Oleh : Ahmad Sastra
Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Salah satu kemuliaan terbesar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya
adalah akal. Dengan akal, manusia mampu memahami realitas, membedakan yang
benar dan yang salah, serta membangun kehidupan yang beradab. Hewan hidup hanya
dengan naluri, sedangkan manusia diberi kemampuan berpikir. Jadi jika masih ingin
disebut sebagai manusia, harus berpikir, jangan malas berpikir.
Karena itu, kemanusiaan seseorang sesungguhnya tampak
ketika ia menggunakan akalnya secara benar. Ketika manusia meninggalkan akal
sehat dan tenggelam dalam perilaku buruk, rakus, zalim, dan tanpa pertimbangan
moral, maka derajatnya justru jatuh lebih rendah daripada binatang.
Allah Swt. berfirman: “Dan sungguh, Kami jadikan untuk
(isi neraka Jahannam) banyak dari kalangan jin dan manusia, mereka mempunyai
hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka
mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai
telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan
ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS.
Al-A‘raf [7]: 179)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia yang tidak
menggunakan akalnya secara benar akan kehilangan hakikat kemanusiaannya. Ia
memiliki potensi berpikir, tetapi memilih lalai dan mengikuti hawa nafsu. Dalam
pandangan Islam, kemuliaan manusia bukan terletak pada fisik, kekayaan, atau
kekuasaan, melainkan pada kemampuan menggunakan akal untuk mengenal Allah dan
menjalankan kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
Berpikir pada hakikatnya adalah proses
mengidentifikasi fakta dan memberikan penilaian terhadap fakta tersebut. Dalam
tradisi intelektual Islam, aktivitas berpikir tidak lahir begitu saja, tetapi
membutuhkan beberapa komponen penting. Setidaknya ada empat komponen dalam
berpikir : otak, fakta, pancaindera dan informasi tentang fakta.
Pertama, adanya otak yang sehat sebagai alat berpikir.
Kedua, adanya fakta atau realitas yang menjadi objek pemikiran. Ketiga, adanya
pancaindra yang menangkap fakta tersebut. Keempat, adanya informasi atau ilmu
tentang fakta yang membantu manusia memahami realitas secara benar. Tanpa ilmu,
seseorang akan sulit berpikir dengan baik. Karena itu, Islam sangat menekankan
pentingnya ilmu pengetahuan dan literasi.
Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah saw. dimulai
dengan perintah membaca“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Perintah membaca merupakan fondasi peradaban Islam.
Membaca bukan sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga memahami, menelaah, dan
berpikir. Dari aktivitas membaca lahir ilmu pengetahuan. Dari ilmu lahir
peradaban. Sejarah membuktikan bahwa umat Islam pernah menjadi pelopor kemajuan
dunia karena menjadikan ilmu dan berpikir sebagai budaya hidup.
Peradaban Islam melahirkan ilmuwan besar seperti Ibnu
Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, dan Al-Farabi yang memberikan kontribusi
besar terhadap ilmu pengetahuan dunia. Mereka mampu membangun peradaban karena
tidak malas berpikir.
Dalam Islam, berpikir bahkan menjadi bagian dari
ibadah. Al-Qur’an berkali-kali menggunakan ungkapan seperti afala ta‘qilun
(apakah kalian tidak berpikir), afala tatafakkarun (apakah kalian tidak
merenung), dan li qawmin yatafakkarun (bagi kaum yang berpikir).
Ini menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya menjadi
manusia intelektual, kritis, dan reflektif. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190)
Ayat ini menjelaskan bahwa alam semesta adalah objek
pemikiran. Orang berakal tidak sekadar melihat langit, bumi, gunung, laut, dan
kehidupan, tetapi juga merenungkan makna di balik semuanya. Dari proses
berpikir itu lahirlah keimanan yang kokoh dan kesadaran akan kebesaran Allah.
Rasulullah saw. juga menegaskan pentingnya penggunaan
akal dan ilmu. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Menuntut ilmu itu wajib atas
setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Kewajiban menuntut ilmu menunjukkan bahwa Islam
menolak kebodohan dan kemalasan berpikir. Orang yang malas belajar akan mudah
tertipu, terprovokasi, dan mengikuti hawa nafsu. Sebaliknya, orang yang berilmu
akan lebih bijak dalam mengambil keputusan dan lebih mampu memberikan manfaat
bagi masyarakat.
Kemalasan berpikir merupakan salah satu penyakit besar
manusia modern. Banyak orang lebih suka menerima informasi mentah tanpa
tabayyun atau verifikasi. Di era media sosial, budaya berpikir kritis semakin
melemah. Hoaks, fitnah, dan propaganda mudah menyebar karena sebagian manusia
enggan berpikir mendalam. Mereka lebih suka mengikuti opini populer daripada
mencari kebenaran. Padahal Allah memerintahkan umat Islam untuk melakukan
klarifikasi terhadap informasi.
Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman,
jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah
kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Ayat ini mengajarkan budaya berpikir kritis dan
verifikasi informasi. Islam tidak menghendaki umatnya menjadi pengikut buta.
Seorang muslim harus menggunakan akalnya sebelum menerima atau menyebarkan
berita.
Namun demikian, Islam juga mengingatkan bahwa akal
manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, berpikir dalam Islam tidak boleh
dilepaskan dari wahyu. Jika manusia hanya mengandalkan akal tanpa petunjuk
Allah, maka ia bisa tersesat dalam sekularisme, relativisme moral, dan
kesombongan intelektual.
Banyak ideologi modern lahir dari akal manusia yang
dipisahkan dari wahyu, sehingga menghasilkan kerusakan moral dan krisis
kemanusiaan. Kemajuan teknologi yang tidak dibimbing nilai-nilai ilahiah sering
kali melahirkan penjajahan, eksploitasi, kerusakan lingkungan, dan degradasi
moral.
Dalam perspektif Islam, akal dan wahyu harus berjalan
beriringan. Akal berfungsi memahami realitas, sedangkan wahyu menjadi petunjuk
agar manusia tidak salah arah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal ibarat
mata, sedangkan wahyu ibarat cahaya. Mata tidak akan mampu melihat tanpa
cahaya, dan cahaya tidak bermanfaat jika tidak ada mata yang melihat.
Karena itu, seorang muslim harus mengembangkan tradisi
berpikir yang sehat sekaligus tunduk kepada petunjuk Allah. Allah Swt.
berfirman: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa’
[4]: 82)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an sendiri mengajak
manusia berpikir dan merenung. Islam bukan agama yang mematikan akal, tetapi
justru memuliakan akal. Bahkan banyak ilmuwan Barat mengakui bahwa tradisi
intelektual Islam menjadi salah satu fondasi perkembangan ilmu pengetahuan
modern. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, krisis utama manusia modern
adalah hilangnya adab dan terpisahnya ilmu dari wahyu. Akibatnya, ilmu
kehilangan arah moral dan spiritual.
Berpikir juga penting dalam membangun peradaban.
Peradaban besar tidak lahir dari kemalasan, tetapi dari budaya ilmu dan
pemikiran. Jepang bangkit karena budaya disiplin dan literasi. Barat maju
karena riset dan tradisi akademik. Umat Islam pada masa keemasan mampu memimpin
dunia karena menjadikan ilmu sebagai pondasi kehidupan. Oleh sebab itu,
kebangkitan umat Islam hari ini harus dimulai dari kebangkitan berpikir.
Seorang muslim tidak boleh malas membaca, malas belajar,
atau malas berdiskusi. Anak-anak harus dibiasakan berpikir kritis sejak dini.
Pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, kuat
secara spiritual, dan mulia secara moral. Akal yang tidak dibimbing wahyu akan
melahirkan manusia sekuler, tetapi wahyu tanpa penggunaan akal akan membuat
umat terjebak dalam kebodohan dan taklid buta.
Rasulullah saw. bersabda: “Keutamaan orang berilmu
dibanding ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di
antara kalian.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan ilmu dan
pemikiran dalam Islam. Orang berilmu lebih mampu memberikan manfaat luas bagi
masyarakat dibanding sekadar ibadah individual tanpa pemahaman yang mendalam.
Pada akhirnya, manusia harus menyadari bahwa esensi
kemanusiaannya terletak pada akal dan kemampuannya berpikir. Malas berpikir
berarti menyia-nyiakan anugerah terbesar dari Allah.
Seorang muslim harus menjadikan berpikir sebagai jalan
untuk mengenal Allah, memahami kehidupan, membangun peradaban, dan menebarkan
kemaslahatan. Dengan akal dan wahyu, manusia akan menjadi makhluk mulia. Namun
tanpa keduanya, manusia bisa jatuh pada kehinaan yang lebih rendah daripada
binatang.
Daftar Pustaka
Al-Attas,
S. M. N. (1995). Prolegomena
to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the
worldview of Islam. Kuala Lumpur, Malaysia: International Institute
of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Al-Ghazali. (2005). Ihya’
‘ulum al-din (Vol. 1). Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Qur’an al-Karim.
Ibn Majah, M. Y. (2009). Sunan
Ibn Majah. Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.
Rosenthal, F. (2007). Knowledge
triumphant: The concept of knowledge in medieval Islam. Leiden,
Netherlands: Brill.
Tirmidhi, M. I. (2007). Jami‘
al-Tirmidhi. Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.
UNESCO. (2023). Global education
monitoring report 2023: Technology in education. Paris, France:
UNESCO Publishing.
Zarkasyi,
H. F. (2020). Liberalisasi
pemikiran Islam: Gerakan bersama misionaris, orientalis dan kolonialis.
Ponorogo, Indonesia: Centre for Islamic and Occidental Studies.
(Ahmad
Sastra, Kota Hujan, No.1323/10/05/26 : 07.48 WIB)

