MENGAPA SELAMA 40 HARI SANTRI BARU TAK BOLEH DITENGOK, INI RAHASIANYA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

"Kesabaran adalah pintu pertama menuju ilmu, dan perpisahan adalah ujian pertama menuju kedewasaan."

 

Di banyak pesantren di Indonesia, terdapat tradisi yang sering mengundang tanda tanya, terutama bagi para orang tua santri baru: mengapa selama kurang lebih empat puluh hari santri tidak diperkenankan dijenguk? Bagi sebagian orang, aturan ini mungkin terasa berat, bahkan dianggap terlalu keras.

 

Padahal, hakikatnya bukan angka empat puluh yang menjadi inti pendidikan pesantren. Tidak ada dalil syariat yang mewajibkan masa empat puluh hari sebagai ketentuan universal dalam pendidikan Islam. Angka tersebut lebih merupakan strategi pendidikan (tarbiyah) yang lahir dari pengalaman panjang pesantren dalam membentuk karakter santri.

 

Yang hendak dibangun bukan sekadar kemampuan bertahan jauh dari keluarga, melainkan kemampuan menumbuhkan akar kepribadian baru. Setiap perubahan besar membutuhkan ruang, waktu, dan proses. Benih yang baru ditanam tidak boleh setiap hari dicabut hanya untuk memastikan apakah akarnya sudah tumbuh. Justru karena akar itu tidak terlihat, ia membutuhkan ketenangan untuk menguat.

 

Allah Swt. mengingatkan bahwa kehidupan manusia memang dibangun melalui tahapan-tahapan pertumbuhan. Firman-Nya: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. Al-Balad [90]: 4).

 

Demikian pula Allah berfirman: "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

 

Kedua ayat tersebut mengajarkan bahwa proses pendidikan tidak selalu identik dengan kenyamanan. Jalan menuju kematangan justru sering kali diawali oleh rasa asing, kesulitan, dan perjuangan. Pendidikan yang hanya menawarkan kenyamanan berpotensi melahirkan pribadi yang rapuh, sedangkan pendidikan yang menghadirkan tantangan secara proporsional akan melahirkan manusia yang tangguh.

 

Empat puluh hari pertama adalah masa ketika seorang santri mulai melepaskan identitas lamanya sebagai "anak rumah" untuk perlahan tumbuh menjadi "anak ilmu". Ia sedang belajar mencintai kitab sebelum memahami seluruh isinya, menghormati guru sebelum mengenal seluruh ilmunya, dan mencintai pesantren sebelum sepenuhnya merasa betah di dalamnya.

 

Di sinilah letak rahasia pendidikan pesantren. Cinta tidak selalu lahir dari pemahaman; sering kali pemahaman justru lahir setelah seseorang bertahan dalam proses panjang mencintai. Seorang santri tidak langsung jatuh cinta kepada kitab kuning pada hari pertama.

 

Ia mencintainya sedikit demi sedikit: melalui suara guru yang sabar mengajar, lantunan Al-Qur'an sebelum Subuh, antre mengambil makan, membersihkan asrama bersama teman-teman, hingga bangun malam untuk salat tahajud. Semua pengalaman itu perlahan membentuk ikatan batin yang tidak mungkin tumbuh apabila setiap kali rindu datang, ia segera kembali ke pelukan rumah.

 

Dalam psikologi pendidikan, masa-masa awal memasuki lingkungan baru dikenal sebagai fase adaptasi, yaitu periode ketika seseorang sedang menyesuaikan diri dengan budaya, aturan, hubungan sosial, dan ritme kehidupan yang berbeda. Para ahli perkembangan seperti Erik Erikson menjelaskan bahwa pembentukan identitas yang matang lahir melalui proses menghadapi tantangan, bukan dengan menghindarinya.

 

Demikian pula teori grit yang dikembangkan oleh Angela Duckworth menunjukkan bahwa ketangguhan merupakan hasil dari ketekunan dan konsistensi menghadapi kesulitan dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks pesantren, empat puluh hari pertama merupakan laboratorium kehidupan, tempat santri belajar mengelola rasa rindu, mengatur emosi, membangun kemandirian, dan menemukan makna perjuangan.

 

Karena itu, ketika seorang santri baru berkata lirih, "Abi…, Umi…, aku ingin pulang," kalimat tersebut sesungguhnya bukan pertanda kegagalan. Itu adalah bahasa jiwa yang sedang bertumbuh. Hampir setiap santri pernah melewati fase tersebut. Yang sedang diuji bukan hanya keberanian anak, tetapi juga kebijaksanaan orang tua.

 

Jika setiap tangisan langsung dijawab dengan penjemputan, maka anak akan belajar bahwa setiap kesulitan selalu dapat dihindari. Sebaliknya, jika orang tua memilih mendoakan sambil tetap memberikan kepercayaan kepada guru, anak akan belajar bahwa setiap kesulitan dapat dihadapi.

 

Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka..." (HR. Sunan al-Tirmidhi). Hadis ini mengajarkan bahwa ujian bukan selalu tanda kebencian Allah, tetapi sering kali merupakan jalan menuju kematangan iman dan kepribadian.

 

Tradisi ulama terdahulu memberikan teladan yang jauh lebih berat. Imam al-Bukhari meninggalkan kampung halamannya untuk mengembara mencari hadis selama bertahun-tahun. Imam al-Nawawi menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk belajar dan mengajar dengan disiplin yang luar biasa. Imam al-Syafi'i berpindah dari Makkah, Madinah, Yaman, Baghdad, hingga Mesir demi memperdalam ilmu.

 

Mereka memahami satu prinsip yang kemudian dirumuskan para ulama: "Ilmu tidak akan diperoleh dengan badan yang dimanjakan." Imam Yahya ibn Abi Kathir pernah berkata: "Ilmu tidak akan diraih dengan tubuh yang selalu mencari kenyamanan." (Diriwayatkan oleh Sahih Muslim). Kalimat ini bukan glorifikasi terhadap penderitaan, melainkan penegasan bahwa ilmu menuntut kesungguhan, disiplin, dan kesabaran.

 

Menariknya, "tarikat empat puluh hari" sesungguhnya bukan hanya diperuntukkan bagi santri, melainkan juga bagi orang tua. Justru orang tualah yang sering kali mengalami ujian yang lebih berat. Anak belajar tidur tanpa pelukan ibu, sedangkan ibu belajar mencintai tanpa selalu memeluk.

 

Anak belajar mandiri, sementara ayah belajar melepaskan. Pendidikan pesantren bukan hanya mendidik santri, tetapi juga mendidik keluarga agar percaya bahwa proses pendidikan memerlukan ruang bagi guru untuk membimbing tanpa intervensi yang berlebihan. Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia.

 

Allah berfirman: "Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11). Rasulullah ï·º juga bersabda: "Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pendidik." (HR. Sunan Ibn Majah). Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan memerlukan kepercayaan kepada para pendidik yang mengemban amanah membina ilmu dan akhlak.

 

Mengapa empat puluh hari? Dalam tradisi Islam, angka empat puluh memang beberapa kali disebut dalam Al-Qur'an dan hadis dalam konteks yang berbeda, seperti usia kematangan (QS. Al-Ahqaf [46]: 15), masa Nabi Musa bermunajat (QS. Al-A'raf [7]: 142), atau beberapa riwayat tentang pembentukan manusia di dalam rahim.

 

Namun, para ulama tidak menjadikan angka tersebut sebagai ketentuan umum yang wajib diterapkan dalam pendidikan pesantren. penggunaan masa empat puluh hari di pesantren lebih tepat dipahami sebagai kebijakan pedagogis, bukan sebagai kewajiban syariat. Angka itu hanyalah simbol bahwa perubahan karakter memerlukan kontinuitas, fokus, dan kesempatan untuk beradaptasi.

 

Meski demikian angka 40 juga sering disebut dalam Al Qur’an. Dalam Al-Qur'an dan hadis, angka 40 muncul dalam beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan para nabi. Namun, penting dicatat bahwa tidak semua peristiwa tersebut berbentuk "40 hari", ada yang berupa 40 malam, 40 tahun, atau usia 40 tahun. Para ulama umumnya memandang penyebutan angka 40 dalam nash sebagai bagian dari konteks peristiwa tertentu, bukan sebagai dasar untuk menetapkan suatu ritual atau aturan umum.

 

Nabi Musa AS bermunajat selama 40 malam sebagai salah satu peristiwa yang paling jelas adalah ketika Nabi Musa dipanggil Allah untuk bermunajat di Bukit Thur yang terkait dengan angka 40 hari.

 

Allah berfirman: "Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, lalu Kami sempurnakan jumlahnya dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam." (QS. Al-A'raf [7]: 142)

 

Menurut Tafsir Ibn Kathir dan Tafsir al-Tabari, tiga puluh malam pertama kemudian disempurnakan menjadi empat puluh malam sebelum Nabi Musa menerima Taurat. Peristiwa ini menggambarkan masa persiapan spiritual yang mendalam sebelum menerima amanah besar.

 

Terdapat beberapa hadis yang menyebut angka 40, misalnya mengenai proses penciptaan manusia dalam rahim. Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari..." (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini berbicara tentang tahapan penciptaan manusia, bukan menetapkan amalan khusus selama empat puluh hari.

 

Tidak ada ayat Al-Qur'an maupun hadis sahih yang memerintahkan santri tidak boleh dijenguk selama 40 hari. Tradisi "40 hari" di pesantren merupakan kebijakan pendidikan (tarbiyah) yang bertujuan : (1) memberi waktu bagi santri beradaptasi dengan lingkungan baru; (2) membangun kemandirian dan kedisiplinan; (3) menumbuhkan kedekatan dengan guru, teman, dan budaya belajar; dan (4) mengurangi ketergantungan emosional pada keluarga pada masa awal pendidikan.  Dengan demikian, praktik tersebut bukan ibadah yang diwajibkan syariat, melainkan metode pendidikan yang dapat berbeda antara satu pesantren dan pesantren lainnya.

 

Pada akhirnya, rahasia terbesar dari empat puluh hari bukanlah tentang tidak bertemu orang tua, melainkan tentang lahirnya manusia baru. Seorang santri memasuki gerbang pesantren dengan membawa kebiasaan rumah, lalu perlahan dibentuk menjadi pribadi yang mencintai ilmu, menghormati guru, memuliakan adab, serta mampu mengendalikan dirinya.

 

Orang tua pun keluar dari fase itu dengan membawa pelajaran yang sama berharganya: belajar percaya, belajar bersabar, dan belajar menyerahkan pendidikan kepada orang-orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk membentuk generasi berilmu dan berakhlak.

 

Ketika empat puluh hari itu berlalu, yang pulang bukan sekadar anak yang pernah menangis karena rindu, melainkan jiwa yang mulai mengenal makna perjuangan. Sebab pesantren sejatinya tidak hanya mengajarkan cara membaca kitab, tetapi juga mengajarkan cara membaca kehidupan. Dan kehidupan, sebagaimana ilmu, selalu meminta harga berupa kesabaran sebelum menghadiahkan keberkahan.

 

Referensi

 

Al-Ghazali, A. H. M. (n.d.). Ihya' 'ulum al-din. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Al-Qur'an al-Karim.

Az-Zarnuji, B. (2003). Ta'lim al-Muta'allim Tariq al-Ta'allum. Dar Ibn Kathir.

Duckworth, A. (2016). Grit: The power of passion and perseverance. Scribner.

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. W. W. Norton.  

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No. 1405/29/07/26 : 06.04 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

1 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
  1. Anak yang sholih sebagai investasi akhirat terbesar untuk kedua orang tua, butuh pengorbanan dan perjuangan panjang. Sehat berkah selalu syaikhuna

    BalasHapus

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad