DATA PISA 2025 : MENGAPA PENDIDIKAN INDONESIA MASIH TERTINGGAL ?



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Data PISA 2025 menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan struktural dalam sistem pendidikannya. Posisi Indonesia yang berada pada peringkat ke-6 dalam sains, ke-7 dalam membaca, dan ke-8 dalam matematika di kawasan Asia Tenggara mengindikasikan bahwa persoalan pendidikan nasional bukan sekadar rendahnya penguasaan materi pelajaran, melainkan lemahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), literasi, numerasi, dan pemecahan masalah yang menjadi fokus utama PISA.

 

Bahkan pada aspek Computational Problem Solving, Indonesia masih berada di posisi bawah kawasan, menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan belum sepenuhnya menghasilkan kemampuan berpikir komputasional yang memadai. Temuan ini sejalan dengan tujuan PISA yang memang mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata, bukan sekadar menghafal informasi. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi bahan diskusi, mengapa pendidikan Indonesia masih tertinggal.

 

Pertama, Sistem Pendidikan Masih Berorientasi pada Transfer Pengetahuan. Kelemahan mendasar pendidikan Indonesia terletak pada paradigma pembelajaran yang dalam banyak konteks masih menitikberatkan pada penguasaan konten, pencapaian nilai ujian, dan penyelesaian kurikulum, dibandingkan pengembangan kemampuan bernalar, menganalisis, dan memecahkan masalah.

 

Akibatnya, siswa relatif mampu mengerjakan soal-soal rutin, tetapi mengalami kesulitan ketika harus mengaplikasikan konsep dalam konteks baru sebagaimana dituntut PISA. Hal ini menjelaskan mengapa skor matematika Indonesia masih berada pada posisi terbawah di ASEAN meskipun jam pembelajaran matematika relatif tinggi.

 

Kedua, Krisis Literasi Menjadi Akar Persoalan. Skor membaca yang rendah bukan hanya menunjukkan lemahnya kemampuan memahami bacaan, tetapi juga berdampak pada hampir seluruh mata pelajaran. Dalam PISA, kemampuan membaca menjadi fondasi bagi penguasaan sains, matematika, dan kemampuan berpikir kritis.

 

Rendahnya budaya membaca, keterbatasan akses terhadap bacaan bermutu di sebagian wilayah, serta dominasi penggunaan gawai untuk konsumsi konten singkat dibandingkan bacaan mendalam merupakan tantangan yang juga menjadi perhatian OECD dalam laporan PISA 2025.

 

Ketiga, Pembelajaran Sains Belum Berbasis Inkuiri. Skor sains Indonesia yang masih berada di bawah beberapa negara ASEAN menunjukkan bahwa pembelajaran sains masih cenderung berorientasi pada hafalan konsep dibandingkan pengembangan metode ilmiah.

 

PISA tidak hanya mengukur penguasaan teori, tetapi juga kemampuan mengevaluasi bukti, menarik kesimpulan, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Oleh karena itu, peningkatan kualitas laboratorium, pembelajaran berbasis proyek, eksperimen, dan penelitian sederhana menjadi kebutuhan mendesak.

 

Keempat, Kualitas Guru Menjadi Faktor Penentu. Tidak ada sistem pendidikan yang dapat melampaui kualitas gurunya. Pernyataan ini sejalan dengan temuan berbagai studi internasional mengenai pentingnya kompetensi guru bagi hasil belajar siswa.

 

Tantangan Indonesia bukan hanya pada jumlah guru, tetapi juga pemerataan kompetensi pedagogik, penguasaan materi, kemampuan memanfaatkan teknologi, dan penerapan pembelajaran yang mendorong penalaran. Pengembangan profesional guru secara berkelanjutan berbasis bukti (evidence-based professional development) menjadi kunci untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

 

Kelima, Ketimpangan Mutu Pendidikan. Rendahnya capaian nasional juga dipengaruhi oleh kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Perbedaan akses terhadap guru berkualitas, fasilitas belajar, laboratorium, internet, dan bahan ajar menyebabkan hasil belajar siswa sangat bervariasi. Rata-rata nasional tidak hanya mencerminkan kualitas pembelajaran, tetapi juga persoalan pemerataan layanan pendidikan.

 

Keenam, Reformasi Kurikulum Saja Tidak Cukup. Perubahan kurikulum merupakan langkah penting, tetapi tidak otomatis meningkatkan hasil belajar apabila tidak diikuti dengan perubahan praktik pembelajaran di kelas. Keberhasilan pendidikan lebih ditentukan oleh kualitas implementasi: bagaimana guru mengajar, bagaimana siswa belajar, bagaimana sekolah dipimpin, serta bagaimana sistem evaluasi mendorong kemampuan bernalar, bukan sekadar menghafal.

 

Refleksi Strategis

 

PISA 2025 mengirimkan pesan bahwa Indonesia memerlukan transformasi pendidikan yang lebih mendasar. Perbaikan tidak cukup dilakukan melalui perubahan administrasi atau kurikulum semata, tetapi perlu mencakup peningkatan kualitas guru, penguatan budaya literasi, pembelajaran berbasis penalaran dan pemecahan masalah, pemanfaatan teknologi secara bermakna, serta pengurangan kesenjangan mutu antarwilayah.

 

Negara-negara ASEAN yang memperoleh hasil lebih baik umumnya menunjukkan konsistensi dalam investasi terhadap kualitas guru, sistem evaluasi, dan budaya belajar jangka panjang.

 

Di sisi lain, PISA bukanlah satu-satunya ukuran mutu pendidikan. Pendidikan nasional juga memiliki tujuan yang lebih luas sebagaimana dirumuskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

 

Karena itu, peningkatan capaian PISA sebaiknya dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pembelajaran akademik, tanpa mengabaikan pembentukan karakter, moral, dan kompetensi sosial peserta didik.

 

Analisis yang seimbang perlu mengintegrasikan kedua dimensi tersebut agar reformasi pendidikan menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara kognitif, tetapi juga berintegritas dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

 

Belajar Dari Sejarah Kemajuan Peradaban Pendidikan Islam

 

Peradaban besar tidak pernah lahir secara kebetulan. Ia selalu diawali oleh revolusi cara berpikir, kemudian diwujudkan melalui sistem pendidikan yang mampu melahirkan manusia unggul. Dalam perspektif sejarah dunia, kemajuan peradaban Islam sejak abad ke-7 hingga abad ke-14 merupakan salah satu bukti paling nyata bahwa pendidikan adalah fondasi utama kebangkitan sebuah bangsa.

 

Ketika sebagian besar Eropa masih berada dalam periode yang sering disebut sebagai Dark Ages, dunia Islam justru membangun jaringan pendidikan, perpustakaan, universitas, rumah sakit pendidikan, observatorium astronomi, hingga pusat-pusat penelitian yang menghasilkan ribuan karya ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu.

 

Banyak sejarawan menilai bahwa kemajuan tersebut bukan semata-mata karena kekuatan militer atau kekayaan ekonomi, melainkan karena sistem pendidikan yang menjadikan ilmu sebagai nilai utama peradaban.  Landasan filosofis pendidikan Islam berangkat dari wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq [96]: 1)

 

Ayat pertama yang turun bukanlah perintah berperang, membangun ekonomi, ataupun memperluas wilayah, melainkan perintah membaca. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi peradaban menurut Islam dimulai dari transformasi ilmu pengetahuan.

 

Allah SWT juga meninggikan derajat orang-orang yang berilmu: "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujādilah [58]: 11). Rasulullah SAW semakin menegaskan posisi ilmu sebagai fondasi peradaban melalui sabdanya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah).

 

Pendidikan Islam dan Transformasi Peradaban

 

Kemajuan pendidikan Islam dimulai sejak Rasulullah SAW mendirikan masyarakat Madinah. Masjid Nabawi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai universitas pertama dalam Islam. Di sanalah berlangsung halaqah-halaqah ilmu, pembelajaran Al-Qur'an, pembinaan akhlak, pendidikan kepemimpinan, diplomasi, ekonomi, bahkan strategi pemerintahan.

 

Kelompok Ahl al-Suffah menjadi contoh pendidikan kader yang menghasilkan dai, ulama, hakim, administrator, dan pemimpin masyarakat. Pendidikan pada masa Nabi bersifat integral; tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu kehidupan. Tujuannya adalah membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak sehingga mampu menjadi khalifah di bumi.

 

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin menjadikan pendidikan sebagai prioritas pemerintahan. Abu Bakar menjaga autentisitas Al-Qur'an melalui proses kodifikasi. Umar bin Khattab mengirim para guru ke berbagai wilayah, membangun masjid sebagai pusat pendidikan, dan memperluas jaringan pembelajaran di daerah-daerah baru.

 

Utsman bin Affan melakukan standardisasi mushaf Al-Qur'an yang memperkuat kesatuan intelektual umat Islam. Ali bin Abi Thalib mengembangkan tradisi berpikir kritis, hukum, dan ijtihad. Kebijakan-kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari strategi pembangunan peradaban dan tata kelola negara.

 

Memasuki era Umayyah dan Abbasiyah, sistem pendidikan berkembang semakin kompleks. Muncul berbagai institusi seperti kuttab untuk pendidikan dasar, halaqah di masjid, madrasah, perpustakaan, rumah sakit pendidikan (bimaristan), hingga observatorium astronomi.

 

Pada masa inilah lahir lembaga-lembaga pendidikan besar seperti Madrasah Nizamiyah dan Bayt al-Hikmah di Baghdad yang menjadi pusat penerjemahan karya-karya Yunani, Persia, dan India sekaligus pusat lahirnya inovasi baru. Tradisi ijazah (sertifikasi akademik), kebebasan ilmiah, dan penghormatan kepada guru menjadi karakter utama pendidikan Islam klasik.

