Oleh : Ahmad Sastra
Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods pada tahun
1971, dunia memasuki era baru sistem moneter yang sepenuhnya bertumpu pada fiat
money atau uang kertas yang tidak lagi dijamin oleh emas maupun perak.
Keputusan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon untuk
menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas pada 15 Agustus 1971—yang
dikenal sebagai Nixon Shock—menjadi titik balik sejarah ekonomi global.
Sejak saat itu, hampir seluruh mata uang dunia berdiri
di atas kepercayaan (trust), kekuatan negara penerbit, dan kebijakan bank
sentral. Tidak ada lagi jaminan bahwa setiap lembar uang dapat ditukarkan
dengan sejumlah emas tertentu sebagaimana berlaku dalam sistem standar emas (gold
standard).
Bagi para pendukung ekonomi kapitalisme modern, sistem
ini dianggap lebih fleksibel dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi global.
Namun bagi para kritikus, terutama dari kalangan ekonomi Islam dan sebagian
ekonom heterodoks, sistem fiat money sesungguhnya berdiri di atas fondasi yang
rapuh karena tidak memiliki nilai intrinsik.
Mereka berpendapat bahwa krisis keuangan yang terus
berulang, meningkatnya utang global, dominasi dolar Amerika Serikat,
kesenjangan ekonomi, dan kerusakan lingkungan merupakan gejala dari kelemahan
mendasar sistem kapitalisme itu sendiri. Tulisan ini mencoba mengkaji secara
kritis berbagai persoalan tersebut sekaligus menelaah sejauh mana ekonomi Islam
menawarkan alternatif bagi sistem ekonomi dunia saat ini.
Dari Emas ke Kertas: Perubahan Besar Tahun 1971
Sebelum tahun 1971, sistem moneter internasional
berada dalam kerangka Bretton Woods yang disepakati setelah berakhirnya World
War II. Dalam sistem tersebut, dolar Amerika Serikat dapat ditukarkan dengan
emas pada harga tetap 35 dolar per ons.
Namun meningkatnya pengeluaran pemerintah Amerika
Serikat untuk perang dan berbagai program domestik menyebabkan cadangan emas
tidak lagi mampu menutup jumlah dolar yang beredar. Akibatnya, pemerintah AS
menghentikan penukaran dolar dengan emas. Sejak saat itu, dunia memasuki era
fiat money.
Menurut Milton Friedman dan banyak ekonom arus utama,
sistem fiat memberikan fleksibilitas bagi bank sentral untuk mengelola ekonomi.
Namun para kritikus seperti Friedrich Hayek dan berbagai ekonom mazhab Austria
memperingatkan bahwa penciptaan uang yang tidak dibatasi oleh emas berpotensi
menghasilkan inflasi, gelembung aset, dan ketidakstabilan ekonomi.
Mata Uang Fiat dan Kelemahan Nilai Intrinsik
Salah satu kritik utama terhadap sistem moneter modern
adalah bahwa uang kertas tidak memiliki nilai intrinsik. Emas dan perak
memiliki nilai karena keduanya merupakan komoditas yang langka, tahan lama,
dapat dibagi, dan memiliki kegunaan di luar fungsi moneter. Sebaliknya, uang
kertas memperoleh nilainya karena negara menetapkannya sebagai alat pembayaran
yang sah (legal tender).
Dalam kondisi normal, sistem ini dapat berjalan dengan
baik selama masyarakat mempercayai pemerintah dan bank sentral. Namun ketika
kepercayaan menurun, nilai mata uang dapat mengalami depresiasi yang tajam.
Sejarah mencatat berbagai kasus hiperinflasi seperti
yang terjadi di Zimbabwe, Venezuela, maupun Weimar Hyperinflation, yang
menunjukkan bahwa uang fiat sangat bergantung pada stabilitas politik dan
ekonomi negara penerbitnya.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa sebagian besar
negara modern berhasil menjaga stabilitas mata uangnya melalui kebijakan
moneter yang ketat. Karena itu, kelemahan fiat money tidak otomatis berarti
seluruh sistem akan segera runtuh, tetapi menunjukkan adanya kerentanan yang
perlu diwaspadai.
Dominasi Dolar dan Munculnya Dunia Multipolar
Selama beberapa dekade, dolar AS menjadi mata uang
utama perdagangan dan cadangan devisa dunia. Menurut data International
Monetary Fund, sebagian besar transaksi perdagangan internasional dan cadangan
devisa global masih menggunakan dolar.
Namun dominasi tersebut mulai menghadapi tantangan. Meningkatnya
kekuatan ekonomi China, menguatnya kerja sama kelompok BRICS, serta upaya
sejumlah negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar menunjukkan
munculnya kecenderungan menuju sistem yang lebih multipolar.
Beberapa negara mulai meningkatkan cadangan emas
mereka dan memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral.
Fenomena ini sering disebut sebagai de-dollarization. Meskipun dolar
masih menjadi mata uang dominan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sistem
moneter global sedang mengalami transformasi yang signifikan.
Kapitalisme, Oligarki, dan Ketimpangan Ekonomi
Kritik lain terhadap kapitalisme berkaitan dengan
meningkatnya konsentrasi kekayaan.
Ekonom Perancis Thomas Piketty dalam karya monumentalnya
Capital in the Twenty-First Century menunjukkan bahwa akumulasi modal
cenderung menghasilkan konsentrasi kekayaan pada kelompok yang semakin kecil.
Laporan tahunan Oxfam International juga berulang kali
menunjukkan bahwa sebagian kecil penduduk dunia menguasai proporsi kekayaan
yang sangat besar dibandingkan mayoritas populasi.
Fenomena ini memunculkan kritik bahwa kapitalisme
modern telah melahirkan oligarki ekonomi, yaitu situasi ketika kekuatan ekonomi
terkonsentrasi pada segelintir kelompok yang memiliki pengaruh besar terhadap
kebijakan publik. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tidak selalu diikuti
pemerataan kesejahteraan.
Krisis Ekologi dan Logika Pertumbuhan Tanpa Batas
Kritik terhadap kapitalisme tidak hanya datang dari
aspek ekonomi, tetapi juga dari bidang lingkungan hidup. Model ekonomi
kapitalisme modern umumnya didorong oleh logika pertumbuhan tanpa henti.
Produksi harus terus meningkat, konsumsi harus terus bertambah, dan keuntungan
harus terus diperbesar.
Banyak ilmuwan lingkungan berpendapat bahwa pola
tersebut berkontribusi terhadap berbagai krisis ekologis seperti perubahan
iklim, deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Laporan-laporan Intergovernmental Panel on Climate
Change menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi manusia menjadi faktor utama dalam
meningkatnya emisi gas rumah kaca. Dalam konteks ini, kritik terhadap
kapitalisme sering berfokus pada lemahnya dimensi moral dalam mengendalikan
eksploitasi sumber daya alam.
Ekonomi Islam dan Konsep Uang Bernilai Intrinsik
Di tengah berbagai kritik tersebut, ekonomi Islam
menawarkan paradigma yang berbeda.
Dalam sejarah Islam, alat tukar utama yang digunakan
adalah dinar (emas) dan dirham (perak). Kedua jenis mata uang tersebut memiliki
nilai intrinsik karena terbuat dari logam mulia yang memiliki nilai ekonomi
nyata.
Tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali dan Ibn Khaldun
menjelaskan bahwa emas dan perak memiliki karakteristik yang ideal sebagai alat
tukar karena stabilitas nilainya relatif terjaga dalam jangka panjang.
Pendukung sistem dinar dan dirham berargumen bahwa
mata uang berbasis logam mulia lebih sulit dimanipulasi melalui penciptaan uang
berlebihan dan lebih tahan terhadap inflasi jangka panjang. Data historis
menunjukkan bahwa daya beli emas relatif lebih stabil dibandingkan banyak mata
uang fiat dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Kritik ekonomi Islam terhadap fiat money tetap relevan
sebagai pengingat bahwa sistem moneter memerlukan fondasi yang kuat, disiplin
fiskal, dan pengendalian penciptaan uang agar tidak menimbulkan ketidakstabilan
ekonomi.
Islam sebagai Alternatif Ekonomi
Keunggulan utama ekonomi Islam sesungguhnya tidak
hanya terletak pada penggunaan emas dan perak, tetapi pada keseluruhan
paradigma yang menempatkan moralitas sebagai fondasi ekonomi.
Islam melarang riba, gharar (ketidakjelasan yang
merugikan), penipuan, monopoli, dan eksploitasi. Islam juga mendorong
distribusi kekayaan melalui zakat, infak, sedekah, dan berbagai mekanisme
keadilan sosial.
Al-Qur'an menegaskan: “Agar harta itu jangan hanya beredar
di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini
menunjukkan bahwa tujuan ekonomi Islam bukan sekadar pertumbuhan, tetapi juga
distribusi yang adil dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Sistem ekonomi kapitalisme modern telah menghasilkan
kemajuan teknologi, perdagangan global, dan pertumbuhan ekonomi yang luar
biasa. Namun pada saat yang sama, sistem ini juga menghadapi kritik serius
terkait ketidakstabilan moneter, dominasi mata uang tertentu, konsentrasi
kekayaan, serta kerusakan lingkungan.
Perubahan sistem moneter dunia sejak tahun 1971
menandai era fiat money yang bergantung pada kepercayaan dan kebijakan negara.
Meskipun sistem tersebut masih bertahan dan mendominasi perekonomian global,
berbagai tantangan yang muncul menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengevaluasi
fondasi ekonomi modern.
Dalam konteks tersebut, ekonomi Islam menawarkan
perspektif alternatif yang menekankan stabilitas moneter, keadilan distribusi,
pengendalian spekulasi, dan integrasi nilai moral dalam aktivitas ekonomi.
Sistem ekonomi Islam akan menjadi sistem ekonomi masa
depan dunia yang menawarkan rahmat bagi alam semesta. Krisis yang berulang
dalam ekonomi global telah mendorong semakin banyak ilmuwan dan praktisi untuk
meninjau kembali berbagai prinsip ekonomi yang selama ini dianggap mapan.
REFERENSI
Al-Ghazali. Ihya Ulum al-Din.
Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Hasyr: 7
Ibn Khaldun. Al-Muqaddimah.
Intergovernmental Panel on Climate Change. Berbagai
laporan perubahan iklim.
International Monetary Fund. Currency Composition
of Official Foreign Exchange Reserves (COFER).
Milton Friedman. Money Mischief.
Nixon Shock.
Oxfam International. Berbagai laporan ketimpangan
global.
Thomas Piketty. (2014). Capital in the Twenty-First
Century.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1383/19/06/26 : 14.20
WIB)

