SEKULERISME : MENUJU PERADABAN INDONESIA KE JURANG KEGELAPAN



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Peradaban manusia tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu dibangun di atas cara pandang hidup tertentu. Dalam perspektif Islam, bangunan peradaban yang kokoh harus berpijak pada wahyu Allah Swt. sebagai petunjuk hidup manusia. Ketika wahyu dijadikan pedoman, maka lahirlah keadilan, kemuliaan akhlak, dan kesejahteraan.

 

Sebaliknya, ketika manusia menjauh dari wahyu dan hanya mengandalkan akal serta kepentingan pragmatis, maka kehancuran peradaban tinggal menunggu waktu. Dalam kerangka inilah sekulerisme menjadi ancaman serius bagi masa depan suatu bangsa, termasuk Indonesia.

 

Sekulerisme adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan publik, terutama dalam urusan politik, hukum, pendidikan, dan tata sosial. Agama dianggap hanya urusan pribadi, sedangkan kehidupan bernegara diatur berdasarkan akal manusia dan kepentingan duniawi semata.

 

Dalam sejarah Barat, sekulerisme lahir akibat konflik panjang antara gereja dan negara pada abad pertengahan. Namun, konsep ini kemudian diadopsi secara luas ke berbagai negeri Muslim, termasuk melalui kolonialisme dan modernisasi Barat. Padahal, dalam Islam, agama bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga petunjuk hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

 

Allah Swt. berfirman: “Maka apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah [5]: 50)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa hukum Allah adalah petunjuk terbaik bagi manusia. Ketika manusia meninggalkan hukum Allah dan menggantinya dengan aturan yang hanya bersumber dari hawa nafsu dan kepentingan pragmatis, maka yang lahir adalah kerusakan sosial dan moral. Dalam perspektif Islam, krisis peradaban bukan semata-mata karena kemiskinan ekonomi atau lemahnya teknologi, tetapi karena manusia menjauh dari wahyu.

 

Eskatologi Islam memberikan banyak pelajaran tentang kehancuran bangsa-bangsa terdahulu. Kaum ‘Ad dan Tsamud adalah contoh nyata bagaimana sebuah peradaban besar runtuh akibat kesombongan dan penolakan terhadap petunjuk Allah. Kaum ‘Ad dikenal memiliki kekuatan fisik dan peradaban yang maju. Mereka membangun gedung-gedung megah dan memiliki kekuasaan besar. Namun, kemajuan material itu tidak membuat mereka tunduk kepada Allah. Mereka justru menyombongkan diri dan menolak dakwah Nabi Hud a.s.

 

Allah Swt. berfirman: “Adapun kaum ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?” (QS. Fussilat [41]: 15)

 

Kesombongan itu lahir karena mereka hanya mengandalkan kekuatan material dan akal manusia, tanpa petunjuk wahyu. Akibatnya, Allah menurunkan azab berupa angin topan yang menghancurkan mereka. Begitu pula kaum Tsamud yang hidup makmur dan memiliki kemampuan teknologi memahat gunung menjadi rumah-rumah megah. Akan tetapi, mereka mendustakan Nabi Shalih a.s. dan menolak perintah Allah. Kesudahan mereka adalah kehancuran total akibat gempa dahsyat dan suara menggelegar dari langit.

 

Kisah-kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan peringatan bagi seluruh umat manusia. Kehancuran peradaban terjadi ketika manusia kehilangan orientasi ilahiah. Mereka mengagungkan kekuatan ekonomi, politik, dan teknologi, tetapi mengabaikan moral dan wahyu. Inilah esensi sekulerisme: menjauhkan agama dari kehidupan publik sehingga manusia hidup tanpa arah spiritual.

 

Dalam konteks modern, sekulerisme melahirkan berbagai krisis multidimensi. Para penguasa lebih sibuk mengejar kekuasaan, popularitas, dan keuntungan ekonomi dibanding melayani rakyat. Politik berubah menjadi arena transaksi kepentingan. Korupsi merajalela.

 

Hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Media dipenuhi budaya permisif yang merusak moral generasi muda. Pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, bukan membentuk manusia berakhlak mulia. Allah Swt. berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

 

Ayat ini sangat relevan dengan kondisi dunia modern. Kerusakan lingkungan, krisis moral, ketimpangan sosial, hingga konflik kemanusiaan merupakan buah dari sistem kehidupan yang menjauh dari nilai-nilai ilahiah. Ketika manusia hanya menjadikan materi sebagai tujuan utama hidup, maka segala cara akan dihalalkan. Lahirlah budaya permisivisme, yaitu pandangan yang membolehkan hampir segala sesuatu demi kepentingan pribadi atau kelompok.

 

Rasulullah saw. telah mengingatkan bahaya orientasi duniawi yang berlebihan. Beliau bersabda: “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa sering kali bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kerakusan dan cinta dunia yang tidak terkendali. Sekulerisme mendorong manusia menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan, sementara akhirat dipinggirkan.

 

Indonesia sebagai negeri dengan mayoritas Muslim menghadapi tantangan besar di era modern. Di satu sisi, pembangunan ekonomi dan teknologi terus berkembang. Namun di sisi lain, krisis moral juga semakin nyata. Korupsi masih menjadi masalah besar. Kekerasan seksual meningkat.

 

Penyalahgunaan narkoba merusak generasi muda. Budaya hedonisme dan individualisme semakin mengakar. Banyak kebijakan publik yang lebih mempertimbangkan kepentingan ekonomi dan politik dibanding nilai-nilai moral dan agama.

 

Dalam bidang pendidikan misalnya, orientasi pendidikan sering kali hanya diarahkan pada pencapaian akademik dan kebutuhan pasar kerja. Padahal pendidikan seharusnya membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak. Ketika pendidikan dipisahkan dari nilai-nilai wahyu, maka lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral.

 

Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan bahwa krisis utama dunia modern adalah “loss of adab” atau hilangnya adab. Menurutnya, sekularisasi ilmu pengetahuan menyebabkan manusia kehilangan arah dan tujuan hidup. Ilmu tidak lagi digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi hanya menjadi alat mengejar keuntungan duniawi.

 

Hal yang sama dikritik oleh Ismail Raji al-Faruqi yang menilai bahwa sekularisme telah memisahkan ilmu dari nilai spiritual. Akibatnya, peradaban modern mengalami kekosongan makna meskipun maju secara teknologi.

 

Jika Indonesia terus mempertahankan sekulerisme sebagai dasar orientasi pembangunan tanpa menjadikan wahyu sebagai pedoman utama, maka bangsa ini berisiko mengalami krisis peradaban yang lebih dalam. Kemajuan ekonomi tidak akan berarti jika moral masyarakat hancur. Infrastruktur megah tidak akan membawa keberkahan jika korupsi dan ketidakadilan terus merajalela. Teknologi canggih tidak akan menyelamatkan bangsa jika generasi mudanya kehilangan akhlak dan identitas spiritual.

 

Allah Swt. berfirman: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha [20]: 124)

 

Kehidupan yang sempit bukan hanya bermakna kemiskinan materi, tetapi juga kegelisahan spiritual, kekacauan sosial, dan hilangnya keberkahan hidup. Banyak negara maju secara ekonomi justru mengalami krisis mental, bunuh diri, kehancuran keluarga, dan kekosongan spiritual. Ini menunjukkan bahwa kemajuan material saja tidak cukup untuk membangun peradaban yang sehat.

 

Islam tidak menolak akal, ilmu pengetahuan, atau kemajuan teknologi. Islam justru mendorong umatnya untuk maju dalam sains dan peradaban. Namun, semua itu harus dibimbing oleh wahyu. Akal tanpa wahyu akan melahirkan kesombongan dan kerusakan. Sebaliknya, wahyu tanpa pengembangan akal akan membuat umat tertinggal. Karena itu, Islam menempatkan akal dan wahyu secara harmonis.

 

Kebangkitan Indonesia tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik dan ekonomi. Bangsa ini membutuhkan kebangkitan moral dan spiritual. Para pemimpin harus menjadikan amanah sebagai tanggung jawab, bukan alat memperkaya diri. Pendidikan harus melahirkan generasi beriman dan beradab. Media harus menjadi sarana edukasi, bukan penyebar kemaksiatan. Hukum harus ditegakkan dengan keadilan, bukan berdasarkan kepentingan politik.

 

Rasulullah saw. bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menegaskan pentingnya kepemimpinan yang bertanggung jawab dan berorientasi pada nilai-nilai ilahiah. Tanpa itu, kekuasaan hanya akan menjadi alat penindasan dan kerusakan.

 

Pada akhirnya, sekulerisme bukan sekadar ideologi politik, tetapi juga cara pandang hidup yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah. Jika dibiarkan terus menguasai arah pembangunan bangsa, maka Indonesia dapat terjerumus ke dalam jurang kegelapan peradaban: krisis moral, ketidakadilan sosial, kerusakan keluarga, dan hilangnya keberkahan hidup.

 

Karena itu, umat Islam harus kembali menjadikan wahyu sebagai lentera peradaban. Hanya dengan petunjuk Allah, manusia dapat membangun bangsa yang maju, adil, bermartabat, dan diridhai-Nya. Indonesia harus melakukan transformasi paradigmatic dan ideologis dalam membangun peradaban bangsa ini, jika tidak ingin semakin terjerembab dalam kegelapan yang lebih dalam. Islam adalah cahaya, raihlah cahaya dengan menerapkan syariah secara kaffah dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the metaphysics of Islam: An exposition of the fundamental elements of the worldview of Islam. Kuala Lumpur, Malaysia: ISTAC.

Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of knowledge: General principles and work plan. Herndon, VA: International Institute of Islamic Thought.

Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘ulum al-din. Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Zuhaili, W. (1991). Tafsir al-Munir. Damaskus, Suriah: Dar al-Fikr.

Bukhari, M. I. (2002). Sahih al-Bukhari. Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.

Muslim, I. H. (2007). Sahih Muslim. Riyadh, Saudi Arabia: Darussalam.

UNESCO. (2023). Global education monitoring report 2023: Technology in education. Paris, France: UNESCO Publishing.

Zarkasyi, H. F. (2020). Liberalisasi pemikiran Islam: Gerakan bersama misionaris, orientalis dan kolonialis. Ponorogo, Indonesia: Centre for Islamic and Occidental Studies.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1324/10/05/26 : 14.11 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad