PEMERINTAH YANG SEHAT MEMBUTUHKAN RUANG DIALOG, KOREKSI, DAN PARTISIPASI PUBLIK YANG LUAS



 

Oleh: Ahmad Sastra

 

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keberadaan pemerintah memiliki fungsi strategis sebagai pengelola urusan publik (ri'ayah syu'un al-ummah). Pemerintah bertugas menjaga keamanan, menegakkan keadilan, mengelola sumber daya, serta memastikan terpenuhinya kebutuhan masyarakat.

 

Namun, keberhasilan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan kekuasaan atau kemampuan birokrasi, melainkan juga oleh kualitas hubungan antara pemerintah dan rakyat.

 

Salah satu ciri pemerintahan yang sehat adalah adanya ruang dialog, koreksi, dan partisipasi publik yang luas. Pemerintah yang menutup diri terhadap kritik akan rentan melakukan kesalahan, penyalahgunaan kekuasaan, bahkan melahirkan kebijakan yang jauh dari kebutuhan rakyat.

 

Sebaliknya, pemerintahan yang membuka ruang musyawarah dan menerima masukan masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan kebijakan yang adil, efektif, dan berkelanjutan.

 

Dalam perspektif Islam, dialog, musyawarah, dan kontrol sosial bukanlah konsep asing. Sejak masa Rasulullah ï·º hingga Khulafaur Rasyidin, prinsip-prinsip tersebut telah menjadi bagian penting dalam tata kelola pemerintahan. Karena itu, pembahasan tentang pentingnya partisipasi publik sesungguhnya memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam.

 

Musyawarah

 

Islam menempatkan musyawarah sebagai prinsip fundamental dalam kehidupan sosial dan politik. Allah SWT berfirman: "Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (QS. Ali Imran [3]: 159)

 

Dalam ayat lain Allah SWT menjelaskan: "Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka." (QS. Asy-Syura [42]: 38).

 

Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menunjukkan bahwa musyawarah merupakan karakter masyarakat yang baik dan menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan yang diridhai Allah SWT. Bahkan Rasulullah ï·º yang mendapatkan wahyu dari Allah tetap diperintahkan untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya. Hal ini menunjukkan bahwa musyawarah bukan sekadar kebutuhan teknis pemerintahan, melainkan juga nilai spiritual yang harus dijaga.

 

Dalam konteks pemerintahan modern, musyawarah dapat diwujudkan melalui dialog antara pemerintah dan masyarakat, keterlibatan akademisi dalam penyusunan kebijakan, forum konsultasi publik, hingga keterbukaan terhadap kritik dan evaluasi dari berbagai pihak.

 

Amar Makruf Nahi Mungkar

 

Sebagian orang memandang kritik terhadap pemerintah sebagai bentuk pembangkangan. Padahal dalam Islam, kritik yang disampaikan secara benar dan bertanggung jawab merupakan bagian dari amar makruf nahi mungkar.

 

Rasulullah ï·º bersabda: "Agama adalah nasihat." Para sahabat bertanya, "Untuk siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin."(HR. Muslim No. 55)

 

Hadis ini menunjukkan bahwa memberikan nasihat kepada pemimpin merupakan bagian dari ajaran agama. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa nasihat kepada pemimpin dilakukan dengan cara mengingatkan mereka kepada kebenaran, membantu mereka menegakkan keadilan, serta mengoreksi kebijakan yang keliru.

 

Dalam sejarah Islam, para ulama tidak segan memberikan kritik kepada penguasa ketika melihat adanya penyimpangan. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai ulama yang mempertahankan independensi ilmiah di hadapan kekuasaan.

 

Kritik yang konstruktif bukanlah ancaman bagi negara. Justru kritik merupakan mekanisme koreksi agar kekuasaan tetap berjalan sesuai prinsip keadilan dan kemaslahatan.

 

Teladan Khulafaur Rasyidin

 

Salah satu contoh terbaik pemerintahan yang terbuka terhadap kritik dapat ditemukan pada masa Umar bin Khattab. Dalam sebuah riwayat, beliau pernah berkata di hadapan masyarakat: "Jika kalian melihat ada penyimpangan pada diriku, maka luruskanlah aku."

Seorang sahabat kemudian menjawab: "Demi Allah, jika kami melihat engkau menyimpang, kami akan meluruskannya dengan pedang kami."

 

Mendengar hal itu, Umar tidak marah atau menghukum orang tersebut. Sebaliknya, beliau bersyukur karena masih ada rakyat yang berani mengingatkan pemimpinnya ketika melakukan kesalahan.

 

Peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam tradisi politik Islam, pengawasan masyarakat terhadap penguasa merupakan sesuatu yang wajar. Pemimpin tidak diposisikan sebagai sosok yang tidak boleh dikritik, melainkan sebagai manusia yang dapat melakukan kesalahan dan membutuhkan koreksi. Budaya politik seperti inilah yang menjadi fondasi lahirnya pemerintahan yang sehat dan akuntabel.

 

Partisipasi Publik

 

Islam mengajarkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap kondisi masyarakatnya. Rasulullah ï·º bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial tidak hanya berada di tangan pemerintah. Masyarakat juga memiliki kewajiban untuk berpartisipasi dalam membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

 

Partisipasi publik dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti memberikan masukan terhadap kebijakan, terlibat dalam kegiatan sosial, mengawasi penggunaan anggaran publik, menyampaikan aspirasi masyarakat, hingga berkontribusi dalam penyelesaian berbagai persoalan bangsa. Dalam perspektif Islam, masyarakat yang pasif terhadap kemungkaran dan ketidakadilan justru berpotensi ikut menanggung akibat dari kerusakan yang terjadi.

 

Bahaya Antikritik

 

Sejarah menunjukkan bahwa banyak pemerintahan mengalami kemunduran ketika para pemimpinnya menutup ruang dialog dan kritik. Kekuasaan yang tidak terkoreksi cenderung melahirkan kesewenang-wenangan, korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.

 

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa salah satu penyebab runtuhnya suatu peradaban adalah ketika penguasa kehilangan sensitivitas terhadap kebutuhan masyarakat dan lebih mengutamakan kepentingan kelompok elite.

 

Dalam konteks modern, berbagai penelitian tentang tata kelola pemerintahan juga menunjukkan bahwa transparansi, partisipasi publik, dan akuntabilitas merupakan faktor penting dalam menciptakan pemerintahan yang efektif. Lembaga internasional seperti United Nations dan World Bank menempatkan partisipasi masyarakat sebagai salah satu indikator utama good governance. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang menekankan keadilan, keterbukaan, dan tanggung jawab dalam pengelolaan urusan publik.

 

Dialog

 

Kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi keberhasilan suatu pemerintahan. Namun kepercayaan tidak dapat dibangun melalui propaganda atau pencitraan semata. Kepercayaan lahir dari komunikasi yang jujur, keterbukaan informasi, dan kesediaan pemerintah mendengarkan aspirasi rakyat.

 

Ketika masyarakat merasa didengar, mereka akan lebih mudah menerima kebijakan pemerintah meskipun tidak selalu sesuai dengan harapan semua pihak. Sebaliknya, ketika aspirasi rakyat diabaikan, ketidakpercayaan sosial akan meningkat dan berpotensi melahirkan konflik.

 

Al-Qur'an mengajarkan pentingnya dialog yang baik: "Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu." (QS. Ali Imran [3]: 159). Ayat ini menunjukkan bahwa pendekatan dialogis lebih efektif dibanding pendekatan represif dalam membangun hubungan antara pemimpin dan masyarakat.

 

Sebagai negara demokrasi yang mayoritas penduduknya Muslim, Indonesia memiliki modal sosial dan religius yang kuat untuk mengembangkan tata kelola pemerintahan yang partisipatif. Nilai-nilai musyawarah, gotong royong, dan kepedulian sosial sebenarnya sejalan dengan ajaran Islam.

 

Karena itu, pemerintah perlu terus memperluas ruang partisipasi publik dalam proses pengambilan kebijakan. Akademisi, tokoh agama, organisasi masyarakat, media, dan warga negara harus dipandang sebagai mitra pembangunan, bukan sebagai ancaman.

 

Di sisi lain, masyarakat juga perlu menyampaikan kritik secara konstruktif, berbasis data, dan bertanggung jawab. Kritik yang baik bukan bertujuan menjatuhkan pemerintah, melainkan memperbaiki kebijakan agar lebih sesuai dengan kepentingan rakyat.

 

Dalam perspektif Islam, pemerintah yang sehat membutuhkan ruang dialog, koreksi, dan partisipasi publik yang luas. Prinsip ini berakar kuat dalam ajaran Al-Qur'an, hadis, dan praktik pemerintahan Rasulullah ï·º serta Khulafaur Rasyidin.

 

Musyawarah memungkinkan lahirnya keputusan yang lebih bijaksana. Kritik menjadi sarana koreksi agar kekuasaan tidak menyimpang. Sementara partisipasi publik merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam mewujudkan kemaslahatan umat.

 

Karena itu, semakin terbuka suatu pemerintahan terhadap dialog dan masukan masyarakat, semakin besar peluang terciptanya keadilan, kesejahteraan, dan stabilitas sosial. Sebaliknya, ketika ruang kritik dipersempit dan partisipasi publik diabaikan, maka risiko kesalahan kebijakan dan ketidakpercayaan masyarakat akan semakin besar.

 

Pada akhirnya, pemerintahan yang kuat bukanlah pemerintahan yang bebas dari kritik, melainkan pemerintahan yang mampu menjadikan kritik sebagai energi perbaikan menuju kemaslahatan bersama.

 

REFERENSI

 

Al-Mawardi. (1996). Al-Ahkam al-Sulthaniyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Al-Qur'an al-Karim.

An-Nawawi, Y. (2005). Syarah Shahih Muslim. Beirut: Dar al-Ma'rifah.

Esposito, J. L., & Voll, J. O. (1996). Islam and Democracy. New York: Oxford University Press.

Ibn Kathir, I. (2000). Tafsir al-Qur'an al-'Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.

Ibn Khaldun. (2005). Al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr.

Qardhawi, Y. (1997). Min Fiqh al-Dawlah fi al-Islam. Kairo: Dar al-Syuruq.

United Nations Development Programme. (2024). Human Development Report. New York: UNDP.

World Bank. (2024). Worldwide Governance Indicators. Washington, DC: World Bank.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1354/25/05/26 : 11.38 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad