KETIKA PENDIDIKAN TERJEBAK DALAM LOGIKA UTILITARIANISME DAN MATERIALISME



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Pendidikan sejatinya merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban manusia. Namun dalam perkembangan modern, arah pendidikan global, termasuk di Indonesia cenderung bergeser dari misi pembentukan manusia seutuhnya menuju orientasi yang lebih sempit, yakni utilitarianisme dan materialisme.

 

Pendidikan dinilai dari sejauh mana ia mampu menghasilkan tenaga kerja, meningkatkan produktivitas ekonomi, dan memberi keuntungan materi. Akibatnya, dimensi moral, spiritual, dan kemanusiaan sering terpinggirkan.


Utilitarianisme dalam pendidikan menempatkan nilai guna (utility) sebagai ukuran utama keberhasilan. Sekolah dan perguruan tinggi didorong untuk menghasilkan lulusan yang “siap pakai” di pasar kerja. Sementara itu, materialisme menjadikan capaian ekonomi sebagai indikator kesuksesan pendidikan. Dalam kerangka ini, ilmu pengetahuan direduksi menjadi alat untuk memperoleh keuntungan duniawi.

 

Pemikir pendidikan kritis seperti Paulo Freire (1970) menyebut fenomena ini sebagai “banking education”, di mana peserta didik diposisikan sebagai objek yang diisi pengetahuan untuk kepentingan sistem, bukan sebagai subjek yang berkembang secara utuh. Hal serupa juga dikritik oleh Martha Nussbaum (2010) yang menilai bahwa pendidikan modern terlalu menekankan aspek ekonomi dan mengabaikan humaniora, padahal humaniora penting untuk membentuk warga negara yang berempati dan beretika.

 

Di Indonesia, gejala ini tampak dalam orientasi pendidikan yang berfokus pada nilai ujian, sertifikasi, dan kompetensi kerja semata. Kurikulum sering kali menempatkan sains dan teknologi di atas pendidikan karakter dan spiritualitas. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.


Krisis orientasi pendidikan ini berdampak luas. Pertama, munculnya degradasi moral di kalangan pelajar dan mahasiswa, seperti meningkatnya kasus kekerasan, korupsi, dan penyimpangan perilaku. Kedua, terjadinya alienasi manusia dari nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Ketiga, pendidikan kehilangan perannya sebagai agen transformasi sosial dan peradaban.

 

Émile Durkheim (1956) menegaskan bahwa pendidikan memiliki fungsi moral untuk membentuk solidaritas sosial. Ketika fungsi ini hilang, masyarakat akan mengalami disintegrasi nilai. Dalam konteks yang lebih luas, krisis ini juga menunjukkan kegagalan paradigma sekular yang memisahkan ilmu dari nilai-nilai transenden.

 

Konsep Pendidikan dalam Islam


Berbeda dengan paradigma utilitarian-materialistik, Islam memandang pendidikan sebagai proses integral untuk membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga ukhrawi. Hal ini tercermin dalam konsep ta’dib, tarbiyah, dan ta’lim.

 

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas (1993), pendidikan dalam Islam adalah proses penanaman adab, yaitu pengenalan dan pengakuan terhadap tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan wujud. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kesadaran moral dan spiritual.

 

Sementara itu, Ismail Raji al-Faruqi (1982) menekankan pentingnya integrasi ilmu, yakni menyatukan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu kerangka tauhid. Dalam pandangan ini, tidak ada dikotomi antara sains dan agama, karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT.

 

Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya ilmu dan iman sebagai dasar kemuliaan manusia (QS. Al-Mujadilah: 11). Nabi Muhammad SAW juga menempatkan pendidikan sebagai misi utama risalahnya, yaitu membentuk manusia yang berakhlak mulia (li utammima makarimal akhlaq).


Pendidikan Islam memiliki beberapa karakteristik utama. Pertama, bersifat holistik, mencakup aspek intelektual, spiritual, emosional, dan sosial. Kedua, berorientasi pada pembentukan akhlak, bukan sekadar penguasaan ilmu. Ketiga, berlandaskan tauhid, sehingga seluruh aktivitas pendidikan diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

 

Keempat, pendidikan Islam bersifat transformatif, yaitu mampu mengubah individu dan masyarakat menuju kebaikan. Dalam sejarah, sistem pendidikan Islam telah melahirkan peradaban besar yang unggul dalam ilmu pengetahuan sekaligus memiliki integritas moral tinggi, seperti pada masa Abbasiyah.

 

Untuk mengatasi krisis pendidikan modern, Islam menawarkan solusi yang komprehensif. Pertama, reorientasi tujuan pendidikan. Pendidikan harus dikembalikan pada tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang beriman dan berakhlak mulia, bukan sekadar tenaga kerja. Ini berarti kurikulum harus menempatkan pendidikan karakter dan spiritualitas sebagai inti.

 

Kedua, integrasi ilmu. Dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum harus dihapus. Sains dan teknologi perlu dikembangkan dalam kerangka nilai-nilai Islam, sehingga tidak kehilangan arah moral.

 

Ketiga, penguatan peran guru sebagai pendidik (murabbi), bukan sekadar pengajar. Guru harus menjadi teladan dalam akhlak dan integritas. Dalam tradisi Islam, hubungan guru dan murid bersifat spiritual dan penuh adab.

 

Keempat, pembangunan lingkungan pendidikan yang kondusif. Institusi pendidikan harus menjadi ruang yang menumbuhkan nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan tanggung jawab. Ini mencakup sistem manajemen, budaya sekolah, hingga interaksi sosial di dalamnya.

 

Kelima, peran negara dalam menjamin sistem pendidikan yang berbasis nilai Islam. Negara tidak boleh menyerahkan pendidikan sepenuhnya pada mekanisme pasar. Sebaliknya, negara harus memastikan bahwa pendidikan berfungsi sebagai sarana pembangunan peradaban. Dalam sejarah, khilafah telah menjadi contoh terbaik dalam membangun peradaban dengan sistem pendidikan Islam.

 

Pendidikan Pilar Peradaban


Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar proses individu, tetapi juga proyek peradaban. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa kemajuan suatu peradaban sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ketika pendidikan rusak, maka peradaban pun akan mengalami kemunduran.

 

Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam mencapai puncaknya ketika pendidikan dikelola dengan baik, berbasis nilai tauhid, dan didukung oleh sistem sosial-politik yang adil. Lembaga-lembaga seperti madrasah dan baitul hikmah menjadi pusat pengembangan ilmu yang berkontribusi besar bagi dunia.

 

Sebaliknya, ketika pendidikan kehilangan orientasi nilai, maka ilmu pengetahuan justru dapat menjadi alat kerusakan. Hal ini terlihat dalam berbagai krisis global saat ini, seperti kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan konflik kemanusiaan.

 

Krisis pendidikan modern yang terjebak dalam logika utilitarianisme dan materialisme merupakan tantangan serius bagi masa depan peradaban. Pendidikan yang hanya berorientasi pada keuntungan materi tidak mampu membentuk manusia yang utuh dan bermartabat.

 

Islam menawarkan paradigma pendidikan yang holistik dan berorientasi pada pembentukan insan kamil, manusia yang seimbang antara ilmu, iman, dan akhlak. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan intelektual, pendidikan Islam mampu menjadi solusi atas dilema pendidikan kontemporer.

 

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya bukan hanya kebutuhan umat Islam, tetapi juga kebutuhan global. Sebab hanya dengan pendidikan yang bermakna, manusia dapat membangun peradaban yang maju sekaligus mulia. Negeri ini harus belajar dari bagaimana Islam telah berhasil membangun peradaban yang maju dan mulia dalam sistem khilafah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Attas, S. M. N. (1993). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC.

Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge. Herndon: IIIT.

Durkheim, E. (1956). Education and Sociology. New York: Free Press.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.

Ibn Khaldun. (2005). The Muqaddimah. Princeton: Princeton University Press.

Nussbaum, M. (2010). Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities. Princeton: Princeton University Press.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1319/04/05/26 : 09.16 WIB) 

 


__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad