MELURUSKAN ARAH PENDIDIKAN

 


 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Pendidikan yang Suram

 

Dunia pendidikan di Indonesia memang menghadapi berbagai tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan bahwa kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk perundungan (bullying) dan kekerasan seksual, masih terus terjadi dari tahun ke tahun. Dalam laporan KPAI beberapa tahun terakhir, sektor pendidikan menjadi salah satu lokasi tertinggi terjadinya kekerasan terhadap anak.

 

Selain itu, survei Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Asesmen Nasional juga mengungkap bahwa sebagian besar siswa pernah mengalami perundungan dalam berbagai bentuk, baik verbal, fisik, maupun digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi peserta didik, padahal seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter dan moral yang utama.

 

Masalah lainnya juga terlihat dari maraknya perilaku menyimpang di kalangan pelajar, seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, hingga perilaku seksual berisiko. Data Badan Narkotika Nasional menunjukkan bahwa kelompok usia remaja masih menjadi salah satu segmen rentan dalam penyalahgunaan narkoba.

 

Sementara itu, laporan UNESCO dalam studi global tentang school violence menegaskan bahwa kekerasan dan perilaku berisiko di kalangan pelajar berkorelasi erat dengan lemahnya pendidikan karakter, kurangnya pengawasan, serta lingkungan sosial yang tidak kondusif. Bahkan, fenomena menurunnya penghormatan terhadap guru juga semakin sering terjadi, yang mencerminkan adanya krisis nilai dan otoritas dalam sistem pendidikan modern.

 

Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan pendidikan tidak semata-mata terletak pada kurikulum akademik, tetapi juga pada paradigma pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan yang cenderung berorientasi pada capaian kognitif dan material sering kali mengabaikan dimensi moral, spiritual, dan pembentukan kepribadian.

 

Padahal, menurut konsep pendidikan yang holistik—sebagaimana juga ditekankan dalam berbagai kajian pendidikan oleh World Bank—keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan membentuk karakter, integritas, dan kecakapan sosial peserta didik. Jika problem ini tidak segera diatasi secara sistemik, maka cita-cita melahirkan “generasi emas” berpotensi hanya menjadi slogan tanpa realisasi nyata.

 

Kehilangan Arah

 

Arah kebijakan pendidikan tinggi juga memunculkan kegelisahan baru yang harus segera diluruskan kembali. Misalnya, ada wacana penutupan program studi yang alumninya dinilai tidak terserap oleh dunia industri. Demikian sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi pada momentum Hardiknas 2026. Ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi dan filosofi  pendidikan ke satu arah : pasar tenaga kerja. Jelas ini salah arah.

 

Pendekatan ini berisiko mereduksi fungsi pendidikan hanya sebagai penyedia tenaga kerja. Padahal seharusnya pendidikan dijadikan sebagai sarana pembentukan peradaban dan pembentukan manusia yang bertakwa. Orientasi pragmatisme sekuler akan menjadikan sistem pendidikan di negeri ini kehilangan arah.

 

Pragmatisme pendidikan memandang bahwa pendidikan adalah investasi ekonomi jangka pendek semata. Padahal pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan peradaban suatu bangsa.

 

Dengan kondisi ini, Visi Indonesia Emas 2045 yang  hendak mewujudkan generasi unggul secara menyeluruh: memiliki kualitas intelektual tinggi, karakter kuat, sehat fisik dan mental, serta mampu berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, tampaknya hanya akan menjadi ilusi belaka.

 

Apalagi jika melihat berbagai kasus amoralitas yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan belakangan ini. Seolah-olah negeri ini semakin jauh dari cita-cita untuk melahirkan generasi emas tersebut.

 

Lahirnya “generasi emas” yang menjadi cita-cita Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 akan semakin terasa jauh jika problem mendasar pendidikan tidak segera ditangani secara serius. Salah satunya adalah pengurangan anggaran perpustakaan yang berpotensi melemahkan budaya literasi pelajar.

 

Padahal berbagai kajian akademik menegaskan bahwa budaya literasi merupakan salah satu fondasi utama bagi kualitas pembelajaran sepanjang hayat. Tanpa akses bahan bacaan yang memadai dan lingkungan literasi yang hidup, sulit membangun generasi yang kritis, kreatif dan inovatif.

 

Persoalan berikutnya menyangkut kesejahteraan dan distribusi tenaga pendidik. Masih banyak guru honorer yang menerima upah jauh di bawah standar kelayakan. Padahal mereka memegang peran strategis dalam proses pendidikan. Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu guru, tetapi juga pada kualitas pembelajaran secara keseluruhan.

 

Di sisi lain, di berbagai daerah masih ditemukan sekolah dengan jumlah tenaga pengajar yang minim serta kondisi bangunan yang tidak layak. Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan masih adanya ruang kelas rusak yang belum tertangani secara optimal.

 

Lebih mencemaskan lagi, dunia pendidikan di negeri juga menghadapi krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk perundungan dan pelecehan seksual, menunjukkan tren peningkatan, bahkan terjadi di tingkat perguruan tinggi. Fenomena ini menjadi alarm serius bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun lingkungan yang aman dan beradab.

 

Jika kondisi ini terus dibiarkan maka cita-cita melahirkan generasi emas bukan hanya tertunda, tetapi berisiko gagal. Pasalnya, pendidikan kehilangan esensi utamanya: membentuk manusia yang berilmu, berakhlak dan bermartabat yang merupakan pilar peradaban suatu bangsa.

 

Islam Mewujudkan Generasi Emas

 

Islam menawarkan paradigma pendidikan yang lebih komprehensif dan unggul. Ini karena Islam meletakkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Kewajiban menuntut ilmu ditegaskan dalam hadis Nabi ï·º: Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).

 

Al-Quran juga menegaskan kemuliaan orang berilmu:  Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat (TQS al-Mujadilah [58]: 11).

 

Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar untuk melahirkan saintis pembangun peradaban. Yang utama justru untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh (syakhshiyyah islaamiyyah). Tujuan utama pendidikan dalam Islam sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni untuk mewujudkan hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT.

 

Pendidikan harus melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.  Hal ini ditegaskan dalam al-Quran:  Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (TQS adz-Dzariyat [51]: 56).

 

Islam juga mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para pencari ilmu dan para pengajarnya. Dalam pandangan Islam, guru adalah profesi mulia dan wajib dimuliakan. Rasulullah ï·º menegaskan keutamaan orang yang mengajarkan ilmu:  Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR at-Tirmidzi).

 

Pesan utama hadis ini menegaskan bahwa profesi guru yang mengajarkan ilmu adalah amal yang sangat mulia. Dalam pandangan Islam, kemuliaan guru ditandai dengan mendapat doa dari seluruh makhluk. 

 

Pemimpin negara juga wajib menyediakan infrastruktur pendidikan yang memadai. Prinsip kepemimpinan dalam Islam ditegaskan dalam Hadis Nabi saw.:  Imam (pemimpin negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Tanggung jawab ini mencakup penyediaan sistem pendidikan yang berkualitas dan merata. Sejarah mencatat bagaimana lembaga-lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia yang didukung penuh oleh Negara (Khilafah Islam). Dari lembaga-lembaga semacam ini lahir para ulama dan ilmuwan terkemuka yang berkonstribusi besar pada berbagai disiplin ilmu.

 

Islam juga mengarahkan pendidikan untuk membangun kekuatan umat. Tujuannya agar umat mandiri,  berpengaruh di tingkat global, serta terbebas dari penjajahan ekonomi dan ketergantungan teknologi. Sistem pendidikan Islam dengan kekuatan landasannya yang sempurna akan mampu mewujudkan negara super power yang akan membawa arah peradaban dunia.

 

Peradaban besar yang lahir dari sistem pendidikan Islam akan menjadi kekuatan global yang mandiri dan mampu menghadapi hegemoni global peradaban sekuler kapitalistik saat ini. Islam menegaskan pentingnya menyiapkan kekuatan maksimal sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:  Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu (TQS al-Anfal [8]: 60).

 

Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi.

 

Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Montgomery Watt. Ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.” Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”

 

Bahkan yang menarik, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga pernah diakui oleh salah seorang mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Hal itu terungkap saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia antara lain menyatakan, “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa...” (http://jakarta.usembassy.gov.).

 

Hal ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan iman, ilmu dan kekuasaan mampu melahirkan peradaban unggul. Hal ini membuktikan bahwa Islam, sebagai agama sempurna dengan seluruh perangkat ajarannya, mampu mewujudkan peradaban maju dan mulia.

 

Alhasil, jika Indonesia ingin menjadi negara yang mengusung peradaban emas sekaligus menjadi negara adidaya yang maju dan kuat, tak ada jalan lain, kecuali negeri ini harus menerapkan sistem pendidikan Islam. Tentu dalam naungan institusi pemerintahan yang menjadikan Aqidah Islam sebagai asasnya, sebagaimana pada era Kekhilafahan Islam dulu.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badan Narkotika Nasional. (2023). Indonesia drugs report 2023. Jakarta: BNN.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Hasil Asesmen Nasional: Survei karakter dan lingkungan belajar. Jakarta: Kemendikbudristek.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2023). Laporan tahunan KPAI tentang kekerasan terhadap anak. Jakarta: KPAI.

UNESCO. (2019). Behind the numbers: Ending school violence and bullying. Paris: UNESCO Publishing.

World Bank. (2018). World development report 2018: Learning to realize education’s promise. Washington, DC: World Bank

 

 (Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1321/06/05/26 : 07.34 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad