosial dan politik serta menjelaskan bagaimana kelompok-kelompok manusia berkembang dan runtuh sepanjang waktu. Konsep ini masih relevan dan sering dirujuk dalam studi sejarah dan ilmu sosial hingga saat ini.

 

Dalam The Fourth Turning, William Strauss dan Neil Howe menjelaskan bahwa sejarah manusia ditandai oleh perkembangan siklus melalui empat "Perputaran." Perputaran Pertama adalah Puncak, Perputaran Kedua adalah Kebangkitan, Perputaran Ketiga adalah Kehancuran, dan Perputaran Keempat adalah Krisis .

 

Perubahan sosial adalah hal yang tidak dapat dihindari dan terjadi dalam setiap masyarakat. Beberapa teori menjelaskan tentang bagaimana perubahan sosial terjadi, termasuk teori evolusi, teori siklus, teori fungsional, dan teori konflik. Dalam teori siklus, Oswald Spenger dan Arnold Toynbee berpendapat bahwa setiap masyarakat berkembang dengan 4 tahap, contohnya adalah pertumbuhan manusia dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa ke masa tua.

 

Dalam pandangan Plato, demokrasi cenderung mengalami siklus yang akan membawanya ke bentuk pemerintahan yang lebih buruk, yaitu tirani. Ia percaya bahwa ketidakpuasan rakyat terhadap pemimpin demokratis dapat menyebabkan pencarian seorang pemimpin yang otoriter, yang menjanjikan stabilitas tetapi mengorbankan kebebasan. Saat datang tirani, maka demokrasi mengalami kematiannya.

 

Runtuhnya sistem komunisme, terutama di Eropa Timur dan Uni Soviet pada akhir abad ke-20, merupakan peristiwa penting dalam sejarah dunia yang dalam hal ini bisa kita maknai sebagai keniscayaan teori siklus ini, apapun yang mencadi faktor keruntuhannya. Sebab jaya dan runtuhnya peradaban adalah sebuah keniscayaan.

 

Sejarahnya, banyak negara komunis mengalami stagnasi ekonomi dan krisis yang berkepanjangan. Sistem ekonomi terpusat dan perencanaan yang kaku menyebabkan ineffisiensi, kekurangan barang, dan rendahnya produktivitas. Rakyat mulai merasa frustrasi dengan kurangnya kebebasan politik, pelanggaran hak asasi manusia, dan kualitas hidup yang buruk. Protes dan gerakan rakyat mulai muncul, menginginkan perubahan.

 

Akhirnya, pemikiran dan ideologi komunis mulai dipertanyakan, terutama setelah munculnya pemimpin yang lebih terbuka dan reformis, seperti Mikhail Gorbachev. Kebijakan "glasnost" (keterbukaan) dan "perestroika" (reformasi ekonomi) berusaha memperbaiki situasi, tetapi justru mempercepat ketidakpuasan. Dari sinilah, ideologi komunisme itu menemui ajalnya.

 

Jika diperhatikan terjadinya kesenjangan Ekonomi, krisis lingkungan dan krisis sosial politik saat ini akibat penerapan ideologi kapitalisme, maka inilah pertanda ideologi ini akan segera menemui ajalnya. Pertumbuhan ketidaksetaraan antara yang kaya dan miskin dapat menimbulkan ketidakpuasan sosial. Jika kesenjangan ini terus meningkat, bisa muncul gerakan sosial yang mendesak perubahan mendasar dalam sistem ekonomi.

 

Kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya dalam kapitalisme dapat mengakibatkan krisis iklim yang parah. Jika tidak ditangani, hal ini dapat merusak fondasi ekonomi dan memicu perubahan besar dalam cara kita mengatur produksi dan konsumsi. Ketidakpuasan terhadap elit ekonomi dan politik dapat menyebabkan ketidakstabilan dan bahkan kerusuhan. Gerakan populis, baik di kanan maupun kiri, sering kali muncul sebagai respons terhadap kekurangan dalam sistem kapitalis.

 

Jika komunisme telah menemui ajalnya, sementara kapitalisme sedang sekarat, maka Islamlah yang akan kembali menguasai peradaban manusia akhir zaman. Allah menegaskan dalam firmanNya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS An Nur : 55).

 

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni tahunan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengakui kelemahan dan memperbaikinya, bukan bangsa yang hanya sibuk merayakan keberhasilan sambil mengabaikan berbagai persoalan yang masih ada.

 

Memang tidak adil jika seluruh capaian pemerintah diabaikan begitu saja. Namun demikian, tidak bijak pula jika berbagai kritik dan kegelisahan masyarakat dianggap sebagai sikap anti-pemerintah. Justru kritik yang jujur merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa.

 

Karena itu, makna kebangkitan nasional hari ini bukan sekadar mengibarkan bendera atau menghadiri upacara peringatan. Kebangkitan yang sesungguhnya adalah keberanian membangun pemerintahan yang lebih adil, ekonomi yang lebih menyejahterakan, pendidikan yang lebih berkualitas, lingkungan yang lebih lestari, dan sistem pemerintahan yang sehat.

 

Jika berbagai persoalan mendasar masih terus dirasakan rakyat, maka Hari Kebangkitan Nasional hendaknya menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar bangsa ini belum selesai. Kebangkitan bukanlah sesuatu yang sudah tercapai, melainkan cita-cita yang harus terus diperjuangkan bersama. Islam telah memberikan solusi ideologis untuk kebangkitan hakiki, tinggal apakah bangsa ini mau menerima atau tidak ?

 

REFERENSI

 

Al-Qur'an al-Karim, QS. Ar-Ra'd: 11.

Budi Utomo. (1908). Sejarah gerakan kebangkitan nasional Indonesia.

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Data PHK Januari–April 2026.

Reuters. (2026). Analisis kondisi ekonomi Indonesia dan pelemahan rupiah tahun 2026.

United Nations Development Programme. (2024). Human Development Report.

World Bank. (2024). World Development Report.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan,No.1353/25/05/26 : 11.23 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad