MENGENAL KARAKTER MUSA DAN FIR'AUN



 

Oleh: Ahmad Sastra

 

Di antara kisah yang paling banyak diulang dalam Al-Qur'an adalah kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pengulangan tersebut menunjukkan pentingnya pelajaran yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan manusia sepanjang zaman.

 

Kisah Nabi Musa bukan sekadar catatan sejarah ribuan tahun yang lalu, melainkan gambaran tentang pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan, antara keimanan dan kesombongan, antara keadilan dan kezaliman.

 

Al-Qur'an menyebut nama Nabi Musa lebih dari seratus kali dalam berbagai surah. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan beliau memiliki relevansi yang sangat besar bagi umat manusia.

 

Nabi Musa AS tampil sebagai utusan Allah yang membawa risalah tauhid dan pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan. Sebaliknya, Fir'aun menjadi simbol kekuasaan yang melampaui batas, kesombongan politik, dan penolakan terhadap hukum Allah.

 

Dalam kehidupan modern, karakter Musa dan Fir'aun sesungguhnya tidak hanya hadir dalam tokoh-tokoh sejarah, tetapi juga dapat muncul dalam pola pikir, perilaku, sistem sosial, dan kepemimpinan manusia.

 

Oleh karena itu, memahami karakter keduanya menjadi sangat penting agar manusia mampu memilih jalan yang benar dalam kehidupannya.

 

Musa: Pembawa Risalah Tauhid dan Keadilan

 

Nabi Musa AS merupakan salah satu rasul ulul azmi yang mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Beliau diutus kepada Bani Israil dan Fir'aun untuk mengajak manusia kembali kepada tauhid, yaitu menyembah Allah semata dan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan.

 

Allah SWT berfirman: "Pergilah kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas." (QS. Thaha: 24). Ayat ini menunjukkan bahwa misi utama Nabi Musa adalah menghadapi penguasa zalim yang telah melakukan berbagai bentuk penyimpangan dan penindasan terhadap rakyatnya.

 

Karakter pertama Nabi Musa adalah keberanian dalam menyampaikan kebenaran. Meskipun mengetahui bahwa Fir'aun adalah penguasa paling kuat pada zamannya, Musa tetap menjalankan tugas dakwah dengan penuh keteguhan. Keberanian beliau bukan lahir dari ambisi politik atau kepentingan pribadi, melainkan dari keyakinan kepada Allah SWT.

 

Karakter kedua adalah kelembutan dan kasih sayang dalam berdakwah. Menariknya, ketika Allah mengutus Musa dan Harun kepada Fir'aun, Allah memerintahkan keduanya agar tetap menggunakan kata-kata yang baik.

 

Allah berfirman: "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS. Thaha: 44). Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah Islam tidak dibangun di atas kebencian, melainkan di atas kasih sayang dan harapan agar manusia mendapatkan hidayah.

 

Karakter ketiga Nabi Musa adalah kesabaran. Dakwah beliau berlangsung bertahun-tahun menghadapi penolakan, ancaman, dan berbagai ujian berat. Namun beliau tidak pernah menyerah. Kesabaran Musa menunjukkan bahwa perubahan besar membutuhkan ketekunan dan pengorbanan.

 

Karakter keempat adalah ketundukan total kepada Allah SWT. Dalam setiap situasi sulit, Musa selalu mengandalkan pertolongan Allah. Ketika dikejar Fir'aun hingga berada di tepi Laut Merah, sebagian pengikutnya merasa putus asa.

 

Mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." (QS. Asy-Syu'ara: 61). Namun Musa menjawab dengan penuh keyakinan: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara: 62)

 

Inilah karakter seorang mukmin sejati: tetap optimis dan percaya kepada pertolongan Allah dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

 

Fir'aun: Simbol Kesombongan dan Kezaliman

 

Jika Musa adalah simbol tauhid dan keadilan, maka Fir'aun adalah simbol kesombongan dan kezaliman. Dalam sejarah Mesir kuno, Fir'aun merupakan penguasa yang memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang sangat besar. Namun kekuasaan tersebut justru membuatnya lupa diri.

 

Al-Qur'an menggambarkan kesombongan Fir'aun melalui pernyataannya yang terkenal: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." (QS. An-Nazi'at: 24)

 

Pernyataan ini menunjukkan puncak kesombongan manusia. Fir'aun tidak hanya menolak ajaran Allah, tetapi juga mengklaim dirinya sebagai tuhan yang harus disembah. Karakter pertama Fir'aun adalah kesombongan intelektual dan spiritual.

 

Ia merasa dirinya paling benar dan tidak membutuhkan petunjuk Allah. Kesombongan semacam ini merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena menutup pintu hidayah. Karakter kedua adalah kezaliman terhadap rakyat.

 

Fir'aun menggunakan kekuasaan untuk menindas dan mempertahankan kepentingannya sendiri. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah." (QS. Al-Qashash: 4). Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri penguasa zalim adalah memecah-belah masyarakat demi mempertahankan kekuasaannya.

 

Karakter ketiga Fir'aun adalah kekerasan dan intimidasi. Ketika para penyihir Mesir beriman kepada Allah setelah menyaksikan mukjizat Nabi Musa, Fir'aun langsung mengancam mereka.

 

Fir'aun berkata: "Sungguh aku akan memotong tangan dan kakimu secara bersilang, kemudian aku akan menyalib kamu semuanya." (QS. Al-A'raf: 124). Ancaman ini menunjukkan bahwa penguasa zalim selalu menggunakan ketakutan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan.

 

Karakter keempat adalah penolakan terhadap kebenaran meskipun telah melihat bukti yang nyata. Fir'aun menyaksikan berbagai mukjizat Nabi Musa, mulai dari tongkat yang berubah menjadi ular hingga terbelahnya laut. Namun kesombongannya membuat ia tetap menolak beriman.

 

Pertarungan Musa dan Fir'aun: Pelajaran Sepanjang Zaman

 

Kisah Musa dan Fir'aun sesungguhnya menggambarkan pertarungan nilai yang terus berlangsung dalam sejarah manusia. Musa mewakili nilai tauhid, keadilan, kejujuran, dan ketundukan kepada Allah. Sebaliknya, Fir'aun mewakili kesombongan, penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengingkaran terhadap kebenaran.

 

Dalam kehidupan modern, karakter Fir'aun dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ia tidak selalu hadir sebagai raja yang mengaku tuhan, tetapi dapat hadir dalam bentuk kesombongan intelektual, penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, ketidakadilan, dan penolakan terhadap nilai-nilai moral.

 

Sebaliknya, karakter Musa dapat hadir dalam diri siapa saja yang berjuang menegakkan kebenaran, memperjuangkan keadilan, mengajak kepada kebaikan, dan tetap istiqamah di jalan Allah meskipun menghadapi berbagai tekanan.

 

Karena itu, kisah ini bukan sekadar tentang dua tokoh masa lalu, melainkan cermin bagi setiap manusia untuk menilai dirinya sendiri: apakah lebih dekat kepada karakter Musa atau justru memiliki sifat-sifat Fir'aun dalam dirinya.

 

Akhir Tragis Fir'aun

 

Puncak kisah ini terjadi ketika Fir'aun bersama pasukannya mengejar Nabi Musa dan kaum beriman hingga ke tepi laut. Dalam kesombongannya, Fir'aun tetap berusaha menghancurkan dakwah Musa.

 

Namun Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya. Laut terbelah sehingga Musa dan pengikutnya dapat menyeberang dengan selamat. Ketika Fir'aun dan pasukannya masuk ke dalamnya, Allah menutup kembali laut tersebut dan menenggelamkan mereka.

 

Allah SWT berfirman: "Maka Kami tenggelamkan dia beserta bala tentaranya." (QS. Al-Qashash: 40). Peristiwa ini menjadi pelajaran besar bahwa kezaliman mungkin tampak kuat untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya akan hancur oleh keadilan Allah SWT.

 

Rasulullah SAW juga mengingatkan: "Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah." (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman pada akhirnya akan menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

 

Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun merupakan salah satu pelajaran terbesar dalam Al-Qur'an. Musa tampil sebagai teladan keberanian, kesabaran, kelembutan, dan keteguhan dalam menegakkan kebenaran. Fir'aun menjadi simbol kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap petunjuk Allah.

 

Pertarungan antara Musa dan Fir'aun sesungguhnya adalah pertarungan nilai yang terus berlangsung dalam kehidupan manusia hingga hari ini. Setiap individu, pemimpin, lembaga, bahkan bangsa akan selalu dihadapkan pada pilihan antara jalan Musa atau jalan Fir'aun.

 

Sejarah akhirnya membuktikan bahwa kebenaran akan menang dan kezaliman akan binasa. Musa diselamatkan dan dimuliakan oleh Allah, sementara Fir'aun yang sombong ditenggelamkan sebagai pelajaran bagi seluruh generasi. Karena itu, tugas setiap muslim adalah meneladani karakter Musa dalam kehidupan pribadi maupun sosial, serta menjauhi segala sifat Fir'aun agar memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

 

REFERENSI

 

Al-Qur'an al-Karim.

Fi Zhilal al-Qur'an.

Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an.

Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah.

Qashash al-Anbiya.

Shahih al-Bukhari.

Shahih Muslim.

Tafsir Ibnu Katsir.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1382/16/06/26 : 12.50 WIB) 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad