DISTRAKSI DIGITAL DI TENGAH AKSI MAHASISWA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Gelombang demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil yang terjadi di berbagai kota di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ruang publik demokratis masih hidup.

 

Demonstrasi merupakan salah satu instrumen penting dalam sistem demokrasi karena memberikan kesempatan kepada warga negara untuk menyampaikan kritik, aspirasi, dan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah. Dalam pandangan Islam menyampaikan kritik kepada penguasa adalah bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

 

Di era digital, demonstrasi tidak lagi hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga terjadi secara simultan di ruang maya melalui media sosial. Namun, di tengah berlangsungnya aksi-aksi mahasiswa, muncul fenomena yang menarik sekaligus mengundang perhatian publik, yaitu terjadinya berbagai bentuk distraksi digital.

 

Sejumlah pengguna media sosial melaporkan gangguan akses terhadap platform tertentu, kesulitan melakukan login, serta keterbatasan dalam berinteraksi melalui media sosial. Pada saat yang sama, muncul pula kritik terhadap pola komunikasi pemerintah yang dianggap tidak responsif terhadap substansi tuntutan demonstran.

 

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas mengenai hubungan antara demokrasi, teknologi digital, kebebasan berekspresi, dan komunikasi publik pemerintah. Apakah gangguan tersebut semata-mata persoalan teknis, atau justru mencerminkan persoalan yang lebih mendalam mengenai tata kelola ruang digital dalam demokrasi modern?

 

Aktivisme Digital

 

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat berpartisipasi dalam kehidupan politik. Jika pada masa lalu demonstrasi hanya dilakukan secara fisik melalui rapat umum dan aksi jalanan, saat ini media sosial menjadi arena baru bagi partisipasi politik warga negara.

 

Menurut Manuel Castells dalam Networks of Outrage and Hope (2015), internet telah melahirkan bentuk baru gerakan sosial yang berbasis jaringan digital. Media sosial memungkinkan penyebaran informasi secara cepat, koordinasi aksi secara efisien, serta mobilisasi dukungan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai gerakan sosial dan politik. Twitter (X), Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform lainnya menjadi ruang diskusi publik yang sangat aktif. Berbagai isu kebijakan pemerintah sering kali memperoleh perhatian luas justru karena viral di media sosial sebelum dibahas secara formal oleh lembaga negara.

 

Aktivisme digital pada dasarnya merupakan perkembangan alami dari demokrasi modern. Dalam perspektif teori demokrasi partisipatif yang dikembangkan oleh Carole Pateman, keterlibatan warga dalam proses politik merupakan syarat penting bagi kesehatan demokrasi.

 

Distraksi Digital

 

Ketika terjadi gangguan akses terhadap platform digital pada saat demonstrasi berlangsung, reaksi publik sering kali mengarah pada munculnya berbagai spekulasi. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman masa lalu ketika pemerintah pernah melakukan pembatasan akses internet dalam situasi tertentu.

 

Kasus pembatasan akses internet di Papua pada tahun 2019 menjadi salah satu peristiwa penting yang masih membekas dalam ingatan publik. Saat itu pemerintah beralasan bahwa pembatasan dilakukan untuk mengendalikan penyebaran hoaks dan disinformasi. Namun kebijakan tersebut kemudian memunculkan perdebatan panjang mengenai hak digital warga negara dan kebebasan memperoleh informasi.

 

Dalam konteks komunikasi politik, kepercayaan publik merupakan modal yang sangat penting. Ketika tingkat kepercayaan menurun, gangguan teknis yang sebenarnya bersifat biasa sekalipun dapat memunculkan berbagai spekulasi politik.

 

Francis Fukuyama dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity menjelaskan bahwa kepercayaan sosial merupakan fondasi penting bagi stabilitas suatu masyarakat. Rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi dapat menyebabkan munculnya kecurigaan yang berlebihan terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

 

Distraksi Substantif

 

Persoalan yang lebih penting sesungguhnya bukan hanya gangguan teknis, tetapi gangguan substantif dalam komunikasi publik. Dalam berbagai situasi demonstrasi, publik sering kali berharap pemerintah memberikan tanggapan terhadap isu-isu yang dipersoalkan demonstran.

 

Namun dalam sejumlah kasus, respons komunikasi pemerintah justru dinilai tidak menyentuh inti persoalan. Alih-alih membahas tuntutan yang disampaikan masyarakat, komunikasi publik terkadang lebih banyak berisi narasi pencitraan institusi atau aktivitas rutin birokrasi.

 

Dalam teori komunikasi krisis, strategi semacam ini sering dianggap kurang efektif. W. Timothy Coombs dalam Ongoing Crisis Communication menegaskan bahwa respons pertama yang harus diberikan oleh lembaga publik ketika menghadapi kritik adalah pengakuan terhadap kekhawatiran masyarakat serta penyampaian empati yang tulus.

 

Empati bukan sekadar ungkapan simbolik, tetapi pengakuan bahwa suara masyarakat memiliki nilai dan layak didengar. Ketika empati tidak hadir dalam komunikasi publik, maka jarak psikologis antara pemerintah dan masyarakat akan semakin melebar.

 

Ruang Kritik

 

Dalam sistem demokrasi modern, kritik bukan ancaman bagi negara. Sebaliknya, kritik merupakan mekanisme koreksi yang memungkinkan pemerintah memperbaiki kebijakan yang kurang efektif.

 

Filsuf politik Jürgen Habermas menjelaskan bahwa demokrasi yang sehat memerlukan keberadaan ruang publik (public sphere) yang memungkinkan warga negara berdiskusi secara bebas mengenai persoalan bersama. Dalam ruang publik tersebut, pemerintah dan masyarakat terlibat dalam dialog rasional yang setara.

 

Demonstrasi mahasiswa pada dasarnya merupakan bagian dari ruang publik demokratis tersebut. Kehadiran demonstrasi menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap arah kebijakan negara.

 

Oleh karena itu, pendekatan yang terlalu defensif terhadap kritik justru berpotensi memperbesar ketegangan sosial. Sejarah politik di berbagai negara menunjukkan bahwa pembatasan ruang kritik sering kali menghasilkan akumulasi ketidakpuasan yang lebih besar di kemudian hari.

 

Komunikasi Publik dan Krisis Empati

 

Salah satu tantangan terbesar pemerintah modern adalah membangun komunikasi yang empatik. Dalam era media sosial, masyarakat tidak hanya menilai isi kebijakan, tetapi juga cara pemerintah berkomunikasi.

 

Penelitian Edelman Trust Barometer selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa masyarakat semakin menuntut transparansi, kejujuran, dan empati dari institusi publik. Publik tidak cukup diyakinkan oleh data dan statistik semata, tetapi juga ingin melihat adanya perhatian terhadap pengalaman dan kesulitan yang mereka alami.

 

Ketika mahasiswa turun ke jalan menyampaikan aspirasi, mereka tidak hanya membawa tuntutan politik, tetapi juga membawa harapan agar suara mereka didengar. Oleh karena itu, komunikasi publik yang efektif seharusnya dimulai dengan mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan penjelasan atau pembelaan. Empati merupakan fondasi dialog. Tanpa empati, komunikasi berubah menjadi monolog yang hanya memperkuat polarisasi.

 

Aktivisme Digital

 

Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang besar dalam bentuk tingginya partisipasi digital masyarakat. Berdasarkan berbagai laporan internasional, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial tertinggi di dunia.

 

Kondisi ini seharusnya dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. Media sosial dapat menjadi instrumen untuk memahami aspirasi masyarakat secara real time. Kritik yang berkembang di ruang digital dapat menjadi sumber informasi penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan.

 

Konsep digital democracy yang berkembang dalam studi politik kontemporer menekankan bahwa teknologi informasi dapat memperkuat partisipasi warga apabila dikelola secara terbuka dan akuntabel.

 

Daripada memandang aktivisme digital sebagai gangguan, pemerintah dapat menjadikannya sebagai mekanisme umpan balik yang memperkaya proses pengambilan kebijakan.

 

Distraksi digital di tengah aksi mahasiswa bukan sekadar persoalan teknis mengenai akses media sosial. Fenomena ini mencerminkan tantangan yang lebih luas mengenai hubungan antara teknologi digital, komunikasi publik, kepercayaan masyarakat, dan kualitas berbangsa dan bernegara.

 

Di era digital, pemerintah tidak cukup hanya mengelola kebijakan, tetapi juga harus mengelola komunikasi secara transparan, responsif, dan empatik. Aktivisme digital yang berkembang di Indonesia merupakan aset yang berharga karena menunjukkan tingginya partisipasi warga dalam kehidupan publik.

 

Ke depan, tantangan terbesar bukanlah bagaimana membatasi ruang kritik, melainkan bagaimana membangun ruang dialog yang terbuka, inklusif, dan bermartabat. Sejarah menunjukkan bahwa stabilitas sosial yang berkelanjutan lahir bukan dari pembungkaman suara warga, melainkan dari kemampuan negara dan masyarakat untuk berdialog secara jujur dan saling menghormati.

 

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

 

Dalam perspektif Islam, kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip keadilan, kemaslahatan, atau syariat bukanlah tindakan permusuhan terhadap negara, melainkan bagian dari dakwah amar ma'ruf nahi munkar.

 

Islam mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki tanggung jawab moral untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan dan adab yang benar.

 

Allah SWT berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Ali Imran: 104).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kontrol sosial terhadap berbagai penyimpangan, termasuk yang dilakukan oleh penguasa, merupakan bagian dari kewajiban kolektif umat Islam dalam menjaga tegaknya nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

 

Rasulullah SAW bahkan menegaskan pentingnya menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa. Beliau bersabda: "Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim" (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

 

Hadis ini menunjukkan bahwa kritik yang konstruktif, objektif, dan bertujuan memperbaiki keadaan merupakan bentuk keberanian moral yang sangat dihargai dalam Islam. Namun demikian, Islam juga mengajarkan agar kritik dilakukan dengan ilmu, hikmah, kejujuran, dan niat yang ikhlas untuk kemaslahatan umat, bukan untuk menebar fitnah, kebencian, atau menciptakan kekacauan.

 

Dengan demikian, kritik terhadap kebijakan pemerintah dalam Islam bukanlah tindakan subversif, melainkan salah satu wujud tanggung jawab keagamaan dan kepedulian sosial demi terwujudnya pemerintahan yang adil, amanah, dan berpihak kepada rakyat. Gerakan mahasiswa mestinya bergerak dalam koridor amar ma’ruf nahi munkar ini, agar setiap gerakannya memiliki makna ibadah dan tidak sia-sia.

 

REFERENSI

 

Carole Pateman. Participation and Democratic Theory.

Edelman. Edelman Trust Barometer Reports.

Francis Fukuyama. Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity.

Jürgen Habermas. The Structural Transformation of the Public Sphere.

Manuel Castells. Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age (2015).

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28E tentang kebebasan berpendapat dan berekspresi.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Kajian tentang kebebasan berekspresi dan ruang digital.

W. Timothy Coombs. Ongoing Crisis Communication.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1384/19/06/26 : 14.48 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad