Oleh: Ahmad Sastra
Dunia pendidikan sedang memasuki babak baru yang
ditandai oleh Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, dan perkembangan pesat
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Perubahan ini
menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Teknologi digital, big data, Internet of Things (IoT),
robotika, dan AI telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi,
bahkan mengambil keputusan. Berbagai profesi baru muncul, sementara sejumlah
pekerjaan konvensional mulai tergantikan oleh mesin dan algoritma.
Dalam konteks tersebut, lembaga pendidikan Islam
seperti pesantren, madrasah, sekolah Islam, dan perguruan tinggi Islam dituntut
untuk melakukan transformasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Namun transformasi tersebut tidak boleh menghilangkan
identitas dan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu membentuk manusia yang
beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, dan mampu menjadi khalifah di muka
bumi.
Karena itu, diperlukan sebuah model Manajemen Mutu
Terpadu Pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada mutu akademik,
tetapi juga mengintegrasikan mutu karakter, mutu digital, dan mutu spiritual.
Model ini harus mampu menjawab tantangan modernitas sekaligus menjaga
nilai-nilai dasar pendidikan Islam.
Tantangan Pendidikan Islam di Era AI
Laporan World Economic Forum dalam Future of Jobs
Report menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi
teknologi, kemampuan memecahkan masalah kompleks, dan kecerdasan emosional akan
menjadi kompetensi utama abad ke-21. Pada saat yang sama, perkembangan AI
memungkinkan berbagai tugas rutin dilakukan oleh mesin secara lebih cepat dan
akurat.
Tantangan terbesar pendidikan Islam bukan sekadar
mengajarkan teknologi, melainkan menyiapkan generasi yang mampu mengendalikan
teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Krisis moral, penyebaran hoaks,
cyberbullying, kecanduan digital, degradasi lingkungan, dan individualisme
merupakan sebagian dampak negatif yang menyertai kemajuan teknologi.
Dalam kondisi seperti ini, pendidikan Islam memiliki
peluang besar untuk menawarkan paradigma pendidikan yang lebih holistik dengan
memadukan kecerdasan intelektual, spiritual, sosial, dan digital.
Landasan Filosofis Pendidikan Islam
Model mutu pendidikan Islam harus dibangun di atas
fondasi filosofis yang kuat. Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan dengan
dua misi utama, yaitu sebagai hamba Allah (abdullah) dan sebagai
khalifah di bumi (khalifatullah).
Allah SWT berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS.
Adz-Dzariyat [51]: 56). Allah juga berfirman: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al-Baqarah [2]: 30)
Dua ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam
tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual,
tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran spiritual dan tanggung jawab
sosial.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Syed Muhammad
Naquib al-Attas yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan
manusia beradab (insan adabi), yaitu manusia yang mampu menempatkan
segala sesuatu secara proporsional berdasarkan pandangan hidup Islam.
Model IQDS, Integrated Quality for Digital and
Spiritual Civilization
Untuk menjawab tantangan abad ke-21, penulis
menawarkan model konseptual IQDS (Integrated Quality for Digital and Spiritual
Civilization), yaitu Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Islam yang
mengintegrasikan empat pilar mutu utama : pertama, Mutu Akademik. Mutu akademik
mencakup kualitas pembelajaran, penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan riset,
literasi, numerasi, dan pengembangan keilmuan.
Dalam era AI, mutu akademik tidak cukup berorientasi
pada hafalan. Peserta didik harus memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher
Order Thinking Skills/HOTS) yang meliputi: (1) Critical Thinking (2) Creative
Thinking (3) Analytical Thinking (4) Problem Solving (5) Decision Making. Pendidikan
Islam harus bergerak dari paradigma teaching menuju learning,
dari transfer pengetahuan menuju transformasi pengetahuan.
Kedua, Mutu Karakter. Kemajuan teknologi tanpa
karakter akan melahirkan generasi yang cerdas tetapi berbahaya. Karena itu, mutu
karakter harus menjadi inti pendidikan Islam.
Karakter yang perlu dikembangkan meliputi: (1) Integritas
(2) Amanah (3) Disiplin (4) Tanggung jawab (5) Kepemimpinan (6) Kepedulian
sosial (7) Kejujuran akademik
Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia." (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa pembentukan
karakter merupakan tujuan utama pendidikan Islam.
Ketiga, Mutu Digital. Mutu digital merupakan dimensi
baru yang sangat penting dalam era Society 5.0. Mutu digital mencakup: (1) Literasi
digital (2) Literasi data (3) Literasi media (4) Literasi AI (5) Etika digital (6)
Keamanan siber (7) Pemanfaatan teknologi secara produktif. Peserta didik tidak cukup hanya mampu
menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu memahami dampak sosial, budaya,
politik, dan etika dari teknologi tersebut.
Keempat, Mutu Spiritual. Mutu spiritual menjadi
pembeda utama pendidikan Islam dengan pendidikan sekuler. Indikator mutu
spiritual meliputi: (1) Kualitas ibadah (2) Keimanan (3) Ketakwaan (4) Keikhlasan
(5) Kesadaran muraqabah (6) Akhlak mulia. Mutu spiritual berfungsi sebagai
fondasi moral yang mengarahkan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar
tetap berada dalam koridor syariat Islam.
Kepemimpinan Transformasional dan Kolektif
Keberhasilan model mutu tidak dapat dilepaskan dari
faktor kepemimpinan. Lembaga pendidikan Islam membutuhkan model kepemimpinan
yang mampu mengelola perubahan secara efektif. Kepemimpinan transformasional
menuntut pemimpin menjadi: (1) Visioner (2) Inspiratif (3) Inovatif dan (4) Adaptif
terhadap perubahan. Pemimpin tidak hanya mengelola administrasi,
tetapi juga membangun budaya belajar dan budaya mutu.
Di sisi lain, kompleksitas tantangan modern menuntut
lahirnya collective leadership atau kepemimpinan kolektif. Tidak ada satu orang
yang mampu menguasai seluruh bidang keilmuan dan teknologi. Karena itu,
pesantren dan lembaga pendidikan Islam perlu membangun kolaborasi antara: kiai,
guru, akademisi, praktisi teknologi, alumni, dunia usaha dan masyarakat. Melalui
kepemimpinan kolektif, lembaga pendidikan akan lebih adaptif terhadap perubahan
dan inovasi.
Pengembangan HOTS dan Literasi Digital Berbasis
Pesantren
Dalam era AI, kemampuan menghafal tidak lagi menjadi
keunggulan utama karena mesin dapat menyimpan dan mengakses informasi jauh
lebih cepat dibanding manusia. Keunggulan manusia terletak pada kemampuan
berpikir kritis, reflektif, kreatif, dan etis. Karena itu, pembelajaran di
pesantren dan sekolah Islam harus mendorong pengembangan HOTS melalui:
Pertama, Critical Thinking. Santri dilatih mengkritisi
informasi, membedakan fakta dan opini, serta menghindari hoaks. Kedua, Creative
Thinking. Santri didorong menciptakan inovasi dan solusi baru bagi berbagai
persoalan umat.
Ketiga, Problem Solving. Santri dilatih menyelesaikan
masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan secara sistematis. Keempat, Reflective
Thinking. Santri dibiasakan melakukan muhasabah dan refleksi terhadap proses
pembelajaran dan kehidupannya. Tradisi bahtsul masail di pesantren
sesungguhnya merupakan contoh nyata pembelajaran berbasis HOTS yang telah
dipraktikkan jauh sebelum konsep tersebut dikenal dalam pendidikan modern.
Siklus Mutu Berkelanjutan
Model IQDS menggunakan prinsip mutu berkelanjutan yang
mengintegrasikan: PPEPP (penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian dan peningkatan)
dengan konsep Islam yakni muhasabah (evaluasi
diri), islah (perbaikan) dan tajdid (pembaruan).
Integrasi kedua pendekatan tersebut akan membangun
budaya mutu yang tidak hanya administratif tetapi juga spiritual.
Keberhasilan model ini dapat diukur melalui empat
dimensi utama. Indikator Akademik : (1) Prestasi akademik meningkat (2) Kemampuan
riset berkembang (3) Literasi dan
numerasi meningkat dan (4) Penguasaan bahasa asing bertambah.
Indikator karakter diantaranya adalah menurunnya
perilaku menyimpang, meningkatnya integritas dan kedisiplinan dan tumbuhnya
kepemimpinan santri. Indikator digital diantaranya adalah kemampuan teknologi
meningkat, literasi ai berkembang dan pemanfaatan teknologi secara produktif. Sedangkan
indikator spiritual diantaranya adalah : kualitas ibadah meningkat, penguatan
akhlak dan adab dan meningkatnya
kesadaran moral dan sosial.
Selain itu, indikator keberhasilan juga dapat dilihat
dari tingkat kepuasan stakeholder, kontribusi sosial alumni, serta kemampuan
lembaga beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas
keislamannya.
Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, dan perkembangan
Artificial Intelligence telah mengubah lanskap pendidikan global secara
fundamental. Dalam menghadapi perubahan tersebut, pendidikan Islam memerlukan
paradigma mutu yang lebih komprehensif daripada sekadar peningkatan capaian
akademik.
Model Integrated Quality for Digital and Spiritual
Civilization (IQDS) menawarkan pendekatan Manajemen Mutu Terpadu yang
mengintegrasikan mutu akademik, mutu karakter, mutu digital, dan mutu spiritual
dalam satu kesatuan yang utuh. Model ini berlandaskan filosofi pendidikan Islam
yang memandang manusia sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi.
Dengan kepemimpinan transformasional dan kolektif,
pengembangan HOTS, literasi digital, serta penguatan pendidikan karakter dan
spiritual, lembaga pendidikan Islam memiliki peluang besar untuk menjadi pusat
lahirnya generasi masa depan yang unggul, beradab, dan mampu mengarahkan
perkembangan teknologi untuk kemaslahatan umat dan peradaban manusia.
REFERENSI
Al-Attas, S. M. N. (1999). The Concept of Education
in Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
Arcaro, J. S. (2005). Quality in Education: An
Implementation Handbook. Boca Raton, FL: CRC Press.
Deming, W. E. (1986). Out of the Crisis.
Cambridge, MA: MIT Press.
Juran, J. M. (1992). Juran on Quality by Design.
New York: Free Press.
Muhaimin. (2012). Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Agama Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Nata, A. (2019). Manajemen Pendidikan Islam.
Jakarta: Kencana.
Sallis, E. (2014). Total Quality Management in
Education (3rd ed.). London: Routledge.
Schwab, K. (2017). The Fourth Industrial Revolution.
New York: Crown Business.
World Economic Forum. (2025). Future of Jobs Report
2025. Geneva: WEF
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1366/02/06/26 : 15.25
WIB)