 

Integrasi Wahyu dan Akal

 

Keunggulan sistem pendidikan Islam tidak hanya terletak pada kelembagaannya, tetapi juga pada paradigma epistemologinya. Islam memandang bahwa wahyu dan akal bukan dua sumber yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Karena itu, para ilmuwan Muslim mampu mengembangkan berbagai disiplin ilmu tanpa kehilangan orientasi spiritual.

 

Lahir tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi (matematika), Ibn Sina (kedokteran), Al-Biruni (astronomi), Jabir ibn Hayyan (kimia), Ibn al-Haytham (optika), Al-Farabi (filsafat), Al-Ghazali (teologi dan pendidikan), hingga Ibn Khaldun (sosiologi dan historiografi).

 

Mereka tidak memisahkan penelitian ilmiah dari tanggung jawab moral kepada Allah. Inilah yang oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas disebut sebagai Islamic Worldview, yaitu pandangan hidup yang mengintegrasikan ilmu, iman, dan adab.

 

Faktor penting lain yang menjadikan pendidikan Islam maju adalah sistem wakaf. Banyak madrasah, perpustakaan, rumah sakit, hingga universitas dibiayai oleh dana wakaf masyarakat. Model pembiayaan ini menciptakan kemandirian akademik sekaligus memperluas akses pendidikan bagi masyarakat tanpa bergantung sepenuhnya pada kas negara.

 

Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko dan Al-Azhar di Mesir berkembang selama berabad-abad berkat dukungan sistem wakaf. Pendidikan menjadi investasi sosial jangka panjang yang terus menghasilkan manfaat lintas generasi.

 

Peradaban Islam Memimpin Dunia

 

Sejarawan seperti George Makdisi dan Jonathan Lyons menunjukkan bahwa banyak tradisi akademik modern memiliki akar dalam institusi pendidikan Islam. Universitas, perpustakaan, metode ilmiah, rumah sakit pendidikan, hingga sistem sertifikasi guru berkembang pesat di dunia Islam jauh sebelum berkembang di Eropa.

 

Kemajuan tersebut lahir karena pendidikan Islam memiliki beberapa karakter utama: orientasi tauhid, penghormatan terhadap ilmu, integrasi antara teori dan praktik, budaya membaca dan menulis, dukungan negara dan masyarakat, serta tingginya etos penelitian.

 

Dengan kata lain, kemajuan Islam bukanlah hasil kebetulan sejarah, tetapi buah dari investasi jangka panjang dalam pendidikan. Realitas pendidikan di banyak negara Muslim saat ini menunjukkan tantangan yang berbeda. Berbagai laporan internasional memperlihatkan bahwa sebagian besar negara Muslim belum menjadi pemimpin dalam inovasi, publikasi ilmiah, maupun kualitas pendidikan.

 

Karena itu, sejarah era keemasan Islam zaman tidak boleh hanya menjadi romantisme masa lalu. Yang diperlukan adalah merekonstruksi prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam : menjadikan ilmu sebagai ibadah, mengintegrasikan wahyu dan akal, membangun budaya literasi dan riset, memperkuat kualitas guru, mengembangkan pembiayaan pendidikan melalui wakaf produktif, serta membangun ekosistem akademik yang mendorong kreativitas, kolaborasi, dan inovasi.

 

Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam mencapai puncak kejayaan ketika pendidikan ditempatkan sebagai fondasi pembangunan manusia. Masjid berubah menjadi universitas, guru dihormati sebagai pewaris para nabi, perpustakaan menjadi simbol kemajuan, dan penelitian dipandang sebagai bagian dari ibadah. Kemajuan tersebut lahir dari paradigma tauhid yang memadukan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan.

 

Apabila umat Islam ingin kembali berkontribusi bagi peradaban dunia, maka jalan yang harus ditempuh bukan sekadar membangun gedung sekolah atau memperbanyak kurikulum, tetapi membangun kembali sistem pendidikan yang berakar pada wahyu, menghargai ilmu pengetahuan, melahirkan manusia beradab (insān kāmil), serta mendorong inovasi demi kemaslahatan umat manusia. Sebagaimana firman Allah SWT: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Ṭāhā [20]: 114).

 

Referensi

 

Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam and Secularism. ABIM.

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.

Al-Ghazali. (2013). Ihya' 'Ulum al-Din. Dar al-Minhaj.

Hitti, P. K. (2002). History of the Arabs (10th ed.). Palgrave Macmillan.

Hodgson, M. G. S. (1974). The Venture of Islam (Vols. 1–3). University of Chicago Press.

Makdisi, G. (1981). The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West. Edinburgh University Press.

Nasr, S. H. (2006). Islamic Science: An Illustrated Study. World Wisdom.

Sardar, Z. (1988). Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come. Mansell.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1436/11/09/26 : 15.49 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad