ISRAEL : PENJAJAH YANG TAK KENAL KATA DIPLOMASI



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Agresi dan penjajahan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina terus memunculkan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Serangan militer, penghancuran rumah warga, blokade kemanusiaan, hingga pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak telah menjadi pemandangan yang berulang selama puluhan tahun.

 

Bahkan, berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa jurnalis dan pekerja kemanusiaan pun tidak luput dari sasaran kekerasan. Dalam situasi terbaru, muncul kabar mengenai penculikan jurnalis Indonesia oleh tentara Israel, yang semakin menunjukkan watak represif rezim penjajah tersebut.

 

Dalam perspektif hukum internasional, tindakan demikian merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan kebebasan pers, sedangkan dalam perspektif Islam, penjajahan dan kezaliman merupakan tindakan yang diharamkan.

 

Sejarah panjang konflik Palestina menunjukkan bahwa Israel tidak pernah benar-benar berdiri di atas semangat perdamaian yang adil. Berbagai perundingan dan diplomasi sering kali berakhir tanpa penyelesaian substantif, sementara pembangunan permukiman ilegal dan agresi militer terus berlangsung.

 

Bahkan Al-Qur’an mengabadikan bagaimana sebagian Bani Israil pada masa lampau melakukan pelanggaran besar terhadap para nabi utusan Allah. Allah SWT berfirman: “Dan mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang benar...” (QS. al-Baqarah [2]: 61)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa pembangkangan dan kezaliman telah menjadi bagian dari sejarah sebagian kaum tersebut. Tentu, ayat ini tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh individu Yahudi, namun menjadi pelajaran bahwa kezaliman dan penindasan adalah sifat yang dikutuk oleh Allah, siapa pun pelakunya.

 

Genosida Palestina dan Sikap Dunia Islam

 

Apa yang terjadi di Gaza hari ini telah oleh banyak pengamat internasional disebut sebagai bentuk genosida modern. Ribuan warga sipil terbunuh, rumah sakit dihancurkan, bantuan kemanusiaan dihambat, bahkan anak-anak menjadi korban pembantaian.

 

Allah SWT dengan tegas melarang tindakan kezaliman: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Mā’idah [5]: 8)

 

Namun, Israel terus melakukan agresi dengan dukungan politik dan militer dari sekutu-sekutunya, terutama Amerika Serikat. Dukungan tersebut tampak dalam bantuan persenjataan, veto di forum internasional, hingga legitimasi politik terhadap pendudukan wilayah Palestina. Dalam konteks ini, umat Islam di seluruh dunia seharusnya memiliki solidaritas yang kuat terhadap rakyat Palestina, bukan sekadar simpati emosional, tetapi juga kesatuan sikap politik dan kemanusiaan.

 

Rasulullah bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Hadis ini menunjukkan bahwa penderitaan Palestina bukan hanya persoalan bangsa tertentu, melainkan luka bagi seluruh umat Islam.

 

Konsep Jihad dalam Membela Negeri Muslim

 

Dalam Islam, jihad memiliki makna luas, mencakup perjuangan melawan hawa nafsu, dakwah, dan pembelaan terhadap umat yang tertindas. Dalam konteks agresi militer dan penjajahan, jihad juga bermakna pembelaan fisik terhadap negeri Muslim yang diduduki.

Allah SWT berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Baqarah [2]: 190)

 

Ayat ini menjadi dasar bahwa perang dalam Islam bukan untuk agresi atau penindasan, melainkan untuk melawan penjajahan dan membela diri. Oleh karena itu, perjuangan rakyat Palestina mempertahankan tanah dan kehormatannya merupakan hak yang diakui dalam syariat maupun hukum internasional.

 

Namun demikian, jihad dalam Islam tetap terikat dengan aturan moral dan etika. Islam melarang pembunuhan terhadap anak-anak, perempuan, orang tua, dan nonkombatan. Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. Abu Dawud).

 

Karena itu, perjuangan membela Palestina harus dipahami dalam kerangka syariat yang adil, bukan tindakan brutal tanpa batas.

 

Persatuan Negeri-Negeri Muslim

 

Salah satu persoalan terbesar dunia Islam hari ini adalah lemahnya persatuan politik dan militer antar negeri Muslim. Padahal Allah SWT telah memerintahkan persatuan: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103)

 

Perpecahan negeri-negeri Muslim membuat Palestina menghadapi penjajahan hampir sendirian. Banyak negara Muslim hanya mengeluarkan kecaman diplomatik tanpa langkah strategis yang nyata. Sementara itu, negara-negara besar pendukung Israel terus memberikan bantuan militer dan perlindungan politik.

 

Dalam sejarah Islam, persatuan umat pernah melahirkan kekuatan besar yang mampu membebaskan Palestina. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Yerusalem dibebaskan dengan penuh kemuliaan dan toleransi. Ketika memasuki Palestina, Umar tidak melakukan pembantaian, melainkan memberikan jaminan keamanan bagi penduduknya, termasuk non-Muslim. Ini menunjukkan bahwa Islam datang bukan sebagai penjajah, melainkan pembebas.

 

Beberapa abad kemudian, Salahuddin al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem dari Tentara Salib setelah mempersatukan kekuatan kaum Muslimin. Kemenangan Hittin pada tahun 1187 M menjadi bukti bahwa persatuan politik dan militer umat mampu mengakhiri penjajahan. Salahuddin dikenal bukan hanya sebagai panglima perang, tetapi juga simbol akhlak dan keadilan Islam.

 

Khilafah dan Persoalan Penjajahan

 

Sebagian pemikir politik Islam berpendapat bahwa salah satu penyebab utama lemahnya dunia Islam adalah hilangnya institusi pemersatu umat, yaitu khilafah. Dalam pandangan ini, ketika dunia Islam terpecah menjadi banyak negara bangsa dengan kepentingan masing-masing, maka kekuatan umat melemah dan mudah didominasi kekuatan asing.

 

Syaikh Taqiuddin an-Nabhani dalam berbagai karya politiknya menegaskan bahwa persatuan politik umat Islam merupakan kewajiban syar’i untuk menjaga kehormatan dan keamanan negeri-negeri Muslim. Menurutnya, penjajahan modern dapat terus berlangsung karena umat Islam kehilangan kepemimpinan politik global yang mampu melindungi wilayah-wilayah kaum Muslimin.

 

Meski demikian, diskursus tentang khilafah harus dipahami secara ilmiah dan bijak. Tujuan utamanya adalah mewujudkan persatuan, keadilan, dan perlindungan umat, bukan menebar kekerasan atau kekacauan. Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah untuk menegakkan keadilan.

 

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. an-Nisā’ [4]: 58)

 

Karena itu, perjuangan membela Palestina tidak cukup hanya dengan retorika, tetapi memerlukan penguatan persatuan umat, pendidikan politik Islam, dukungan kemanusiaan, serta tekanan internasional terhadap penjajahan.

 

Penjajahan Israel terhadap Palestina merupakan tragedi kemanusiaan dan kezaliman yang telah berlangsung lama. Agresi terhadap warga sipil, penghancuran Gaza, hingga tindakan terhadap jurnalis dan pekerja kemanusiaan menunjukkan bahwa konflik ini masih jauh dari penyelesaian yang adil.

 

Dalam perspektif Islam, membela kaum tertindas adalah kewajiban moral dan agama. Umat Islam dituntut memiliki solidaritas yang nyata terhadap Palestina, baik melalui doa, bantuan kemanusiaan, pendidikan, diplomasi, maupun dukungan politik yang adil.

 

Sejarah telah menunjukkan bahwa Palestina pernah dibebaskan oleh pemimpin-pemimpin Muslim seperti Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi ketika umat Islam bersatu. Karena itu, tantangan terbesar dunia Islam hari ini adalah membangun kembali persatuan, kekuatan, dan keberanian moral untuk menolak penjajahan dalam segala bentuknya.

 

Islam mengajarkan perdamaian yang berkeadilan, bukan perdamaian yang membiarkan penindasan terus berlangsung. Dengan persatuan umat dan tegaknya khilafah, keadilan, dan keteguhan pada ajaran Islam, harapan bagi kemerdekaan Palestina akan segera terwujud.

 

REFERENSI

Abu Dawud, S. ibn al-A. (n.d.). Sunan Abī Dāwud. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Bukhari, M. ibn I. (n.d.). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ibn Kathīr.

Al-Ghazali, A. H. M. (2005). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurthubi, M. A. A. (2006). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah al-Risālah.

Amnesty International. (2022). Israel’s apartheid against Palestinians: Cruel system of domination and crime against humanity. London, England: Amnesty International Publications.

Esposito, J. L. (1998). Islam: The Straight Path (3rd ed.). New York, NY: Oxford University Press.

Hourani, A. (1991). A History of the Arab Peoples. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Ibn Kathir, I. U. (2000). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ṭayyibah.

Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī.

Pappé, I. (2006). The Ethnic Cleansing of Palestine. Oxford, England: Oneworld Publications.

Taqiuddin an-Nabhani. (2001). Asy-Syakhṣiyyah al-Islāmiyyah Juz II. Beirut: Dār al-Ummah.

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs. (2024). Humanitarian situation in Gaza. New York, NY: United Nations.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1349/20/05/26 : 14.03 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad