RUPIAH AMBRUK, ORANG DESA MAKIN TERPURUK



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terus menjadi perhatian penting dalam perekonomian Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, rupiah kerap mengalami tekanan dan pelemahan ketika terjadi gejolak ekonomi global, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, maupun ketidakstabilan ekonomi domestik. Hingga tulisan ini dibuat nilai tukar dollar mencapai level tertinggi dalam sejarah Indonesia, yakni 17.600. 

 

Ketika dollar menguat, dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya produksi, bertambahnya utang luar negeri berbasis ribawi, dan melemahnya daya beli rakyat. Jika rupiah ambruk, maka rakyat Indonesia akan terkena dampaknya, rakyat akan semakin terpuruk.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih sangat rentan terhadap dominasi mata uang asing, khususnya dollar Amerika Serikat. Banyak ekonom menilai bahwa persoalan melemahnya rupiah tidak hanya disebabkan faktor teknis moneter semata, tetapi juga berkaitan dengan sistem ekonomi global yang berbasis kapitalisme.

 

Dalam sistem kapitalisme modern, kekuatan ekonomi sangat dipengaruhi pasar keuangan global, spekulasi mata uang, utang berbunga, dan dominasi negara-negara besar terhadap sistem perdagangan internasional. Akibatnya, negara berkembang seperti Indonesia sering berada dalam posisi lemah dan bergantung pada kekuatan ekonomi global.

 

Di sisi lain, Islam menawarkan konsep ekonomi yang berbeda. Ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang keuntungan dan pertumbuhan, tetapi juga keadilan distribusi, kestabilan mata uang, larangan riba, dan kemandirian ekonomi umat. Karena itu, penting mengkaji bagaimana sistem kapitalisme mempengaruhi lemahnya rupiah serta bagaimana solusi yang ditawarkan perspektif ekonomi Islam.

 

Dominasi Dollar

 

Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang menempatkan kepemilikan modal, pasar bebas, dan keuntungan sebagai pusat aktivitas ekonomi. Sistem ini berkembang kuat sejak Revolusi Industri dan semakin dominan setelah lahirnya globalisasi ekonomi modern. Dalam praktiknya, kapitalisme global melahirkan ketimpangan antara negara maju dan negara berkembang.

 

Salah satu bentuk dominasi kapitalisme global adalah kuatnya posisi dollar Amerika Serikat sebagai mata uang utama perdagangan dunia. Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods pada tahun 1971, dunia memasuki era fiat money, yaitu mata uang yang tidak lagi berbasis emas atau perak, tetapi berdasarkan kepercayaan terhadap negara penerbitnya.

 

Sejak saat itu, Amerika Serikat berhasil mempertahankan dominasi dollar dalam perdagangan minyak, transaksi internasional, cadangan devisa, dan sistem keuangan global.

 

Menurut International Monetary Fund, sebagian besar transaksi perdagangan internasional dan cadangan devisa dunia masih menggunakan dollar Amerika. Kondisi ini membuat negara-negara berkembang sangat bergantung pada stabilitas ekonomi Amerika Serikat.

 

Ketika suku bunga Amerika naik atau terjadi krisis global, modal asing keluar dari negara berkembang dan kembali ke Amerika, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

 

Dalam sistem kapitalisme finansial, nilai mata uang juga sangat dipengaruhi aktivitas spekulasi di pasar valuta asing. Perdagangan mata uang tidak lagi semata untuk kebutuhan perdagangan riil, tetapi juga menjadi instrumen spekulasi keuntungan jangka pendek. Akibatnya, kurs mata uang menjadi sangat fluktuatif dan rentan dimainkan oleh kekuatan pasar global.

 

Rupiah dan Kapitalisme

 

Pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada sistem kapitalisme global. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan rupiah rentan melemah terhadap dollar.

 

Pertama, ketergantungan impor yang tinggi. Indonesia masih mengimpor banyak kebutuhan penting seperti bahan bakar, pangan, obat-obatan, teknologi, dan bahan baku industri. Ketika nilai dollar naik, biaya impor meningkat dan permintaan terhadap dollar semakin besar. Hal ini menekan nilai tukar rupiah.

 

Kedua, utang luar negeri berbasis dollar. Pemerintah maupun sektor swasta Indonesia memiliki utang luar negeri dalam jumlah besar. Ketika rupiah melemah, beban pembayaran utang dan bunga menjadi semakin berat. Menurut Bank Indonesia, stabilitas rupiah sangat dipengaruhi arus modal asing dan posisi utang luar negeri.

Ketiga, dominasi investasi asing dalam pasar keuangan domestik. Dalam sistem kapitalisme liberal, pasar modal Indonesia terbuka luas bagi investor asing. Ketika kondisi global tidak stabil, investor asing mudah menarik dananya keluar dari Indonesia sehingga rupiah mengalami tekanan.

 

Keempat, sistem ekonomi berbasis riba dan suku bunga. Dalam kapitalisme, kebijakan moneter sangat bergantung pada instrumen bunga. Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, banyak investor memindahkan dananya ke Amerika karena dianggap lebih menguntungkan dan aman. Akibatnya, aliran modal keluar dari Indonesia dan rupiah melemah.

 

Kelima, lemahnya kemandirian ekonomi nasional. Banyak sumber daya alam Indonesia dikuasai korporasi besar dan kepentingan asing sehingga keuntungan ekonomi tidak sepenuhnya dinikmati rakyat. Struktur ekonomi seperti ini membuat Indonesia sulit membangun ketahanan ekonomi yang kuat.

 

Orang Desa Makin Terpuruk

 

Pelemahan rupiah memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Harga barang impor naik sehingga memicu inflasi. Biaya produksi industri meningkat karena banyak bahan baku masih bergantung pada impor. Akibatnya, harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi ikut naik.

 

Selain itu, melemahnya rupiah juga meningkatkan beban utang pemerintah. Anggaran negara menjadi lebih banyak digunakan untuk membayar cicilan dan bunga utang daripada membiayai kesejahteraan rakyat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperlebar ketimpangan sosial dan memperburuk kemiskinan.

 

Dalam sistem kapitalisme, krisis ekonomi sering kali membuat kelompok kaya semakin kaya karena memiliki akses modal dan aset, sementara kelompok miskin menjadi pihak yang paling terdampak akibat kenaikan harga dan menurunnya daya beli.

 

Solusi Islam

 

Ekonomi Islam memiliki pandangan berbeda terhadap sistem moneter dan keuangan. Islam memandang bahwa uang seharusnya berfungsi sebagai alat tukar dan penyimpan nilai yang stabil, bukan komoditas spekulatif untuk mencari keuntungan semata.

 

Dalam sejarah Islam klasik, sistem moneter menggunakan dinar emas dan dirham perak. Mata uang tersebut memiliki nilai intrinsik karena berbasis logam mulia sehingga relatif stabil dan tidak mudah mengalami inflasi ekstrem seperti sistem fiat money modern.

 

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa emas dan perak merupakan standar alami nilai ekonomi karena memiliki kestabilan dan diterima luas oleh manusia. Sistem berbasis emas dan perak dianggap lebih adil karena tidak mudah dimanipulasi oleh kekuatan politik maupun spekulasi pasar.

 

Islam juga melarang riba karena dianggap merusak keadilan ekonomi. Allah Swt. berfirman: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah [2]: 275).

 

Larangan riba bertujuan mencegah eksploitasi ekonomi dan penumpukan kekayaan pada kelompok tertentu. Dalam ekonomi Islam, pertumbuhan ekonomi harus berbasis sektor riil seperti perdagangan, pertanian, industri, dan produksi nyata, bukan spekulasi finansial.

 

Selain itu, Islam melarang praktik gharar (ketidakjelasan) dan maysir (spekulasi/judi) dalam transaksi ekonomi. Karena itu, aktivitas spekulasi mata uang dalam pasar finansial modern bertentangan dengan prinsip ekonomi Islam.

 

Ekonomi Islam menawarkan beberapa solusi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar dan memperkuat stabilitas ekonomi. Pertama, membangun ekonomi berbasis sektor riil. Islam mendorong produksi nyata dalam bidang pertanian, industri, perdagangan, dan teknologi sehingga ekonomi tidak terlalu bergantung pada spekulasi finansial.

 

Kedua, mengurangi ketergantungan utang berbunga. Sistem ekonomi Islam menekankan pembiayaan berbasis kemitraan dan bagi hasil, bukan bunga utang yang membebani negara.

 

Ketiga, pengelolaan sumber daya alam oleh negara untuk kepentingan rakyat. Dalam Islam, sumber daya strategis seperti tambang, energi, dan air termasuk kepemilikan umum yang tidak boleh dikuasai segelintir korporasi.

 

Rasulullah saw. bersabda: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menunjukkan bahwa sumber daya vital harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan masyarakat.

 

Keempat, stabilitas mata uang berbasis aset riil. Banyak pemikir ekonomi Islam modern mengusulkan sistem moneter berbasis emas atau komoditas riil agar nilai mata uang lebih stabil dan tidak mudah dimanipulasi pasar global.

 

Kelima, memperkuat kerja sama ekonomi antarnegara Muslim. Dunia Islam memiliki sumber daya alam, energi, dan populasi besar yang sebenarnya dapat menjadi kekuatan ekonomi global jika dikelola secara mandiri dan saling mendukung.

 

Meski menawarkan solusi alternatif, penerapan ekonomi Islam menghadapi tantangan besar dalam sistem global saat ini. Dominasi kapitalisme internasional, ketergantungan negara berkembang terhadap lembaga keuangan global, dan integrasi pasar dunia membuat perubahan sistem ekonomi tidak mudah dilakukan.

 

Selain itu, banyak negara Muslim sendiri masih menerapkan sistem ekonomi campuran yang tetap berbasis kapitalisme dan bunga. Karena itu, implementasi ekonomi Islam membutuhkan reformasi politik, pendidikan ekonomi, dan kesadaran masyarakat yang kuat. Pemikiran dan perasaan umat Islam harus disadarkan akan pentingnya penerapan Islam secara kaffah, termasuk aspek ekonomi.

 

Melemahnya rupiah terhadap dollar bukan hanya persoalan teknis moneter, tetapi juga akibat struktur ekonomi kapitalisme global yang membuat negara berkembang bergantung pada kekuatan ekonomi besar. Sistem berbasis utang, bunga, spekulasi finansial, dan dominasi dollar menyebabkan ekonomi Indonesia rentan terhadap gejolak global.

 

Ekonomi Islam menawarkan perspektif alternatif yang menekankan stabilitas mata uang, larangan riba, penguatan sektor riil, dan keadilan distribusi ekonomi. Dengan pengelolaan sumber daya yang adil serta sistem keuangan yang bebas spekulasi, ekonomi Islam berupaya membangun kemandirian dan kestabilan ekonomi masyarakat.

 

Islam mengharamkan sumber daya alam dikelola oleh asing, tapi wajib dikekola oleh negara dan diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat. Dalam sejarah peradaban Islam dibawah institusi khilafah, sistem ekonomi Islam ini telah berjalan dengan baik. Masyarakat di negeri Islam hidup dengan penuh kemakmuran dan keberkahan.

 

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kajian terhadap ekonomi Islam menjadi penting sebagai upaya mencari sistem ekonomi yang lebih adil, stabil, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia, bukan sekadar keuntungan kapital semata. Disinilah pentingnya penyadaran umat Islam akan pentingnya mewujudkan khilafah Islam untuk melawan dominasi kapitalisme Amerika.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Dawud, S. A. (2008). Sunan Abu Dawud. Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.

Al-Qur’an al-Karim.

Bank Indonesia. (2024). Laporan stabilitas sistem keuangan Indonesia. Jakarta, Indonesia: BI Institute.

Chapra, M. U. (2000). The future of economics: An Islamic perspective. Leicester, England: Islamic Foundation.

Federal Reserve. (2024). Monetary policy report. Washington, DC: Federal Reserve System.

Ibnu Khaldun. (2005). The Muqaddimah (F. Rosenthal, Trans.). Princeton, NJ: Princeton University Press.

International Monetary Fund. (2024). World economic outlook. Washington, DC: IMF Publications.

Lewis, M. K., & Algaoud, L. M. (2001). Islamic banking. Cheltenham, England: Edward Elgar Publishing.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1339/18/05/26 : 05.37 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad