Oleh: Ahmad Sastra
Setiap datangnya bulan Muharam, umat Islam kembali
mengenang peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan
sekadar perpindahan geografis dari satu tempat ke tempat lain, tetapi merupakan
transformasi besar yang mengubah arah sejarah manusia.
Hijrah melahirkan peradaban baru yang dibangun di atas
fondasi tauhid, ilmu pengetahuan, keadilan, dan akhlak mulia. Dari Madinah,
cahaya Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia dan melahirkan salah satu
peradaban terbesar dalam sejarah umat manusia.
Dalam konteks kekinian, makna hijrah tidak cukup
dipahami sebagai perpindahan fisik atau perubahan simbolik semata. Umat Islam
saat ini membutuhkan bentuk hijrah yang lebih mendasar, yaitu hijrah
intelektual, sebuah transformasi pola pikir, budaya ilmu, dan orientasi
peradaban menuju kebangkitan kembali umat Islam.
Di tengah kemunduran yang dialami sebagian besar dunia
Islam dalam bidang pendidikan, sains, teknologi, ekonomi, dan kebudayaan,
spirit hijrah Rasulullah SAW harus menjadi inspirasi untuk membangun kembali
tradisi ilmu yang pernah mengantarkan umat Islam menjadi pelopor peradaban
dunia.
Keistimewaan Islam terletak pada kesempurnaannya
sebagai agama yang memadukan tiga unsur utama kehidupan manusia: iman, ilmu,
dan amal. Iman memberikan landasan spiritual, ilmu memberikan petunjuk
rasional, dan amal menjadi manifestasi nyata dari keyakinan dan pengetahuan.
Al-Qur'an menempatkan ilmu pada posisi yang sangat
tinggi. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW bukanlah perintah
beribadah secara ritual, melainkan perintah membaca dan belajar: "Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."(QS. Al-'Alaq: 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebangkitan Islam dimulai
dari gerakan literasi dan pencarian ilmu. Bahkan Allah SWT memberikan
penghormatan khusus kepada orang-orang berilmu: "Allah akan mengangkat
derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan
ilmu dunia. Semua ilmu yang membawa kemaslahatan manusia merupakan bagian dari
amanah kekhalifahan yang diberikan Allah kepada manusia. Karena itu, seorang
muslim ideal adalah pribadi yang memiliki keimanan yang kokoh, wawasan yang
luas, dan amal yang produktif.
Tradisi Ilmu sebagai Karakter Peradaban Islam
Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam tidak lahir
dari kekuatan militer semata, melainkan dari kekuatan ilmu pengetahuan. Ketika
Eropa masih berada dalam masa yang sering disebut sebagai "Dark
Ages", dunia Islam telah melahirkan pusat-pusat ilmu pengetahuan yang
menjadi rujukan dunia.
Kota Baghdad dengan Bait al-Hikmah, Cordoba di
Andalusia, Kairo dengan Universitas Al-Azhar, serta berbagai pusat keilmuan
lainnya menjadi simbol kemajuan intelektual umat Islam. Para ilmuwan muslim
tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mengembangkan matematika,
astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, geografi, dan berbagai disiplin ilmu
lainnya.
Nama-nama besar seperti Ibnu Sina, penulis Al-Qanun
fi al-Tibb yang menjadi rujukan kedokteran dunia selama berabad-abad; Al-Khawarizmi,
peletak dasar aljabar; Ibnu al-Haytham, pelopor optika modern; Al-Biruni, ahli
astronomi dan geografi; serta Ibnu Khaldun, bapak sosiologi dunia, merupakan
bukti bahwa tradisi ilmu merupakan identitas peradaban Islam.
Menurut sejarawan sains George Sarton dalam Introduction
to the History of Science, periode abad ke-8 hingga abad ke-13 merupakan
era dominasi ilmuwan muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Fakta
historis ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu bukan sesuatu yang asing bagi umat
Islam, melainkan bagian dari jati diri peradaban mereka.
Menuntut Ilmu : Kewajiban Agama
Islam menjadikan pencarian ilmu sebagai kewajiban,
bukan sekadar pilihan. Rasulullah SAW bersabda: "Menuntut ilmu adalah
kewajiban bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa budaya belajar merupakan
bagian integral dari keislaman seseorang. Seorang muslim tidak boleh berhenti
belajar sepanjang hidupnya. Bahkan dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: "Barang
siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan
menuju surga." (HR. Muslim)
Kedudukan ilmu yang demikian tinggi menunjukkan bahwa
Islam memandang kemajuan intelektual sebagai sarana mendekatkan diri kepada
Allah. Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar peluangnya memahami
tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta.
Karena itu, kemunduran umat Islam dalam bidang ilmu
pengetahuan sesungguhnya bukan hanya masalah sosial atau ekonomi, tetapi juga
masalah keagamaan. Ketika budaya ilmu melemah, kualitas peradaban pun ikut
menurun.
Krisis Literasi dan Kemunduran Umat Islam
Salah satu tantangan besar umat Islam saat ini adalah
melemahnya budaya literasi. Di era digital, informasi memang berlimpah, tetapi
kedalaman ilmu justru sering kali berkurang. Banyak orang lebih senang
mengonsumsi informasi singkat daripada membaca karya-karya ilmiah yang
mendalam. Akibatnya, muncul budaya instan yang miskin refleksi dan analisis.
Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan
bahwa banyak negara mayoritas muslim masih menghadapi persoalan rendahnya
kualitas pendidikan, riset, inovasi, dan produktivitas ilmiah. Jumlah publikasi
ilmiah, paten teknologi, maupun kontribusi terhadap perkembangan sains global
masih relatif tertinggal dibandingkan negara-negara maju.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara
ajaran Islam yang sangat menghargai ilmu dengan realitas kehidupan umat Islam
saat ini. Padahal, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber
daya manusia dan budaya intelektual yang dimilikinya.
Dalam konteks inilah umat Islam perlu melakukan
evaluasi mendalam. Kebangkitan umat tidak mungkin dicapai hanya melalui
slogan-slogan keagamaan tanpa disertai penguatan ilmu pengetahuan, penelitian,
inovasi, dan budaya membaca.
Hijrah Rasulullah SAW merupakan momentum transformasi
peradaban yang luar biasa. Di Madinah, Rasulullah tidak hanya membangun masjid
sebagai pusat ibadah, tetapi juga membangun sistem pendidikan, ekonomi, sosial,
politik, dan budaya yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Masyarakat Madinah dibentuk menjadi masyarakat yang
menghargai ilmu, musyawarah, keadilan, dan persaudaraan. Dari komunitas kecil
inilah lahir generasi sahabat yang mampu mengubah wajah dunia.
Spirit hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu
dimulai dari perubahan cara berpikir. Rasulullah SAW mengubah masyarakat
jahiliyah yang diliputi kebodohan menjadi masyarakat yang mencintai ilmu dan
peradaban. Oleh karena itu, makna hijrah yang paling relevan bagi umat Islam
saat ini adalah hijrah dari kebodohan menuju pengetahuan, dari kemalasan menuju
produktivitas, dan dari ketertinggalan menuju kemajuan.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11). Ayat ini menegaskan bahwa
perubahan sosial dan peradaban harus diawali oleh perubahan internal, termasuk
perubahan pola pikir dan budaya intelektual.
Hijrah Intelektual untuk Peradaban Masa Depan
Hijrah intelektual berarti menghidupkan kembali
semangat belajar, membaca, meneliti, menulis, dan berinovasi sebagai bagian
dari ibadah kepada Allah SWT. Hijrah intelektual juga berarti menjadikan ilmu
sebagai basis pengambilan keputusan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Di tengah krisis moral, materialisme, hedonisme, dan
disorientasi peradaban modern, dunia membutuhkan kontribusi pemikiran Islam
yang mampu menghadirkan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai
kemanusiaan. Islam memiliki konsep tauhid, keadilan, amanah, maqashid syariah,
dan akhlak yang dapat menjadi solusi atas berbagai problem global.
Namun kontribusi tersebut hanya dapat diberikan
apabila umat Islam kembali menjadi umat yang unggul dalam ilmu pengetahuan.
Karena itu, lembaga pendidikan Islam, pesantren, sekolah, universitas, masjid,
dan keluarga harus menjadi pusat lahirnya generasi pembelajar yang mencintai
ilmu dan budaya literasi.
Hijrah intelektual juga menuntut perubahan orientasi
pendidikan. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan pencari kerja, tetapi
juga pencipta peradaban. Generasi muslim harus didorong untuk menjadi ilmuwan,
peneliti, penulis, inovator, dan pemimpin yang mampu memberikan manfaat bagi
umat manusia.
Hijrah Rasulullah SAW bukan hanya peristiwa sejarah,
melainkan inspirasi abadi bagi kebangkitan umat Islam. Jika dahulu hijrah
melahirkan peradaban Madinah yang gemilang, maka hari ini umat Islam memerlukan
hijrah intelektual untuk menghadapi tantangan zaman modern.
Islam adalah agama yang memadukan iman, ilmu, dan
amal. Tradisi ilmu merupakan karakter asli umat Islam yang telah melahirkan
peradaban besar dalam sejarah dunia. Oleh karena itu, budaya literasi,
penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan harus kembali dihidupkan.
Kebangkitan umat Islam tidak akan terwujud tanpa
kebangkitan intelektual. Dengan menghidupkan kembali semangat membaca, belajar,
berpikir kritis, meneliti, dan berkarya, umat Islam dapat kembali menjadi
pelopor peradaban yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Inilah makna hijrah yang sesungguhnya: berpindah dari
keterbelakangan menuju kemajuan, dari kebodohan menuju ilmu, dan dari krisis
peradaban menuju kebangkitan Islam yang berlandaskan wahyu dan akal sekaligus.
REFERENSI
Al-Qanun fi al-Tibb.
Al-Qur'an al-Karim.
George Sarton, Introduction to the History of
Science.
Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah.
Islamic World Educational, Scientific and Cultural
Organization, laporan pengembangan pendidikan dan sains di dunia Islam
Muqaddimah, Ibnu Khaldun
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
UNESCO, laporan pendidikan dan literasi global.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan,No.1380/16/06/26 : 05.54
WIB)

